Pahala Berkurban

30 July 2008 § 4 Comments


Oleh Juman Rofarif

Kolom “Hikmah” Republika, Senin, 2 Februari 2004

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu sebuah sungai di surga (al-kautsar). Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus. (al-Kautsar: 1-3).

Dalam satu riwayatnya, Imam Ahmad meriwayatkan perihal turunnya ayat di atas, shahabat Anas bin Malik telah berkata: Suatu ketika Rasul sedang berbaring istirahat. Tiba-tiba beliau terbangun dan tersenyum. Melihat tingkah Rasul demikian, para shahabat yang pada saat itu berada di sekelilingnya bertanya, “Mengapa engkau tersenyum, wahai Rasulullah?” Rasul kemudian menjawab, “Baru saja, Allah telah menurunkan sebuah surat kepadaku.”

Rasulpun membacakan surat yang dimaksud hingga selesai. “Apakah kalian mengerti apa yang disebut dengan al-kautsar itu?” kata Rasul memberikan pertanyaan kepada para shahabat yang hadir pada saat itu. “Allah dan Rasulnya yang lebih tahu,” jawab para shahabat. Rasul menjelaskan, “Al-Kautsar adalah sebuah sungai di surga yang memiliki banyak kebaikan, dan telah Allah berikan kepadaku.”

Dalam riwayat lain, Rasul juga mengilustrasikan al-kautsar sebagai “sungai di surga yang tepiannya dikelilingi oleh emas, airnya mengalir di atas permata. Air sungai itu lebih putih dari susu dan lebih manis dari madu”. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Tirmidzi dan Ibnu Majah.

Makna ‘al-kautsar’ menurut sebagian ahli tafsir adalah sebuah simbol dari sebuah kebaikan dan kenikmatan yang berlimpah yang akan Allah berikan pada kepada hambanya, baik di dunia maupun di akhirat. Nikmat itu akan diberikan kepada hamba-Nya yang mau beribadah dengan ikhlas, menjalankan shalat lima waktu beserta sunnat rawatibnya, mau berkurban hanya untuk Allah, dan tidak menyekutukan-Nya.

Itulah kemudian, mengapa Allah Ta’ala melanjutkan ayat ‘Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu sebuah sungai di surga’ dengan ayat ‘maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah’. Ayat pertama pada surat di atas merupakan konpensasi dari ayat kedua dan memiliki hubungan timbal balik.

Allah akan memberikan balasan yang setimpal kepada siapa saja yang beribadah dan menjalakan perintah serta menajauhi larangan-Nya. Atas segala nikmat yang telah Allah limpahkan, seseorang harus bersyukur. Syukur yaitu menggunakan nikmat yang telah Allah limpahkan sesuai dengan jalan yang Ia kehendaki, yang semuanya berujung pada satu titik yaitu, ibadah.

Kurban, seperti yang diperintahkan oleh Allah dalam ayat di atas, hendaknya tidak hanya sebagai ritual simbolis, tetapi memiliki makna yang lebih luas, yaitu jiwa berkorban, kesalehan sosial, serta menajamkan mata hati kita untuk jeli melihat saudara-saudara kita yang di bawah kita.

Dalam satu Hadisnya, Rasulullah menggambarkan balasan orang yang berkurban, “Tidak ada perbuatan yang paling disukai Allah pada hari raya haji selain berkurban. Sesungguhnya orang yang berkurban akan datang pada hari kiyamat dengan membawa tanduk, bulu, dan kuku binatang kurban itu. Dan sesungguhnya darah kurban yang mengalir itu akan lebih cepat sampai kepada Allah dari pada (darah itu) jatuh ke bumi. Maka sucikanlah dirimu dengan berkurban.” (HR. al-Tirmidzi dan Ibnu Majah). Allah A’lam

About these ads

Tagged: , , , , , , , , ,

§ 4 Responses to Pahala Berkurban

  • heruyaheru says:

    qur’ban sebagai tradisi pra-islam kok ga disinggung?

  • jumanrofarif says:

    tulisan itu memang tidak menyinggungnya… kolom “hikmah republika” yang memang “sempit” hanya memungkinkan membahas “satu hikmah” dari banyak hikmah tentang qurban. dalam hal ini cuma tentang “pahala qurban”.

  • faisol says:

    terima kasih sharing info/ilmunya…
    saya membuat tulisan tentang “Mengapa Pahala Tidak Berbentuk Harta Saja, Ya?”
    silakan berkunjung ke:

    http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/mengapa-pahala-tidak-berbentuk-harta.html

    salam,
    achmad faisol
    http://achmadfaisol.blogspot.com/

  • edie says:

    Assalamualaikum, Ws.Wb.
    Tulisan ini memang sudah memadai bagus, tetapi akan lebih bagus jika tulisan lebih lengkap dan menyangkut hadis hadis yang sohih, terutama yang berkaitan dengan aktifitas berkurban oleh sebagian ummat islam yang melaksakan ibadah qurban yang dilaksanakan secara patungan, seperti yang dilkukan oleh anggota OSIS, himpunan mahasiswa. Hal ini penting untuk dibahas mengingat masih banyak ustad ustad yang tidak sependapat dengan kegiatan tersebut. Padahal ada hadist yang memberikan teladan untuk melakukan ibadah qurban secara patungan. Bagi islam melaksanakan ibadah untuk kemaslahatan ummat terbuka dengan banyak cara, asal cara tersebut memiliki sumber hukum yang kuat, sudahlah………. permudah. Bukankah esensi banyaknya hadist adalah untuk mempermudah ummat
    islam untuk beramal salih. wassalam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Pahala Berkurban at Warung Nalar.

meta

%d bloggers like this: