Aku Bagimu (II)

8 02 2010

Aku bumi bagi langitmu,
ditautkan hujan sore hari.

Aku siang bagi malammu,
ditautkan senja bercahaya jingga.

Aku darat bagi lautmu,
ditautkan pantai dengan ombak yang tak lelah menari.

Aku puisi bagi rasa jiwamu,
ditautkan serangkai kata-kata sunyi.

Ciputat, 06.02.10

———————-

“Aku Bagimu (I)”, klik di sini.





Aku Ingin Berpuisi

8 02 2010

Aku ingin berpuisi dengan sederhana:
dengan makna yang takkan sempat diterjemah kata.

Aku ingin berpuisi dengan sederhana:
dengan rasa yang takkan sempat dijamah indera.

Aku ingin berpuisi, di hati.

—————————–
Efek “Aku Ingin” Sapardi Djoko Damono, penyair-cinta idola.





Aku Adalah Air Mata

8 02 2010

Aku adalah air mata:
menitik pada suka dan duka hatimu.

Ciputat, 7 November 2009
JR





Aku dan Kekasihku

13 01 2010

Aku dan Kekasihku berjalan di bawah purnama yang satu.
Ia menatap pesona yang mengawang di puncak sempurna.
Matanya berbinar seterang langit malam.
Setiap pejam di kejap matanya adalah rindu.

Aku dan Kekasihku berjalan di bawah purnama yang satu.
Kungenggam tangannya seerat kelam menggenggam malam.
Mataku memindai jalan dan mensyukuri terang penunjuk langkah.
Setiap ayunan di langkah kakiku adalah puji.

Aku dan Kekasihku berjalan di bawah purnama yang satu,
di antara penghayatan, ditautkan genggaman tangan.

Kemang, 12 Januari 2010





Islam di Amerika; Catatan Perjalanan Imam Besar Masjid Istiqlal

13 01 2010

Judul: Islam di Amerika
Penulis: Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub
Penerbit: Pustaka Darus-Sunnah
Tebal: 306 Halaman
Terbit: I, Desember 2009
—————————————————–

Sesuatu terpenting apa yang akan Anda bawa jika melakukan perjalanan? Kamera atau camcorder mungkin saja penting. Tapi, menurut saya, sebaiknya laptop atau paling tidak buku catatan. Dokumentasi berupa catatan—tentunya tak semua catatan—lebih memungkinkan kita untuk berbagi kepada banyak orang. Itulah yang dilakukan Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub. Perjalanannya selama kurang lebih tiga bulan di Amerika Serikat dan Kanada pada 2008 ia tuliskan dalam buku yang diberi judul Islam di Amerika.

Banyak yang dicatat oleh Imam Besar Masjid Istiqlal itu. Namun, sebagian besar adalah tentang masjid, Islamic Centre, dan komunitas Islam. Seperti tentang masjid bernama King Fahd di Los Angeles. Sesuai namanya, masjid itu dibangun atas biaya dari Raja Fahd pada 1998. Setelah peristiwa “Sebelas September”, masjid tersebut menjadi sasaran pengerusakan. Namun, ia tetap aman berkat penjagaan para pemuda muslim, bekerja sama dengan para pemuda gereja yang lokasinya tidak jauh dari masjid tersebut. Setiap hari, masjid itu tak lepas dari pengawasan para pemuda itu.

Dalam catatan lain, Guru Besar Ilmu Hadis di Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) Jakarta itu menuturkan, setelah tragedi “Sebelas September”, ratusan ribu orang Islam meninggalkan Amerika dan memasuki Kanada. Mereka adalah kaum intelektual. Kedatangan mereka disambut dengan baik oleh pemerintah Kanada. Mereka mendapatkan tempat tinggal. Dan, selama belum mendapatkan pekerjaan, mereka disubsidi oleh pemerintah Kanada. Di sana, orang-orang Islam begitu dihormati.

