Antologi Status [6] dan Serial Status Spesial Miyabi

4 11 2009

Status-status pilihan yang ditulis dalam rentang 21 Oktober – 2 November 2009
—————————————————————————————————–

Yang kupercaya adalah kata. Telah dan akan kutitipkan diriku padanya. Darinya, engkau membaca diriku, dan aku tak peduli, jika kemudian engkau mendustakan. Tapi, aku ingin mengatakan, kata seringkali mendahului laku. [21 Oktober 2009/11:35 WIB]

Tidak ada yang lebih menyebalkan dan membosankan bagi sesosok Iblis daripada menunggui tidur seorang pendosa, sehingga ia menggerutu kesal, “Sial! Kapan orang ini bangun?! Aku tak sabar mengajaknya bernista-nista ria.” [21 Oktober 2009/15:25 WIB]

Biarkan pikiranmu mengembara. Biarkan jiwamu berkelana. Tak tahukah kau, setitik tahi menitik di air menggenang, mencemari. Seonggok sampah terjatuh di sungai, hanyut bersama aliran. [22 Oktober 2009/06:10 WIB]

Kekasih, kapan kauberi mataku waktu menenangkan diri?! Di sisimu, aku menangis takut kehilanganmu. Jauh darimu, aku menangis merindukanmu. Kapan kauberi mataku waktu menenangkan diri, Kekasih?! [22 Oktober 2009/17:59 WIB]

Untukmu yang meyakini tentang tujuan: ikutilah jejak langkah air, mengalir berakhir di hilir, lalu ke laut. Bukan udara, bukan api, bukan tanah. Untukmu yang meyakini tentang tujuan: ikutilah jejak langkah air. Sebab, melawan arus untuk kembali ke hulu adalah kembali kepada ketiadaan. [23 Oktober 2009/16:33 WIB]

Sekobaran api yang padam, ke mana cahayanya menghilang? [25 Oktober 2009/20:35 WIB]

PERHATIAN: Status gombal jauh lebih menarik daripada status gembel. Lagi pula, menggombal tak mengakibatkan rambut gimbal. [26 Oktober 2009/10:40 WIB]

Iblis hanya membenci ayah kita, Ayah Adam. Sedangkan denganku, denganmu, dengan seluruh anak-cucunya, sungguh, Iblis benar-benar ingin berteman. [26 Oktober 2009/14:21 WIB]

Akulah jiwamu. Sangat dekat. Melebihi segala yang dekat. Kenapa engkau merindu?! [26 Oktober 2009/16:43 WIB]

Senja hari ini telah berlalu. Senja esok belum tentu melaju. Yang ada hanyalah malam, kini. Peluklah kelamnya, jangan kaulepaskan. Melepaskannya, kau menyudutkan diri dalam ketiadaan. [26 Oktober 2009/18:38 WIB]

Karena cantikmu tak abadi, semata kepada rasa maka kata-kataku mengabdi. Kecantikan datang dan pergi, kata-kataku tak pernah mati. [26 Oktober 2009/23:16 WIB]

Untukmu yang mengabdi kepada rasa: nalarmu adalah tongkat pemandu bagi mata-rasamu yang buta. Kepadamu yang berpegang pada nalar: rasamu adalah bunga-bunga indah penghias jalan setapak nalarmu yang berbatu. [27 Oktober 2009/06:06 WIB]

Tidak ada wanita yang tak ingin disayangi, seperti tidak ada pria yang tak ingin dihormati. Dengan menyayangi, seorang pria menunjukkan rasa hormat kepada wanita. Dengan menghormati, seorang wanita menunjukkan rasa sayang kepada pria. Adalah kesempurnaan, pria dan wanita menyatu. [28 Oktober 2009/22:35 WIB]

Jika merindu ini untuk wajahmu yang ayu, aku sangat paham, kelak ia layu. Bila merindu ini untuk wajahmu yang manis, aku sangat mengerti, kelak ia terkikis habis. Jika merindu ini untuk hatimu yang sedang merindu, o, Tuhan, tolong kait-pautkan rinduku dan rindunya, seperti telah Engkau kait-pautkan kelam dan malam. [28 Oktober 2009/19:09 WIB]

Keberuntungan dapat keluar dari beragam pintu. Tapi, cukup satu pintu kauketuk untuk mendapat kebahagiaan: hatimu! [29 Oktober 2009/06:02 WIB]

Jika kau dan aku berdua, setan akan menjadi yang ketiga. Diamkan dan jangan hiraukan. Biarkan saja ia cemburu melihat kita bercumbu memadu cinta, Kasih. [29 Oktober 2009/15:33 WIB]

Semata Tuhan yang pantas kurindui rasa, karena Ia tak elok mewujud dalam rupa. Tapi, engkau bukan Tuhan Yang Sempurna. Engkau manusia biasa. Tak hanya rindu rasa, maka, kepadamu aku rindu rupa. [30 Oktober 2009/11:34 WIB]

Soal rindu, betapa kepadamu aku adalah pemurah hati. Tuhan hanya kuberi satu rindu: rindu rasa. Sementara engkau kuberi dua: rindu rasa, rindu rupa. [30 Oktober 2009/19:00 WIB]

Ingatlah, Kekasih! Terik yang menyengat kulit dalam perjalanan siang ini berasal dari matahari yang sama, yang setiap pagi memberimu cahaya kehangatan. [01 November 2009/13:57 WIB]

Kasih sayang Tuhan itu serupa binar bulan berparas purnama … Kuajak engkau sebentar memandang langit malam ini, lalu jawablah dengan hatimu: kepada siapa binar mata purnama itu menatap? [01 November 2009/19:41 WIB]

Belaian tangan yang kutitipkan pada semilir angin sejuk dan cahaya hangat mentari pagi untuk membelai lebat rambutmu, telah hilang terpanggang terik siang. Kecupan manis yang baru saja kutitipkan pada senja untuk menitik keningmu, sebentar bakal tenggelam dalam kelam alam malam. Tapi, percayalah! Bersama desir-desir pasir waktu dan detak-detak detik masa, rasaku selalu memeluk jiwamu. [02 November 2009]

* * *

Serial Status Spesial Miyabi:

Anda tahu MIYABI? Tahu? Bagus kalau begitu. Selanjutnya, apakah Anda tahu MIE AYAM? Tahu juga? Ya, itu memang makanan favorit bagi sebagian orang. Nah, sekarang, apakah Anda tahu persamaan MIYABI dan MIE AYAM? Anda cukup bilang “tidak tahu” maka saya akan beri tahu. Persamaan MIYABI dan MIE AYAM adalah keduanya enak dinikmati selagi hangat. [07 Oktober 2009/12:18]

Wahai orang-orang! Menonton aksi Miyabi pakai nafsu, tapi menolak kehadirannya ke Indonesia jangan pakai nafsu. [12 Oktober 2009/01:13 WIB]

Kawan-kawan, cawet dan kutang adalah simbol kehormatan, pelindung bagian paling terjaga dari seorang wanita. Maka, tidakkah kalian sebaiknya tersinggung, Wahai Para Wanita, jika cawet dan kutang dibakar sebagai simbol penolakan pornografi dan pornoaksi?! Bukankah saat kalian mengenakan keduanya adalah dalam rangka menjaga dan melindungi, bukan melakukan pornoaksi?! [13 Oktober 2009/16:49 WIB]

Seorang Miyabi mereka sebut sebagai penghancur moral bangsa. Ada jutaan ulama, pendeta, pendidik, atau apalah Anda menyebutnya, di sini, sejak dulu. Apakah mereka menganggap remeh para penganjur agama dan moralitas itu? Sepertinya ada yang salah dengan cara berpikir. Atau, jika tidak, cara berpikir seperti itu berlebihan. [14 Oktober 2009/10:45 WIB]

Dua orang menghadap Tuhan. Orang pertama berdoa, “Tuhan, setiap melihat Miyabi, aku tak kuasa menahan nafsu, hasrat menjadi liar. Tolong, ampuni aku dan beri aku kekuatan menahan syahwat.” Orang kedua berdoa, “Tuhan, setiap melihat Miyabi, aku selalu jijik, selalu ingin mengutuknya. Tolong, ampuni aku dan beri aku kekuatan menahan amarah.” Lalu, dua orang itu pun pulang ke rumah masing-masing dengan jiwa tenang dan lega. [14 Oktober 2009/13:12 WIB]

Anda pikir Maria Ozawa a.k.a Miyabi itu tidak jadi datang ke Indonesia? Maaf, Anda salah! Miyabi sudah ada di negeri kita, hanya saja sedang disembunyikan oleh orang-orang tertentu untuk tujuan-tujuan tertentu, sesuai dengan skenario film “Menculik Miyabi”. Namanya sedang diculik, ya, tentu saja yang tahu tepat keberadaan Miyabi saat ini cuma para penculiknya. [27 Oktober 2009/11:23 WIB]






