Aku akan memercayaimu
seperti kutaruh segenggam pasir
di telapak rapat tangan kiriku yang terbuka.
Kupersilakan engkau menengadah pada kelam malam,
seperti kubiarkan engkau memandang terang langit siang.
Kau akan kututup dengan tangan kananku hanya bila angin berembus kencang.
Aku Akan Memercayaimu
9 11 2009Komentar : Leave a Comment »
Tag: pasir, pusi, sajak, sastra
Kategori : Silat Kata
Api
9 11 2009Setitik api tumbuh berkobar memanggang kayu.
Kayu terpanggang, dilalap dilepeh menjadi abu,
menyisakan diam yang kusam dan suram:
ke mana api menjelma padam?
Kemang, 06.11.09
Komentar : Leave a Comment »
Tag: api, puisi, sajak, sastra
Kategori : Silat Kata
Dalam Perjalanan Siang
6 11 2009Jika dalam perjalanan siang ini
engkau mencerca matahari sebab sengat teriknya,
setelah dalam perjalanan pagi
engkau terlena oleh pesona hangat sinarnya,
aku akan mengingatkanmu tentang sebuah malam
yang penuh rindu, saat aku mengingatkanmu tentang takrif cinta.
Ciputat, 01.11.09
Komentar : 1 Komentar »
Tag: cinta, malam, puisi, rindu, sajak, sastra, siang
Kategori : Silat Kata
Kuceritakan Padamu
6 11 2009Aku memintamu bertahan dalam pelukan tubuhku yang merinding
oleh kelam mendung hitam dan gelegar ayunan halilintar:
akan kuceritakan padamu tentang sejuk hujan.
Aku memintamu bertahan dalam dekapan tubuhku
yang menggigil oleh dingin terpaan-hujan bertubi:
akan kuceritakan padamu tentang indah pelangi.
Kemang, 04.11.09
Komentar : 1 Komentar »
Tag: hujan, pelangi, puisi, sajak, sastra
Kategori : Silat Kata
Antologi Status [6] dan Serial Status Spesial Miyabi
4 11 2009Status-status pilihan yang ditulis dalam rentang 21 Oktober – 2 November 2009
—————————————————————————————————–
Yang kupercaya adalah kata. Telah dan akan kutitipkan diriku padanya. Darinya, engkau membaca diriku, dan aku tak peduli, jika kemudian engkau mendustakan. Tapi, aku ingin mengatakan, kata seringkali mendahului laku. [21 Oktober 2009/11:35 WIB]
Tidak ada yang lebih menyebalkan dan membosankan bagi sesosok Iblis daripada menunggui tidur seorang pendosa, sehingga ia menggerutu kesal, “Sial! Kapan orang ini bangun?! Aku tak sabar mengajaknya bernista-nista ria.” [21 Oktober 2009/15:25 WIB]
Biarkan pikiranmu mengembara. Biarkan jiwamu berkelana. Tak tahukah kau, setitik tahi menitik di air menggenang, mencemari. Seonggok sampah terjatuh di sungai, hanyut bersama aliran. [22 Oktober 2009/06:10 WIB]
Kekasih, kapan kauberi mataku waktu menenangkan diri?! Di sisimu, aku menangis takut kehilanganmu. Jauh darimu, aku menangis merindukanmu. Kapan kauberi mataku waktu menenangkan diri, Kekasih?! [22 Oktober 2009/17:59 WIB]
Untukmu yang meyakini tentang tujuan: ikutilah jejak langkah air, mengalir berakhir di hilir, lalu ke laut. Bukan udara, bukan api, bukan tanah. Untukmu yang meyakini tentang tujuan: ikutilah jejak langkah air. Sebab, melawan arus untuk kembali ke hulu adalah kembali kepada ketiadaan. [23 Oktober 2009/16:33 WIB]
Sekobaran api yang padam, ke mana cahayanya menghilang? [25 Oktober 2009/20:35 WIB]