Pada mulanya, perjalanan tiga bulan di Amerika dan Kanada itu atas permintaan seseorang dari Cibubur yang pernah mengundang penulis buku ini untuk berceramah di tempat orang itu bekerja, atas kerja sama dengan Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) wilayah Amerika Utara. Awalnya, sesuai dengan rencana ICMI, sembilan kota akan dikunjungi, namun, pada kenyataannya membengkak menjadi lima belas kota: tiga belas di Amerika dan dua di Kanada, yaitu Washington DC, Philadelphia, New York, West Palm Beach, Miami, Oklahoma, Arkansas, Los Angeles, Chicago, San Francisco, Sacramento, Houston, Sugar Land, Toronto, dan Ottawa, dengan kurang dari empat puluh masjid dan atau Islamic Center yang dikunjungi. Di kota-kota itu, Kiai Ali menemui komunitas-komunitas Islam untuk berceramah, berdialog, dan berdiskusi.

Dalam pengamatan Kiai Ali, etnis-etnis yang mewarnai masjid-masjid di Amerika dan Kanada dapat dikategorikan menjadi tiga kelompok. Pertama, etnis-etnis dari anak Benua India, yaitu Pakistan, Afghanistan, Uzbekistan, India, Bangladesh, Srilangka, dan lain-lain. Kedua, etnis dari negara-negara Arab (Timur Tengah). Dan ketiga, etnis-etnis dari Asia Tenggara, yaitu Indonesia, Malaysia, Thailand, Myanmar, Kamboja, dan lain-lain.

Dari ketiga kategori itu, etnis-etnis dari anak Benua India, khususnya Pakistan, adalah yang dominan. Dan, sebab Mazhab Fikih yang dianut kaum muslim Pakistan dan India didominasi oleh Mazhab Hanafi, maka, wajar, bila Mazhab Fikih di Amerika pun didominasi oleh Mazhab Hanafi.

Berbagai hal menarik ditemui Kiai Ali dalam kunjungannya ke berbagai masjid di Amerika. Tidak seperti di Indonesia, tak sedikit masjid-masjid di Amerika adalah pengalih-fungsi. Tak jarang bangunan masjid yang semula adalah gereja, seperti Masjid al-Anshar di Miami Florida yang dikelola oleh orang-orang muslim berkulit hitam. Atau, Masjid al-Tauhid di San Francisco yang dikelola oleh orang-orang Islam asal Yaman. Juga Masjid Fiji, masih di San Francisco. Seperti namanya, masjid itu dikelola oleh orang-orang Fiji keturunan India.

Sedangkan di Ottawa, sebuah masjid bernama al-Salam pada awalnya adalah tempat diskotik milik orang Yahudi. Diskotik itu ditutup oleh pemerintah setempat sebab sering terjadi aksi kriminalitas, kemudian dibeli oleh orang Islam asal Somalia pada 2005.

Perkembangan Islam di Amerika menemukan momentumnya pada peristiwa “Sebelas September”. Dari seorang Indonesia asal Sumatera Utara yang menetap di New York sejak 1970, Kiai Ali mencatat, sebelum peristiwa “Sebelas September”, di New York City ada dua puluh lima masjid. Jumlah itu meningkat menjadi tujuh puluh masjid setelah peristiwa tersebut. Kita tahu, setelah peristiwa “Sebelas September”, Islam dihujat habis-habisan. Namun, hal itu justru semakin membuat orang-orang Amerika penasaran terhadap Islam, lalu tertarik untuk mengenal profil Islam. Saat ini, orang Islam di New York berjumlah sekitar satu juta dari sembilan juta jumlah penduduk New York.

Perjalanan Pengasuh Pesantren Luhur Ilmu Hadis Jakarta ini ke Amerika dan Kanada bukanlah perjalanan wisata. Perjalanan tiga bulan itu—termasuk di dalamnya adalah Ramadhan—merupakan perjalanan dakwah. Maka, selain berisi catatan perjalanan, buku ini juga melampirkan tema-tema ceramah yang disampaikan dalam perjalanan dakwah itu. Tema-tema itu berpokok pada sosok Nabi Muhammad.

Membaca buku ini, saya teringat pada sepenggal kalam ilahi dalam Kitab Suci,Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi (Yûnus: 101). Apa yang diperhatikan? Apa saja yang membuat mata batin tecerahkan dan meluaskan wawasan pikiran, lalu dapat kita bagikan.[]

islam di amerika





Setiap Pertemuan

13 01 2010

Setiap pertemuan hanya seusia kejapan senja.
Selebihnya adalah rindu yang diam,
membeku dalam kelam di pelataran malam.

Setiap pertemuan hanya seusia kejapan senja.
Selebihnya adalah rindu yang riang,
mengembang oleh terang di sepanjang siang.

Kemang, 30 Desember 2009





Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan

13 01 2010

Di bawah langit, Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan berkumpul dalam satu meja, menikmati hidangan yang tersedia seraya berbincang-bincang tentang kehidupan yang menapaki masing-masing.

Masa Lalu tampak bersemangat. Ia menceritakan pelbagai peristiwa penting dan sosok-sosok besar yang tercatat dalam sejarah. Membanggakan pencapaian-pencapaian mereka, kemegahan istana-istana mereka, kegagahan mereka dalam pertempuran, serta bermacam kenikmatan hidup yang menaungi mereka.

“Aku,” kata si Masa Lalu, “jadi tak terlalu puas ada pada masa kini, masa sekarang ini. Aku merasa lebih baik kembali pada masaku saja.”

Masa Depan tampak menggerakan kepala sampai kemudian menengadah. Di antara mata dan langit yang ia tatap hanya ada kekosongan. Sesekali saja awan tipis melintas terlihat malas, dan angin yang berembus tanpa wujud.

“Aku melihat kemuliaan, kekayaan, dan keberhasilan sedang berjalan dengan pasti menujuku,” kata si Masa Depan.

Katanya, lagi, “Aku melihat mimpi-mimpi yang akan menjelma nyata. Kehidupan yang makmur dan mudah sedang melangkah ke arahku.”

Masa Kini segera menyela begitu Masa Depan terlihat usai berbicara. Nada bicaranya terdengar mantap.

“Aku takkan menangisi masa yang telah berlalu. Juga takkan pernah menghabiskan setiap jengkal waktu sekadar untuk bermimpi …

“Kejayaan yang pernah ada pada masa lalu selesai sudah. Dan, kemakmuran yang diharapkan belum pula nyata.

“Ada pun hari ini adalah miliku. Nyata dalam genggaman tanganku. Siapa yang mampu menggenggam dan mengendalikan hari ini, masa sekarang kini, ia berarti telah mampu melewati masa yang telah berlalu. Juga, pada hakikatnya sedang mengarahkan diri ke masa depan.

“Rahasia keberhasilan adalah saat jantungmu tak berdetak sia-sia pada setiap jengkal detik waktu masa kini.”

Semua terdiam. Awan tipis lain tampak melintas. Masih malas. Angin lain juga berembus. Masih tanpa wujud.[]

Dari tulisan lima paragraf versi berbahasa Arab di halaman 137 berjudul al-Madhi wa al-Hadhir, wa al-Mustaqbal dalam buku Kalimat Tun’isyu al-Hayah karya El Azraq. Diterjemahkan–dengan sedikit penambahan suasana–oleh Juman Rofarif.





Aku Bagimu (I)

13 01 2010

aku bagimu seumpama jarum penunjuk detik bagi jarum penunjuk jam.
kadangkala lancang berlari kencang menjauhimu.
kadangkala di belakang tertatih-tatih mendekatimu.
dan, pada sesekali yang sebentar segaris menunggal denganmu.

aku bagimu seperti yang engkau tahu:
tak pernah melepas diri dalam liputan waktumu.

ciputat, 19.12.09





Senyuman

16 12 2009

Wajah adalah jendela kamar.
Dan, senyuman adalah mentari pagi yang merasuk di sela-selanya.

Tawa riang adalah siang. Diam adalah kelam malam.
Dan, senyuman adalah cahaya pagi yang menautkan keduanya.

Wajah yang yang tak tersenyum
serupa kuncup bunga yang tak kunjung mekar: layu di ranting yang kering.

———————————————————————–
Dari tulisan lima baris berjudul Ibtisam (Senyumandi halaman ke-232 dari buku berjudul Kalimat Tun’isyu al-Hayah karya El Azrak. Diterjemahkan oleh Juman Rofarif.