Antologi Status [5]

21 10 2009

Status-status pilihan yang ditulis pada rentang 1- 20 Oktober 2009
————————————————————————–

Masa lalu menjadi romantika atau trauma, masa depan menjadi harapan atau ancaman, akan memengaruhi apakah masa kini kau bahagia atau menderita. [1 Oktober 2009/20:24 WIB]

Karena kasih sayang itu anugerah Tuhan serupa hujan tak bermata, membasahi apa saja di wajah bumi: lembah landai hijau oleh rerumputan atau pun bukit terjal bebatuan. Dimangsa masa, kini, hijaumu tinggal sisa. Dan sebab anugerah kasih sayang, kekasih akan tetap di sisi. [2 Oktober 2009/19:55 WIB]

Sebagaimana buah kerja mereka: kekayaan dan popularitas, buah hati mereka: putra dan putri, pun bahkan tak dapat menyelamatkan dan menyatukan tenunan cinta mereka yang terurai. Entah bagaimana mereka berdua merajutnya, dulu. [3 Oktober 2009/14:53 WIB]

Sedang tak sepemahaman. Aku hendak kencan, Tuhan menghendaki hujan. Kompromi terus diusahakan agar terwujud saling pengertian. [4 Okotber 2009/12:14 WIB]

Terima kasih, Tuhan. Terima kasih, Hujan. Terima kasih, kau tak menjadi pihak yang ketiga dalam kencan ini, Setan. [4 Okotber 2009/17:46 WIB]

Jika perasaanmu berhasrat mencintai sosok lain, namun kau tetap bertahan di sisi kekasihmu, itu karena pikiranmu jernih. [5 Okotber 2009/00:17 WIB]

Awan-awan bergerombol. Wajah mereka kelam, seram. O, Tuhan, jangan kautitipkan atau bahkan sekedar menceritakan meski sedikit amarahmu pada mereka. Aku takut, mereka salah paham, lalu dengan geram akan mengayun-ayunkan halilintar, menebar badai. Jika marah dan Kau tak mau menyimpan sendiri amarahmu, ceritakan saja pada hatiku. Jika mampu, akan kusimpan itu. [5 Okotber 2009/16:23 WIB]

Selain dengan hati jernih, merenunglah dengan pikiran canggih. Agar tidak menjadi perenungan yang menyesatkan. [6 Oktober 2009/17:02]

Dan, selain dengan pikiran canggih, berpikirlah dengan hati jernih. Agar tidak menjadi pemikiran yang meresahkan. [6 Oktober 2009/17:49 WIB]

Baiklah, Gadis. Abaikan kata-kataku dan tatap dua mataku. Jika kata-kata rayuku tak membuatmu meluruh, mungkin mata sayuku akan membuatmu bersimpuh. [6 Oktober 2009/19:34 WIB]

Sebab Wanita, tak pernah sudah kata-kata. Karena Gadis, rayuan manis tak kunjung habis. [6 Oktober 2009/21:55 WIB]

Aku jatuh tersandung pesonamu, luruh tersimpuh di serambi hatimu. Tolong, raih aku, papah aku, dampingi aku. Sandungan pesonamu dan benturan hatimu membuatku tak mampu kembali berdiri kecuali bersamamu. [7 Oktober 2009/06:07 WIB]

Aku akan selalu berusia 20 tahun. Ada pun selanjutnya hanyalah tambahan-tambahan. [7 Oktober 2009/08:35 WIB]

Jangan marah bila Tuhan tak menjawab doamu. Sebab, semudah menjawab, Ia juga mampu tak menjawab doa. [7 Oktober 2009/10:45 WIB]

Sekali-kali, tengoklah catatan-catatan masa lalu. Pastilah kau akan mendapati catatan yang perlu kausunting. [7 Oktober 2009/14:29 WIB]

Pesan untuk para penggombal: [1] Jika tak bisa menggombal dengan baik maka diam tak lebih buruk. [2] Jika menggombal dengan kata-kata terbaik pun selalu gagal, mungkin karena wajamu terlalu buruk. [8 Oktober 2009/11:29 WIB]

Bertemu denganmu aku malu. Berpisah denganmu aku rindu. Bagaimana kalau kita menikah saja, mau? [8 Oktober 2009/14:08]

Dalam Bahasa Jawa, seorang istri disebut “garwa”, akronim dari “sigaring nyawa” atawa “belahan jiwa”. Maka, jiwa lelaki belum sempurna hingga ia menemukan penyempurnanya; maka, lelaki yang mencampakkan kekasihnya adalah ia yang meruntuhkan kesempurnaan dirinya. [8 Oktober 2009/15:35 WIB]

Di depan buku, semua kautanggalkan kecuali nalar, seperti saat di hadapan Tuhan, semua kautinggalkan selain hati. [8 Oktober 2009/21:00 WIB]

Baiklah, Tuan! Seperti aku yang menikmati kemiskinan ini, sebaiknya kau menikmati kekayaan itu, sebelum kemiskinanku dan kekayaanmu menjadi kenangan. [9 Oktober 2009/10:53 WIB]

Setelah itu, ia bertanya serius kepada kekasihnya, “Sekarang kau tinggal pilih: hartamu atau aku?” Si kekasih menjawab, “Aku pilih hartaku.” Ia pun lantas pergi dan hilang ditelan tikungan, meninggalkan si kekasih. Sendiri, berdiri di atas mata berkaca, si kekasih berkata dalam diam, “Andai saja kau tahu, kaulah harta itu.” [9 Oktober 2009/15:56 WIB]

Jika ada dua tema yang sama, percayalah, pembaca akan memilih yang terajut dengan benang kata-kata indah, yang aliran kalimatnya membuaimu, mengantarkan matamu melanjutkan baca pada paragraf selanjutnya, selanjutnya, dan selanjutnya sampai pada titik penghabisan. Maka, tak ada alasan bagimu untuk sekadar tak meletakkan titik dan koma dengan benar. Buku adalah kota ilmu, kata adalah gerbang masuknya. [9 Oktober 2009/19:27 WIB]

Beragama dengan ketajaman nalar dan kedalaman hati, secara riang gembira ria. Selain demikian, seperti apa lagi?! [10 Oktober 2009/01:48 WIB]

Sabtu, saat aku begitu terpasung rindu. [10 Oktober 2009/08:18 WIB]

PENGGOMBAL GAGAL, ia yang kata-katanya tak membuat target luruh. PENGGOMBAL SIAL, ia yang wajah buruknya membuat target tak sudi bersimpuh. PENGGOMBAL ANDAL, ia yang kata-katanya, atau wajahnya, atau kedua-duanya, membuat target luruh bersimpuh. [10 Oktober 2009/15:01 WIB]

PERINGATAN: menggombal tak menyebabkan rambut gimbal. [10 Oktober 2009/18:44 WIB]

Dalam sebuah mimpi diceritakan aku berkencan dengan seorang gadis. Setelah itu aku ditanya oleh temannya, ” Kamu serius menyukainya?”. Aku jawab, “Tentu saja.” Si teman kemudian memberi tahu, “Sudah empat lelaki yang naksir dan pernah mengajaknya kencan. Kamu yang kelima dan satu-satunya yang tak ditolaknya.” [11 Oktober 2009/10:12 WIB]

Sampai akhirnya, dengan nada pasrah dan ancaman, ia berkata kepada istrinya, “Jika kau berniat meninggalkanku sebab aku tak lagi tampan dan kaya, ketahuilah, lelaki tampan dan kaya yang kau maui pun barangkali akan lebih memilih wanita yang masih menawan.” [11 Oktober 2009/14:45 WIB]

“Kekasih, kau tahu, apa yang kuminta kepada Tuhan selepas sembayang tadi?”
“Tidak. Kau meminta apa?”
“Aku meminta agar Ia memanggilku lebih dulu sebelum engkau.”
“Hei, Sayang, kenapa kau berkata demikian?! Kau membuatku sedih.”
“Aku serius. Tak bisa kubayangkan bila kau yang dipanggil lebih dulu. Sebab, tak sedetik pun aku dapat hidup tanpamu.” [11 Oktober 2009/19:08 WIB]

“Sebaiknya, nanti kau tak kirimi aku undangan pernikahanmu.”
“Iya, aku paham, Mas. Aku minta maaf. Sungguh, aku benar-benar minta maaf. Aku membuatmu kecewa … Aku benar-benar tak berdaya. Aku minta maa …”
“Sebentar, sebentar! Maaf, bukan karena soal itu. Aku sekarang sudah pindah kost. Dan, masih belum hapal alamat kost baruku itu. Khawatir saja undanganmu tidak sampai.”
[12 Oktober 2009/08.04 WIB]]

