Membuncah

January 31st, 2012 § 1 Comment


Jika Anda mencari “membuncah” di internet, di antara hasil yang Anda temukan adalah kata itu ada di contoh-contoh kalimat judul berita/artikel ini: “Pakai Maxi Dress, Payudara Vanessa ‘Membuncah’”, “Keharuan Membuncah saat ABK Costa Concordia Bertemu Keluarga”, “Fantasi Seks Bikin Gairah Membuncah”, “Hasrat Islam Membuncah, Mualaf Muda Hafal 2 Juz Al Qur’an”.

Dari contoh-contoh itu, saya menebak Anda akan memahami kata itu dengan semakna: menyembul; tumpah; tercurah; “meledak” … atau seperti apa Anda membuat padanannya. Intinya, sesuatu yang membuncah adalah sesuatu yang tak tertampung dan tertahan oleh wadah, sebab sesuatu itu telah penuh (atau « Read the rest of this entry »

Ali dan Pemuda Galau

December 29th, 2011 § Leave a Comment


Saya nukilkan kisah lain tentang Ali ibn Abi Thalib. Kali ini dari buku Destiny Disrupted: A History of The World through Islamic Eyes karya Tamim Ansary, seorang sejarawan dan sastrawan dunia kelahiran Afghanistan—yang telah diindonesiakan Penerbit Zaman dengan judul Dari Puncak Bagdad: Sejarah Dunia Versi Islam.

Kisah tentang keberanian, keromantisan, dan religiositas.

Dalam satu pertempuran penting pada masa-masa awal Islam, seorang pemuda menyongsong Ali dengan berapi-api, matanya tajam, kedua ujung alisnya hampir berpautan, dan tangannya mengayunkan pedang. Mereka lalu berhadap-hadapan. « Read the rest of this entry »

Juman’s Daughter

November 25th, 2011 § Leave a Comment


Anakku, kelak, jika dewasa, kamu perlu membaca ini.

Ini hanya tentang namamu.

Nama depanmu Kimya. Menurut bahasa Swahili (bahasa yang digunakan di sepanjang 1.500 km garis pantai Afrika Timur), Kimya berarti hening. Dan hening lebih dekat kepada malam. Maka, tepatlah nama itu untukmu; kamu lahir lima menit menjelang tengah malam saat satu belahan dunia berselimut gelap dan kebanyakan orang tengah terlelap.

Tapi, itu hanya kebetulan. Bukan karena lahir menjelang tengah malam yang hening lalu kamu diberi nama Kimya. Ilham sesungguhnya nama itu dari tokoh utama di novel berjudul « Read the rest of this entry »

Sepasang Sandal dan Sepenggal Kisah Musa

November 18th, 2011 § Leave a Comment


Aku pernah berduka sebab tak memiliki sepatu, sampai pada suatu ketika aku berjumpa dengan orang yang tak memiliki kaki. (Filsuf China)

Sebagaimana dari kekasih, belenggu rindu, cucuran hujan, rerintik gerimis, butir-butir pasir, pesona purnama, gulita mendung, kelam malam, senja … Anda bisa berpikir tentang hal paling romantis dari sepasang sandal: sandal adalah simbol kesetiaan cinta. Sebelah sandal yang musnah menjadikan sebelah yang lain tak berarti sama sekali, betapa pun ia masih bagus dan kuat. Jiwa rapuh dalam diri yang tangguh.

Sebab itulah sepasang sandal itu masih di sisi. Saya jadi melankolis pada benda mati itu, justru saat ia tak lagi berguna. Padahal, mungkin saja, jika sepasang alas kaki itu bisa berucap, ia akan berkata kepada saya, “Fungsiku usai. Saatnya kembali melebur « Read the rest of this entry »

Sebuah Rumah Kontrakan

November 18th, 2011 § Leave a Comment


Sebuah rumah kotrakan sederhana di pinggiran Jakarta; yang tembok depan dan ruang tamunya bercat hijau terang, kamar tidurnya yang cuma satu bercat merah muda, dan ruang belakang tempat dapur dan kamar mandi berada bercat biru; yang akan tampak cukup sesak dan terasa sangat pengap jika meja dengan beberapa kursi dan rak buku serta televisi 20 inchi dijejalkan di ruang tamu itu, dan satu ranjang tidur dengan kasur berukuran dobel dan lemari berukuran sedang dimasukkan ke kamar tidur yang cuma satu-satunya itu, serta kulkas dua pintu dan kompor gas dua tungku diletakkan di bagian ruang belakang itu; yang tetapi tetap asyik jika untuk bercinta.