PERHATIAN: Status gombal jauh lebih menarik daripada status gembel. Lagi pula, menggombal tak mengakibatkan rambut gimbal. [26 Oktober 2009/10:40 WIB]
Iblis hanya membenci ayah kita, Ayah Adam. Sedangkan denganku, denganmu, dengan seluruh anak-cucunya, sungguh, Iblis benar-benar ingin berteman. [26 Oktober 2009/14:21 WIB]
Akulah jiwamu. Sangat dekat. Melebihi segala yang dekat. Kenapa engkau merindu?! [26 Oktober 2009/16:43 WIB]
Senja hari ini telah berlalu. Senja esok belum tentu melaju. Yang ada hanyalah malam, kini. Peluklah kelamnya, jangan kaulepaskan. Melepaskannya, kau menyudutkan diri dalam ketiadaan. [26 Oktober 2009/18:38 WIB]
Karena cantikmu tak abadi, semata kepada rasa maka kata-kataku mengabdi. Kecantikan datang dan pergi, kata-kataku tak pernah mati. [26 Oktober 2009/23:16 WIB]
Untukmu yang mengabdi kepada rasa: nalarmu adalah tongkat pemandu bagi mata-rasamu yang buta. Kepadamu yang berpegang pada nalar: rasamu adalah bunga-bunga indah penghias jalan setapak nalarmu yang berbatu. [27 Oktober 2009/06:06 WIB]
Tidak ada wanita yang tak ingin disayangi, seperti tidak ada pria yang tak ingin dihormati. Dengan menyayangi, seorang pria menunjukkan rasa hormat kepada wanita. Dengan menghormati, seorang wanita menunjukkan rasa sayang kepada pria. Adalah kesempurnaan, pria dan wanita menyatu. [28 Oktober 2009/22:35 WIB]
Jika merindu ini untuk wajahmu yang ayu, aku sangat paham, kelak ia layu. Bila merindu ini untuk wajahmu yang manis, aku sangat mengerti, kelak ia terkikis habis. Jika merindu ini untuk hatimu yang sedang merindu, o, Tuhan, tolong kait-pautkan rinduku dan rindunya, seperti telah Engkau kait-pautkan kelam dan malam. [28 Oktober 2009/19:09 WIB]
Keberuntungan dapat keluar dari beragam pintu. Tapi, cukup satu pintu kauketuk untuk mendapat kebahagiaan: hatimu! [29 Oktober 2009/06:02 WIB]
Jika kau dan aku berdua, setan akan menjadi yang ketiga. Diamkan dan jangan hiraukan. Biarkan saja ia cemburu melihat kita bercumbu memadu cinta, Kasih. [29 Oktober 2009/15:33 WIB]
Semata Tuhan yang pantas kurindui rasa, karena Ia tak elok mewujud dalam rupa. Tapi, engkau bukan Tuhan Yang Sempurna. Engkau manusia biasa. Tak hanya rindu rasa, maka, kepadamu aku rindu rupa. [30 Oktober 2009/11:34 WIB]
Soal rindu, betapa kepadamu aku adalah pemurah hati. Tuhan hanya kuberi satu rindu: rindu rasa. Sementara engkau kuberi dua: rindu rasa, rindu rupa. [30 Oktober 2009/19:00 WIB]
Ingatlah, Kekasih! Terik yang menyengat kulit dalam perjalanan siang ini berasal dari matahari yang sama, yang setiap pagi memberimu cahaya kehangatan. [01 November 2009/13:57 WIB]
Kasih sayang Tuhan itu serupa binar bulan berparas purnama … Kuajak engkau sebentar memandang langit malam ini, lalu jawablah dengan hatimu: kepada siapa binar mata purnama itu menatap? [01 November 2009/19:41 WIB]
Belaian tangan yang kutitipkan pada semilir angin sejuk dan cahaya hangat mentari pagi untuk membelai lebat rambutmu, telah hilang terpanggang terik siang. Kecupan manis yang baru saja kutitipkan pada senja untuk menitik keningmu, sebentar bakal tenggelam dalam kelam alam malam. Tapi, percayalah! Bersama desir-desir pasir waktu dan detak-detak detik masa, rasaku selalu memeluk jiwamu. [02 November 2009]