Jika Anda berkata kepada kekasih Anda bahwa ia menawan dan rupawan–lalu ia senang–meski sesungguhnya kekasih Anda itu adalah seorang buruk rupa, maka, dengan sepenuh hati, saya menyarankan: lanjutkan kebohongan Anda! [12 Oktober 2009/14:34 WIB]

Setiap kita adalah gembala dua serigala yang bersemayam dalam diri: serigala baik dan serigala jahat, yang setiap saat selalu bertempur dengan kejam. Serigala mana yang akan menjadi pemenang adalah ia yang selalu kauberi makan. [12 Oktober 2009/17:53 WIB]

Membahagiakan orang lain itu seperti kau menyinari cermin di hadapan: sinarnya akan memantul, kembali kepada sumber sinar. [12 Oktober 2009/21:52 WIB]

Kedermawanan bukanlah engkau memberi makan anjing lapar, melainkan saat kau mau berbagi makanan dengan anjing sementara kau sendiri lapar. [13 Oktober 2009/05:55 WIB]

Seperti Muhammad yang merindu, Tuhan tuntaskan dengan Sabda. Seperti rasa yang merindu terbaca, kutautkan dengan kata: maukah kau menikah denganku, Kekasih? [13 Oktober 2009/17:38]

Tarikan napasnya rasa. Embusan napasnya kata. Mewujud puisi. [13 Oktober 2009/19:02 WIB]

Amarah dan akibatnya acap kali lebih buruk daripada penyebabnya. [13 Oktober 2009/21:31 WIB]

Karena gratis tak seperti merawat muka maka aku senang merawat kata. Kubiarkan jerawat menggawat asal tak parah, tapi takkan kubiarkan titik dan koma yang terletak salah. [15 Oktober 2009/08:09 WIB]

[Dua orang berbincang-bincang]
“Eh, Bu, kautahu anakku, kan? Berkat pendidikan agama yang ketat, sekarang jadi ustadz yang dihormati. Setiap berpapasan dengannya, orang selalu cium tangan.”
“O, iya. Bagus, Jeung. Eh, tapi kautahu anakku yang macho tapi playboy itu kan? Sekarang jadi model, digemari banyak wanita. Setiap wanita yang melihatnya, selalu berujar, ‘O, Tuhan, betapa sedemikian sempurna ciptaan-Mu.’ [15 Oktober 2009/12:59]

Seperti ketulusan mentari pagi: memancar menebar senyum-sapa bahagia tanpa peduli apakah kau mau membalas senyum-sapanya atau sama sekali tidak. Yang ia tahu, berbagi bahagia itu membahagiakan. [20 Oktober 2009/06:07 WIB]

Bagimu, Kekasih yang memercayaiku: jangan percaya pada kata-kata yang kupujikan untukmu. Bukan! Bukan karena kata-kataku terangkai dari huruf-huruf kebohongan, melainkan karena tak pernah sepenuhnya mampu menerjemahkan tentangmu. Bagimu, Kekasih yang memercayaiku: dekap rasaku; peluk hatiku. [20 Oktober 2009/17:55 WIB]





Antologi Status [4]

6 10 2009

Status-status facebook pilihan yang ditulis dalam rentang 16 Sepetember – 1 Oktober 2009
——————————————————————————————

“Sebentar, Siti. Maaf, sebentar.”
“Ada apa, Mas?”
“Ada yang tertinggal.”
“Apa itu?”
“Jejak pesonamu di hatiku.” [22 September 2009/18:30]

Bila Siti menghilang, kepada Siti lain aku mengharap datang. Namun, jika Gusti hilang dari hati, kepada siapa aku mengharap pengganti? [21 September 2009/17:30 WIB]

“Siti, abahmu punya cangkul?”
“Cangkul, Mas?!”
“Iya, cangkul. Kalau punya, aku mau pinjam.”
“Tak tahu aku, Mas. Tapi, buat apa, malam-malam seperti ini minta cangkul?”
“O, tidak buat apa-apa. Aku cuma mau menggali. Sebab, sepertinya ada cinta terpendam dalam hatiku.” [26 September 2009/20:26 WIB]

Bagaimana bisa engkau merindu, sementara ia hadirmu. Bukanlah pengasih sejati sehingga ia menyeru kekasihnya, “Wahai aku!” [17 September 2009/00:28 WIB]