Antologi Status [7]

16 12 2009

Niscaya. Ada yang hilang, ada yang datang. Yang hilang, memberi hikmah. Yang datang, membawa berkah. Semoga. [6 November 2009/ 07:58 WIB]

Lakukanlah sesuatu yang mampu dikerjakan menurut ukuran diri sendiri, bukan berdasar ukuran orang lain. Sebab, jika orang itu di atas maka kita cenderung akan memaksakan diri. Jika orang itu di bawah maka kita cenderung akan membanggakan diri. [6 November 2009/13:54 WIB]

Seperti semangat berapi-api, sementara sekadar nyala lilin pengetahuan yang dimiliki. [7 November 2009/18:19 WIB]

Aku adalah air mata. Menitik pada suka dan duka hatimu. [7 November 2009/23:20 WIB]

“Menurut Anda, apa yang disebut suami, istri, rumah tangga?”
“Suami adalah lelaki penyempurna perempuan. Istri adalah perempuan penyempurna lelaki. Rumah tangga adalah tempat membangun kesempurnaan.”
“Maaf. Jawaban Anda terlalu umum. Lebih jelas lagi.”
“Baik. Jelasnya, suami adalah saya. Istri adalah anak Bapak. Rumah tangga adalah saya dan anak Bapak menikah.”
“Oke. Lamaran Anda diterima.” [8 November 2009/08:56 WIB]

Seperti untuk diriku, akan kulihat cara pergimu, [atau] sebagaimana akan kulihat sikapmu jika aku pergi. Ketulusan atau kepura-puraan akan jelas terlihat di akhir. [8 November 2009/15:16WIB]

Jujur, aku terpesona oleh wajahmu yang ayu. Sungguh! Foto-foto yang kau unggah di fesbuk membuat mataku tak berkedip dan hatiku dag-dig-dug. Namun, semua itu buyar setiap kali aku membaca statusmu yang tak pernah kau perbaharui itu. Wahai Kau Yang Ayu! Aku benci membaca statusmu: MENIKAH. [11 November 2009/08:03 WIB]

Jadilah pengatur waktu. Atau Anda yang akan diatur oleh waktu sehingga untuk diri sendiri Anda tak punya waktu. [12 November 2009/08:18 WIB]

Jadi, begini, Tuhan … Hampir setiap orang setuju, Engkau memberi apa yang dibutuhkan manusia, bukan memberi apa yang dimaui mereka. Sebab, Engkau lebih tahu kebutuhan terbaik mereka. Nah, berhubung aku tidak pernah tahu kebutuhan-terbaikku menurut-Mu, aku meminta agar Engkau berkenan mengabulkan kebutuhan terbaik menurutku saja. Jika tidak, ya, tak soal. Kuasa hanya ada pada-Mu. Amin. [12 November 2009/20:24 WIB]

Seperti mendung bergelayut di langit berhasrat turunkan sejuk hujan, rindu ini ingin segera kutumpahkan padamu. [13 November 2009/14:17 WIB]

Petunjuk istikharah datang di hati, bukan di mimpi. Aku akan terus maju mengayunkan langkah selama hatiku yakin dan tenang, meski dalam mimpi engkau tak pernah datang. Kuistikharahkan hatiku setiap waktu, untukmu. [13 November 2009/16:27 WIB]

Dua kaki sudah kumiliki. Aku hanya perlu arah untuk melangkah. Beri aku petunjuk, Tuhan. [14 November 2009/21:08 WIB]

“O, jadi ini yang punya nama fesbuk “Ayu Manis” itu. Apa kabar?”
“He-he-he … Iya, itu aku. Dan aku baik-baik aja.”
“Hmmm … Aku kira kamu seayu dan semanis namamu dan foto-fotomu di fesbuk. Ternya …”
“Ternyata aku tak manis dan tak ayu?!”
“Ya! Dan aku tertipu!”
“O, maaf.”
“Selain minta maaf, kamu juga harus mengubah namamu. Sebab, ternyata kamu tak hanya ayu dan manis, tapi sangat ayu dan manis sekali.” [16 November 2009/09:10 WIB]

Setulus kurma yang tak pernah menebar cerita rasa manisnya di udara. Seteguh parfum yang selalu menebar cerita wewangian meski yang ada dalam dirinya hanya pahit. [17 November 2009/15:33 WIB]