* * *
Serial Status Spesial Miyabi:
Anda tahu MIYABI? Tahu? Bagus kalau begitu. Selanjutnya, apakah Anda tahu MIE AYAM? Tahu juga? Ya, itu memang makanan favorit bagi sebagian orang. Nah, sekarang, apakah Anda tahu persamaan MIYABI dan MIE AYAM? Anda cukup bilang “tidak tahu” maka saya akan beri tahu. Persamaan MIYABI dan MIE AYAM adalah keduanya enak dinikmati selagi hangat. [07 Oktober 2009/12:18]
Wahai orang-orang! Menonton aksi Miyabi pakai nafsu, tapi menolak kehadirannya ke Indonesia jangan pakai nafsu. [12 Oktober 2009/01:13 WIB]
Kawan-kawan, cawet dan kutang adalah simbol kehormatan, pelindung bagian paling terjaga dari seorang wanita. Maka, tidakkah kalian sebaiknya tersinggung, Wahai Para Wanita, jika cawet dan kutang dibakar sebagai simbol penolakan pornografi dan pornoaksi?! Bukankah saat kalian mengenakan keduanya adalah dalam rangka menjaga dan melindungi, bukan melakukan pornoaksi?! [13 Oktober 2009/16:49 WIB]
Seorang Miyabi mereka sebut sebagai penghancur moral bangsa. Ada jutaan ulama, pendeta, pendidik, atau apalah Anda menyebutnya, di sini, sejak dulu. Apakah mereka menganggap remeh para penganjur agama dan moralitas itu? Sepertinya ada yang salah dengan cara berpikir. Atau, jika tidak, cara berpikir seperti itu berlebihan. [14 Oktober 2009/10:45 WIB]
Dua orang menghadap Tuhan. Orang pertama berdoa, “Tuhan, setiap melihat Miyabi, aku tak kuasa menahan nafsu, hasrat menjadi liar. Tolong, ampuni aku dan beri aku kekuatan menahan syahwat.” Orang kedua berdoa, “Tuhan, setiap melihat Miyabi, aku selalu jijik, selalu ingin mengutuknya. Tolong, ampuni aku dan beri aku kekuatan menahan amarah.” Lalu, dua orang itu pun pulang ke rumah masing-masing dengan jiwa tenang dan lega. [14 Oktober 2009/13:12 WIB]
Anda pikir Maria Ozawa a.k.a Miyabi itu tidak jadi datang ke Indonesia? Maaf, Anda salah! Miyabi sudah ada di negeri kita, hanya saja sedang disembunyikan oleh orang-orang tertentu untuk tujuan-tujuan tertentu, sesuai dengan skenario film “Menculik Miyabi”. Namanya sedang diculik, ya, tentu saja yang tahu tepat keberadaan Miyabi saat ini cuma para penculiknya. [27 Oktober 2009/11:23 WIB]
Komentar : Leave a Comment »
Tag: antologi, facebook, maria ozawa, Miyabi, Silat Kata, status facebook
Kategori : Antologi Status Facebook JR
Sudah Kuingatkan!
30 10 2009Sudah kuingatkan,
berpeganglah erat-erat.
Jangan biarkan dirimu jatuh, Hati!
Sungguh, berpeganglah erat-erat.
Bila jatuh, engkau mudah patah, Hati!
Berpeganglah erat-erat. Sungguh!
Jika patah, engkau akan sakit, Hati!
Sudah kuingatkan!
Sungguh, benar-benar sungguh
sudah kuingatkan.
Komentar : 1 Komentar »
Tag: hati, puisi, sajak, sastra
Kategori : Silat Kata
Telah Kukirim
22 10 2009Telah kukirim
sekadar nyala lilin untukmu,
pada kelam hari. Apakah kau sudah menjawab diamnya:
ke mana wajah cahayaku menghadap?

Komentar : Leave a Comment »
Tag: puisi, sajak, sastra, wajah tuhan
Kategori : Silat Kata
Antologi Status [5]
21 10 2009Status-status pilihan yang ditulis pada rentang 1- 20 Oktober 2009
————————————————————————–
Masa lalu menjadi romantika atau trauma, masa depan menjadi harapan atau ancaman, akan memengaruhi apakah masa kini kau bahagia atau menderita. [1 Oktober 2009/20:24 WIB]
Karena kasih sayang itu anugerah Tuhan serupa hujan tak bermata, membasahi apa saja di wajah bumi: lembah landai hijau oleh rerumputan atau pun bukit terjal bebatuan. Dimangsa masa, kini, hijaumu tinggal sisa. Dan sebab anugerah kasih sayang, kekasih akan tetap di sisi. [2 Oktober 2009/19:55 WIB]
Sebagaimana buah kerja mereka: kekayaan dan popularitas, buah hati mereka: putra dan putri, pun bahkan tak dapat menyelamatkan dan menyatukan tenunan cinta mereka yang terurai. Entah bagaimana mereka berdua merajutnya, dulu. [3 Oktober 2009/14:53 WIB]
Sedang tak sepemahaman. Aku hendak kencan, Tuhan menghendaki hujan. Kompromi terus diusahakan agar terwujud saling pengertian. [4 Okotber 2009/12:14 WIB]
Terima kasih, Tuhan. Terima kasih, Hujan. Terima kasih, kau tak menjadi pihak yang ketiga dalam kencan ini, Setan. [4 Okotber 2009/17:46 WIB]
Jika perasaanmu berhasrat mencintai sosok lain, namun kau tetap bertahan di sisi kekasihmu, itu karena pikiranmu jernih. [5 Okotber 2009/00:17 WIB]
Awan-awan bergerombol. Wajah mereka kelam, seram. O, Tuhan, jangan kautitipkan atau bahkan sekedar menceritakan meski sedikit amarahmu pada mereka. Aku takut, mereka salah paham, lalu dengan geram akan mengayun-ayunkan halilintar, menebar badai. Jika marah dan Kau tak mau menyimpan sendiri amarahmu, ceritakan saja pada hatiku. Jika mampu, akan kusimpan itu. [5 Okotber 2009/16:23 WIB]
Selain dengan hati jernih, merenunglah dengan pikiran canggih. Agar tidak menjadi perenungan yang menyesatkan. [6 Oktober 2009/17:02]
Dan, selain dengan pikiran canggih, berpikirlah dengan hati jernih. Agar tidak menjadi pemikiran yang meresahkan. [6 Oktober 2009/17:49 WIB]
Baiklah, Gadis. Abaikan kata-kataku dan tatap dua mataku. Jika kata-kata rayuku tak membuatmu meluruh, mungkin mata sayuku akan membuatmu bersimpuh. [6 Oktober 2009/19:34 WIB]
Sebab Wanita, tak pernah sudah kata-kata. Karena Gadis, rayuan manis tak kunjung habis. [6 Oktober 2009/21:55 WIB]
Aku jatuh tersandung pesonamu, luruh tersimpuh di serambi hatimu. Tolong, raih aku, papah aku, dampingi aku. Sandungan pesonamu dan benturan hatimu membuatku tak mampu kembali berdiri kecuali bersamamu. [7 Oktober 2009/06:07 WIB]
Aku akan selalu berusia 20 tahun. Ada pun selanjutnya hanyalah tambahan-tambahan. [7 Oktober 2009/08:35 WIB]
Jangan marah bila Tuhan tak menjawab doamu. Sebab, semudah menjawab, Ia juga mampu tak menjawab doa. [7 Oktober 2009/10:45 WIB]
Sekali-kali, tengoklah catatan-catatan masa lalu. Pastilah kau akan mendapati catatan yang perlu kausunting. [7 Oktober 2009/14:29 WIB]
Pesan untuk para penggombal: [1] Jika tak bisa menggombal dengan baik maka diam tak lebih buruk. [2] Jika menggombal dengan kata-kata terbaik pun selalu gagal, mungkin karena wajamu terlalu buruk. [8 Oktober 2009/11:29 WIB]