Tujuh kata terakhir itulah yang terpenting.

Ciputat, 06.04.10

Lailatul Qadar Bukan Peristiwa Alam

August 18th, 2011 § 1 Comment


Lailatul qadar adalah fenomena pengalaman spiritual yang melintasbatasi waktu dan tempat. Meski teks-teks agama menyuratkannya sebagai “peristiwa alam” dan “peristiwa waktu”. Tengok saja ayat lailatul qadar yang terkenal itu: Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Quran pada malam “qadar”. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar  (al-Qadr: 1 dan 5).

Bahkan, teks hadis menunjuk lebih spesifik kapan “malam” itu terjadi. Rasul menyatakan, “Aku pernah dipertemukan dengan lailatul qadar, hanya saja aku lupa kapan peristiwa itu terjadi. Tapi, cobalah kalian mencarinya pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, terutama pada bilangan ga « Read the rest of this entry »

Laik dan Layak

August 16th, 2011 § Leave a Comment


Dua kata bahasa Indonesia yang mempunyai dua arti berbeda secara spesifik, yang merupakan serapan dari satu kata bahasa Arab adalah “laik” dan “layak”. Asal keduanya dalam bahasa Arab adalah lâ’iq” yang artinya “pantas”, “sesuai/cocok dengan”.

Dalam KBBI, ”laik” (adjektiva) artinya “memenuhi persyaratan yg ditentukan atau yg harus ada; patut; pantas; layak” dengan penggunaan spesifik seperti dalam contoh: “laik jalan” (memenuhi persyaratan yg ditentukan serta aman untuk dikendarai di jalan [tt truk, bus, mobil, dsb]), “laik laut” (memenuhi persyaratan yg ditentukan serta aman untuk berlayar di laut [tt kapal penumpang dsb]), “laik pakai” (memenuhi persyaratan yg ditentukan serta aman untuk « Read the rest of this entry »

ilahi atau Ilahi (i kecil atau I BESAR)?

August 5th, 2011 § Leave a Comment


Mengoreksi naskah dan menemukan kalimat: …  keduanya berjalan seiring, sejalan, dan serasi dalam jalinan Ilahi. 

Fokus ke “Ilahi” … KBBI sudah benar dengan memberi dua arti untuk kata itu (sesuai dengan arti dari bahasa aslinya, bahasa Arab): 1) ”Tuhanku” (sebagai nomina), 2)  ”mempunyai sifat-sifat Tuhan” (sebagai adverbia).

Dengan terlebih dahulu tahu ingin bermaksud menyatakan “ilahi” sebagai nomina atau adverbia, kita tahu dengan i kecil (ilahi) atau I BESAR (Ilahi) kita menuliskannya. “I” Besar (Ilahi) untuk nomina, artinya Tuhanku, Allahku. seperti dalam doa: Ilahi, anta maqsudi, waridaka mathlubi … Ilahi, Kaulah « Read the rest of this entry »

Iblis Ingin Bertobat

August 1st, 2011 § Leave a Comment


Jika manusia mengalami ketidaktetapan iman: saat suatu ketika ia merasa begitu dekat dengan Tuhan dan pada saat yang lain secara tak sadar ia mengabaikan-Nya, maka iblis pernah lelah dengan pembangkangannya kepada Tuhan. Ia merasa perlu menyudahi permusuhan dengan-Nya. Ia ingin bertobat.

Niat tersebut iblis utarakan kepada Musa, berharap Musa mau membantu. Iblis tahu, hanya Musa yang bisa bercakap-cakap secara langsung dengan Tuhan, seperti yang pernah Musa lakukan saat ia meminta Tuhan menampakkan diri, tapi Tuhan menolak: bukan karena Ia tak mau atau tak mampu, melainkan karena diri-Nya terlalu perkasa untuk « Read the rest of this entry »

Mendekati Tuhan dengan Air Mata

June 10th, 2011 § Leave a Comment


Yang tak pernah merasakan sakitnya berbuat nista,

takkan pernah merasakan nikmatnya mendekati Tuhan dengan air mata.

 

9.6.11