Hatiku tahu bahwa hatimu tahu tentang hatiku sebagaimana hatimu tahu bahwa hatiku tahu tentang hatimu bahwa hatiku dan hatimu telah menjadi kekasih … secara de facto. *Aku akan menjelma awan. Hati-hati mendaki bukit agar bisa menghujanimu pada suatu hari baik nanti*, lalu aku dan engkau akan menjadi kekasih … secara de jure. [17 November 2009/19:03 WIB]

Tahukah Anda tentang sebuah sisi lain, kenapa wahyu-wahyu penuntas rindu Muhammad selalu Tuhan sampaikan melalui Jibril atau lewat sasmita-sasmita alam? Ternyata, salam kangen, salam manis, atau salam romantika lainnya, akan lebih membahagiakan kekasih jika tak disampaikan secara langsung, tapi melalui pihak-pihak tepercaya. Seolah-olah alam ikut menyaksikan dan mengakui kisah kasih sepasang kekasih. [20 November 2009/08:09 WIB]

Air mengalir dari hulu ke hilir tanpa alasan. Sebab itulah air di hilir tak pernah punya alasan untuk kembali ke hulu. Aku akan mencintaimu seperti air mencintai hilir. [20 November 2009/00:03 WIB]

Kukumpulkan awan-awan kerinduan yang terserak di hati. Pada saat yang tepat, akan kujelma menjadi hujan pertemuan yang menyejukan. [20 November 2009/17:02 WIB]

Kekasihmu meneleponmu sepuluh kali per hari? Mengirim pesan-pendek setiap jam? Ah, kau mungkin senang. Kekasihmu penuh perhatian. Setiap waktunya hanya untukmu. Itu mungkin saja. Sebab, bisa jadi, ia lakukan itu karena sesungguhnya kekasihmu memiliki kepercayaan yang rapuh padamu. [22 November 2009/11:19 WIB]

“Neng!”
“Ya, Mas.”
“Jerawat kamu kok tidak segera hilang, sih?
“Iya. Bikin wajahku tak mulus, ya, Mas. Tapi, ini sudah kering, Mas.”
Iya. Selain bikin wajahmu tak mulus, jerawat itu bikin aku iri.”
“Iri bagimana, Mas?! Aneh. Jerawat, kok, membuatmu iri.”
“Jelas, aku iri. Memangnya aku tak mau, menempel terus di wajahmu, selalu dekat denganmu setiap waktu, dan sekali-sekali kamu usap-usap?!”
[22 November 2009/16:26 WIB]

Cinta bukanlah aku memandangmu dan engkau memandangku. Bukan! Cinta adalah engkau dan aku menyamakan pandangan pada satu titik. [24 November 2009/20:15 WIB]

Jika kutitip rindu pada air, pastilah ia membeku. Jika kutitip rindu pada angin, pastilah ia berhenti melaju. Jika kutitip rindu pada api, pastilah ia layu. Tidak! Tidak! Biar rindu ini kusimpan sendiri di kalbu. Biar kalbu ini bersimbah sendu. [25 November 2009/17:04]

Jika kekasihmu bertanya padamu “Apakah kau menyayangiku?”, itu tak selalu berarti ia meragukan kasih sayangmu. Ia bertanya seperti itu semata karena kata-kata “Aku menyanyangimu!” sungguh sangat luar biasa membahagiakan. [26 November 2009/14:45 WIB]

Saya pikir, istilah “DUDA” atau “JANDA” tak buruk jika diubah dengan “LAJANG SESI 2″. [27 November 2009/16:14 WIB]

Kebahagiaan lebih banyak didapat justru dari hal-hal yang tak penting. Jadi, jangan anggap tidak penting hal-hal yang tak penting. [28 November 2009/08:22 WIB]

Matahari Senin pagi ini begitu cemerlang. Lalu, aku dan dia pun bertaruh: siapakah yang sinar semangatnya lebih dulu redup? [30 November 2009/09:36]

Apakah kau akan mencintaiku pada musim hujan dengan sebesar cinta yang kauberi pada musim semi? Apakah kau akan tetap menciumku saat uban telah merimbun? Saat semua itu, apakah kau akan mengatakan, “Aku mencintaimu pada bulan Desember dengan sebesar cinta yang kuberi untukmu pada bulan Mei”? [01 Desember 2009/08:55 WIB]