Bertemu denganmu aku malu. Berpisah denganmu aku rindu. Bagaimana kalau kita menikah saja, mau? [8 Oktober 2009/14:08]
Dalam Bahasa Jawa, seorang istri disebut “garwa”, akronim dari “sigaring nyawa” atawa “belahan jiwa”. Maka, jiwa lelaki belum sempurna hingga ia menemukan penyempurnanya; maka, lelaki yang mencampakkan kekasihnya adalah ia yang meruntuhkan kesempurnaan dirinya. [8 Oktober 2009/15:35 WIB]
Di depan buku, semua kautanggalkan kecuali nalar, seperti saat di hadapan Tuhan, semua kautinggalkan selain hati. [8 Oktober 2009/21:00 WIB]
Baiklah, Tuan! Seperti aku yang menikmati kemiskinan ini, sebaiknya kau menikmati kekayaan itu, sebelum kemiskinanku dan kekayaanmu menjadi kenangan. [9 Oktober 2009/10:53 WIB]
Setelah itu, ia bertanya serius kepada kekasihnya, “Sekarang kau tinggal pilih: hartamu atau aku?” Si kekasih menjawab, “Aku pilih hartaku.” Ia pun lantas pergi dan hilang ditelan tikungan, meninggalkan si kekasih. Sendiri, berdiri di atas mata berkaca, si kekasih berkata dalam diam, “Andai saja kau tahu, kaulah harta itu.” [9 Oktober 2009/15:56 WIB]
Jika ada dua tema yang sama, percayalah, pembaca akan memilih yang terajut dengan benang kata-kata indah, yang aliran kalimatnya membuaimu, mengantarkan matamu melanjutkan baca pada paragraf selanjutnya, selanjutnya, dan selanjutnya sampai pada titik penghabisan. Maka, tak ada alasan bagimu untuk sekadar tak meletakkan titik dan koma dengan benar. Buku adalah kota ilmu, kata adalah gerbang masuknya. [9 Oktober 2009/19:27 WIB]
Beragama dengan ketajaman nalar dan kedalaman hati, secara riang gembira ria. Selain demikian, seperti apa lagi?! [10 Oktober 2009/01:48 WIB]
Sabtu, saat aku begitu terpasung rindu. [10 Oktober 2009/08:18 WIB]
PENGGOMBAL GAGAL, ia yang kata-katanya tak membuat target luruh. PENGGOMBAL SIAL, ia yang wajah buruknya membuat target tak sudi bersimpuh. PENGGOMBAL ANDAL, ia yang kata-katanya, atau wajahnya, atau kedua-duanya, membuat target luruh bersimpuh. [10 Oktober 2009/15:01 WIB]
PERINGATAN: menggombal tak menyebabkan rambut gimbal. [10 Oktober 2009/18:44 WIB]
Dalam sebuah mimpi diceritakan aku berkencan dengan seorang gadis. Setelah itu aku ditanya oleh temannya, ” Kamu serius menyukainya?”. Aku jawab, “Tentu saja.” Si teman kemudian memberi tahu, “Sudah empat lelaki yang naksir dan pernah mengajaknya kencan. Kamu yang kelima dan satu-satunya yang tak ditolaknya.” [11 Oktober 2009/10:12 WIB]
Sampai akhirnya, dengan nada pasrah dan ancaman, ia berkata kepada istrinya, “Jika kau berniat meninggalkanku sebab aku tak lagi tampan dan kaya, ketahuilah, lelaki tampan dan kaya yang kau maui pun barangkali akan lebih memilih wanita yang masih menawan.” [11 Oktober 2009/14:45 WIB]
“Kekasih, kau tahu, apa yang kuminta kepada Tuhan selepas sembayang tadi?”
“Tidak. Kau meminta apa?”
“Aku meminta agar Ia memanggilku lebih dulu sebelum engkau.”
“Hei, Sayang, kenapa kau berkata demikian?! Kau membuatku sedih.”
“Aku serius. Tak bisa kubayangkan bila kau yang dipanggil lebih dulu. Sebab, tak sedetik pun aku dapat hidup tanpamu.” [11 Oktober 2009/19:08 WIB]
“Sebaiknya, nanti kau tak kirimi aku undangan pernikahanmu.”
“Iya, aku paham, Mas. Aku minta maaf. Sungguh, aku benar-benar minta maaf. Aku membuatmu kecewa … Aku benar-benar tak berdaya. Aku minta maa …”
“Sebentar, sebentar! Maaf, bukan karena soal itu. Aku sekarang sudah pindah kost. Dan, masih belum hapal alamat kost baruku itu. Khawatir saja undanganmu tidak sampai.” [12 Oktober 2009/08.04 WIB]]
Jika Anda berkata kepada kekasih Anda bahwa ia menawan dan rupawan–lalu ia senang–meski sesungguhnya kekasih Anda itu adalah seorang buruk rupa, maka, dengan sepenuh hati, saya menyarankan: lanjutkan kebohongan Anda! [12 Oktober 2009/14:34 WIB]
Setiap kita adalah gembala dua serigala yang bersemayam dalam diri: serigala baik dan serigala jahat, yang setiap saat selalu bertempur dengan kejam. Serigala mana yang akan menjadi pemenang adalah ia yang selalu kauberi makan. [12 Oktober 2009/17:53 WIB]
Membahagiakan orang lain itu seperti kau menyinari cermin di hadapan: sinarnya akan memantul, kembali kepada sumber sinar. [12 Oktober 2009/21:52 WIB]
Kedermawanan bukanlah engkau memberi makan anjing lapar, melainkan saat kau mau berbagi makanan dengan anjing sementara kau sendiri lapar. [13 Oktober 2009/05:55 WIB]
Seperti Muhammad yang merindu, Tuhan tuntaskan dengan Sabda. Seperti rasa yang merindu terbaca, kutautkan dengan kata: maukah kau menikah denganku, Kekasih? [13 Oktober 2009/17:38]
Tarikan napasnya rasa. Embusan napasnya kata. Mewujud puisi. [13 Oktober 2009/19:02 WIB]
Amarah dan akibatnya acap kali lebih buruk daripada penyebabnya. [13 Oktober 2009/21:31 WIB]
Karena gratis tak seperti merawat muka maka aku senang merawat kata. Kubiarkan jerawat menggawat asal tak parah, tapi takkan kubiarkan titik dan koma yang terletak salah. [15 Oktober 2009/08:09 WIB]
[Dua orang berbincang-bincang]
“Eh, Bu, kautahu anakku, kan? Berkat pendidikan agama yang ketat, sekarang jadi ustadz yang dihormati. Setiap berpapasan dengannya, orang selalu cium tangan.”
“O, iya. Bagus, Jeung. Eh, tapi kautahu anakku yang macho tapi playboy itu kan? Sekarang jadi model, digemari banyak wanita. Setiap wanita yang melihatnya, selalu berujar, ‘O, Tuhan, betapa sedemikian sempurna ciptaan-Mu.’ [15 Oktober 2009/12:59]
Seperti ketulusan mentari pagi: memancar menebar senyum-sapa bahagia tanpa peduli apakah kau mau membalas senyum-sapanya atau sama sekali tidak. Yang ia tahu, berbagi bahagia itu membahagiakan. [20 Oktober 2009/06:07 WIB]
Bagimu, Kekasih yang memercayaiku: jangan percaya pada kata-kata yang kupujikan untukmu. Bukan! Bukan karena kata-kataku terangkai dari huruf-huruf kebohongan, melainkan karena tak pernah sepenuhnya mampu menerjemahkan tentangmu. Bagimu, Kekasih yang memercayaiku: dekap rasaku; peluk hatiku. [20 Oktober 2009/17:55 WIB]
Komentar : Leave a Comment »
Tag: antologi, facebook, kalimat, kata
Kategori : Antologi Status Facebook JR
Aku dan Tuhan Bertaruh
21 10 2009Aku dan Tuhan bertaruh:
siapakah yang lebih sibuk?
Dan, kemudian …
Tuhan memaparkan kesibukan-Nya,
“Aku sangat sibuk: menyangga langit dan menjaga bumi,
menggilir bulan dan matahari, mengingatkan manusia tentang pagi …
sampai-sampai Aku tak bisa tidur. Sekadar mengantuk pun tak sempat.”
Tiba-tiba aku sudah merasa menang.
Komentar : Leave a Comment »
Tag: puisi, sajak, sastra, tuhan
Kategori : Silat Kata
Ingin Menjadi
18 10 2009Malam menjadi sempurna karena kelam,
seperti siang menjadi sempurna karena terang.
Aku ingin menjadi kelam penyelimut malammu,
Seperti aku ingin kau menjadi terang pengiring siangku.
Komentar : Leave a Comment »
Tag: cinta, malam, puisi, sajak, sastra, siang
Kategori : Silat Kata
Hari-hariku Adalah Definisi Rindu
11 10 2009Sabtu, saat aku begitu terpasung rindu.
Ahad, aku harus ada di sisimu.
Senin, senantiasa ingat namamu.