Barangkali, tak sedikit yang mampu menyuguhkanmu kesempurnaan. Dan, jelas, aku tak termasuk dalam yang tak-sedikit itu. Sebab, setengah kesempurnaanku ada padamu. Bersamamu, aku justru hendak membangun kesempurnaan. [03 Desember 2009/21:23]

Jika tak pernah menangis, kau takkan mengerti arti tawa. Jika tak pernah merana, kau takkan mengerti arti bahagia. Jika tak pernah gelisah, kau takkan mengerti arti tenang. Jika tak pernah gagal, kau takkan mengerti arti berhasil. Jika tak pernah takut, kau takkan mengerti arti berani. Jika tak pernah salah, kau takkan merasakan nikmat mencoba … Jika tak pernah ragu, berarti kau tak pernah berpikir. [04 Desember 2009/11:26 WIB]

“Kasih!”
“Ya!”
“Kau tahu kenapa aku mencintaimu?”
“Kenapa?”
“Karena kau lelaki yang begitu mencintai Tuhanmu.”
“Benarkah?”
“Ya!”
“O, aku terharu. Terima kasih, Sayang. Dan, kau tahu, kenapa aku mencintaimu?”
“Kenapa?”
“Sebab, setiap aku bercinta dengan Tuhanku, Ia selalu membisik hatiku jika Ia begitu mencintaimu.”
[04 Desember 2009/17:02 WIB]

Hujan mempercepat kelam. Hari berkandang tanpa sempat pamit pada senja …. Dan, rindu ini seperti buta waktu. [05 Desember 2009/15:52 WIB]





Sunah Semesta

16 12 2009

Air melepas diri dari hulu karena merindu memeluk sungai.
Sungai menempuh jalan panjang demi menuntas rindu memeluk laut.
Di langit, awan dan angin telah berpelukan.
Tiada sesiapa menghendaki sendiri yang sepi.
Demikianlah sunah semesta.
Kemarilah, Kekasih! Peluk aku!

Bunga-bunga,
dahan-dahan,
burung-burung,
dan udara terselubung selimut peluk.
Mentari memeluk bumi dengan sinarnya pada siang hari.
Berganti bulan; membelai dan mencium bumi dengan cahaya pada kelam hari.
Semua itu tampak lebih indah saat menjadi latar penghias sepasang kekasih yang menyatu dalam peluk.

———————————————
Oleh Percy Bysshe Shelley [1792 - 1822], penyair terkemuka Inggris. Diterjemahkan dari versi Bahasa Arab berjudul ‘Inaq [Peluk] oleh Juman Rofarif.





Aku Akan Memercayaimu

9 11 2009

Aku akan memercayaimu
seperti kutaruh segenggam pasir
di telapak rapat tangan kiriku yang terbuka.
Kupersilakan engkau menengadah pada kelam malam,
seperti kubiarkan engkau memandang terang langit siang.
Kau akan kututup dengan tangan kananku hanya bila angin berembus kencang.





Api

9 11 2009

Setitik api tumbuh berkobar memanggang kayu.
Kayu terpanggang, dilalap dilepeh menjadi abu,
menyisakan diam yang kusam dan suram:
ke mana api menjelma padam?

Kemang, 06.11.09





Dalam Perjalanan Siang

6 11 2009

Jika dalam perjalanan siang ini
engkau mencerca matahari sebab sengat teriknya,
setelah dalam perjalanan pagi
engkau terlena oleh pesona hangat sinarnya,
aku akan mengingatkanmu tentang sebuah malam
yang penuh rindu, saat aku mengingatkanmu tentang takrif cinta.

Ciputat, 01.11.09





Kuceritakan Padamu

6 11 2009

Aku memintamu bertahan dalam pelukan tubuhku yang merinding
oleh kelam mendung hitam dan gelegar ayunan halilintar:
akan kuceritakan padamu tentang sejuk hujan.

Aku memintamu bertahan dalam dekapan tubuhku
yang menggigil oleh dingin terpaan-hujan bertubi:
akan kuceritakan padamu tentang indah pelangi.

Kemang, 04.11.09