Selasa, selalu ada rasa.
Rabu, rasaku begitu menggebu.
Kamis, ketika aku menangis ingat senyummu.
Jumat, jangan ulangi menangisku, aku tak tahan.
Aku benci Minggu.
Sebab Minggu, membuat inginku terbelenggu.
Kemang, 10 Oktober 2009
Komentar : 1 Komentar »
Tag: cinta, hari, puisi, rindu, sajak, sastra
Kategori : Silat Kata
Musim Hujan
11 10 2009Awan-awan bergerombol.
Wajah mereka kelam, seram.
O, Tuhan, jangan kautitipkan
atau bahkan sekedar menceritakan
meski sedikit amarahmu kepada mereka.
Aku takut, mereka salah paham,
lalu dengan geram akan mengayun-ayunkan halilintar, menebar badai.
Jika marah dan Kau tak mau menyimpan sendiri amarahmu,
ceritakan saja pada hatiku. Jika mampu, akan kusimpan itu.
Kemang, 06 Oktober 2009
Komentar : Leave a Comment »
Tag: hujan, musim hujan, puisi, sajak, sastra
Kategori : Silat Kata
Si Tuli dan Kentut
6 10 2009Suatu ketika, Hatim didatangi oleh seorang perempuan yang hendak berkonsultasi tentang suatu hal. Berbarengan dengan saat bertanya, perempuan itu kelepasan kentut. Hatim lalu berkata, “Maaf, Anda bertanya apa? Mohon, angkat sedikit suara Anda agar saya dapat mendengarnya dengan baik.” Perempuan itu berpikir, Hatim ini memiliki pendengaran yang kurang baik, dan pasti tidak mendengar kentut barusan.
Selesai urusan, perempuan itu pun pulang dengan perasaan lega dan barangkali tak perlu terlalu malu kepada dirinya sendiri dan kepada Hatim.
Sejak peristiwa itu, tersebar kabar bahwa Hatim orang yang pendengarannya kurang baik. Dan, bukan hanya kabar angin, orang-orang pun mengetahui sendiri bahwa Hatim memang demikian. Lalu, orang-orang pun menjuluki Hatim dengan al-asham atau si tuli.
Sampai kemudian perempuan itu meninggal dunia. Hatim lalu menceritakan keadaan diri bahwa sesungguhnya ia tidak benar-benar tuli. Apa yang ia lakukan hanya kepura-puraan. Saat perempuan itu kentut di hadapannya, ia pura-pura tidak mendengar. Dan, ia berjanji, kepura-puraan itu akan ia jaga selama si perempuan masih hidup, semata karena tidak ingin membuat perempuan itu malu. Hatim ingin menjaga harga diri perempuan itu.
* * *
Abu Abdurrahman Hatim ibn Ulwan, itulah nama lengkapnya—seorang tokoh sufi dari negeri Khurasan, meninggal pada 237 H atau 851 M—atau lebih dikenal dengan nama Hatim al-Asham, Hatim Si Tuli.
[al-Risalah al-Qusyairiyyah fi 'Ilm al-Tashawwuf karya Imam al-Qusyairi]
Komentar : Leave a Comment »
Tag: agama, cerita, sufi, tasawuf
Kategori : Agama & Wacana
Sajak Si Tuli
6 10 2009Setiap saat,
setan selalu berbisik kepadaku,
‘Apa yang akan kaumakan?
Apa yang akan kaukenakan?
Dan, di mana kau akan tinggal?’.
Dan, selalu kujawab,
‘Yang akan kumakan adalah kematian.
Yang akan kukenakan adalah kafan.
Dan, aku akan tinggal di kuburan’.
———————————————–
Sajak Abu Abdurrahman Hatim ibn Ulwan, itulah nama lengkapnya—seorang tokoh sufi dari negeri Khurasan, meninggal pada 237 H atau 851 M—atau lebih dikenal dengan nama Hatim al-Asham, Hatim Si Tuli. Sajak ini diambil dari al-Risalah al-Qusyairiyyah fi ‘Ilm al-Tashawwuf karya Imam al-Qusyairi
Komentar : Leave a Comment »
Tag: puisi, sajak, sufi, tasawuf
Kategori : Silat Kata


Oleh-Oleh Pelanggan