Sebab aku tak tahu, apakah Tuhan merindu hadirku atau tidak, maka, saat ini, aku memilih berpulang ke hadirat emakku saja, yang rindunya adalah pasti. Mudik. [17 September 2009/14:29 WIB]

Dan, adapun aku? Aku tak pernah rindu emakku. Sebab, dekat atau jauh kulitnya yang semakin lekang oleh waktu, jiwanya yang abadi telah bersemayam di sepojok ruang benderang hatiku. [17 September 2009/22:16 WIB]

Jika kemudian aku pulang, itu semata agar emakku senang. Dan, bila kemudian di dekat emak aku senang, itu karena aku senang melihatnya senang. [18 September 2009/14:42 WIB]

Jutaan orang, dengan berbagai kendaraan, kembali ke kampung. Di sana, tidak ada aku yang pegawai swasta, tidak ada kau yang pegawai negeri, tidak ada ia yang buruh. Semuanya satu warna: orang kampung. Seperti air yang mengalir dari berbagai mana, akan kembali kepada satu warna dan rasa: laut. Ah, seperti hidup, beragam diri akan kembali kepada yang satu: Tuhan. [19 September 2009/00:16 WIB]

Betapa Tuhan lebih banyak menjaga aib kita daripada menampakkan kebaikan kita, di mata orang-orang. [22 September 2009/15:57 WIB]

Jika kau pernah berkhianat di balik punggung kekasihmu, simpan saja itu sebagai rahasia hati. Sebab, saat kekasihmu tak tahu pengkhianatan itu, Tuhan sedang menjaga aibmu. Lalu, kau hanya perlu menyesal dan berjanji tak akan mengulangi.[19 September 2009/04:29]

Laku dan kata merasuk sukma, menjejak lara. Jika saat itu, mata tiada ruang untuk bertatap, kata tak mampu berucap, tangan tak kuasa berjabat, tebar saja maafmu ke langit untuk diterbangkan angin. Biar aku menjaringnya. [19 September 2009/13:08 WIB]

Marah yang dipelihara dapat memperkeruh jiwa, menjadi pupuk penyubur dendam. Obat semua itu adalah memaafkan. [19 September 2009/22:47 WIB]

Cium-tangan seorang wanita kepada kekasihnya adalah rasa hormat. Dan, cium-tangan seorang lelaki kepada kekasihnya adalah rasa sayang. Dengan menghormati, seorang wanita menyayangi. Dan, dengan menyayangi, seorang lelaki menghormati. [22 September 2009/21:14 WIB]

Bagaimana bisa kau mengharap segala rupa pahala kepada Tuhan untuk segenap amal kebajikan yang kaukerjakan, sementara, semua amal itu takkan pernah terjadi jika Ia tak menghendaki. Maka, sungguh, tak ada yang pantas terucap untuk kebajikanmu selain kalimat syukur. [23 Septermber 2009/01:09 WIB]

Tidak sopan! Kangen ini datang tanpa pamit, tiba-tiba. Lalu, lihat saja, nanti, ia pulang tanpa izin, begitu saja. Jika saja berbentuk orang, sudah kutampar berkali-kali itu kangen. [23 September 2009/11:40 WIB]

Bila gambar gunung hasil bidikan kameramu kurang bagus, yang bisa kaulakukan hanya mengubah sudut bidikan untuk mendapatkan gambar yang bagus. Sebab, kau takkan pernah mampu mengubah posisi gunung itu, sama sekali. Begitulah, menikmati hidup hanya soal sudut pandang. [24 September 2009/13:29]

Tuhan tahu, kau lemah. Maka, Ia ringkas kewajiban salat lima puluh waktu menjadi lima waktu. Dan, Ia pun paham, dalam kelemahanmu, kau selalu berharap banyak. Maka, Ia jadikan lima kebaikan berpahala lima puluh kebaikan. [25 September 2009/08:32 WIB]

Benar-benar sulit memperbarui status hari ini. Sungguh, benar-benar sungguh sulit memperbarui status dari lajang menjadi duda. [26 September 2009/13:50 WIB]

Jika kauminta aku jelaskan alasan datangku, suatu saat, aku akan mudah katakan alasan pulangku. Jadi, biarkan saja rahmat rasa ini ada apa adanya. Kau hanya perlu biarkan aku menjaganya, untukmu. [27 September 2009/20:21 WIB]

Bersyukurlah! Sebab, ternyata, dari segi rasa, warna, dan rupa, UPIL tak lebih menjijikan ketimbang CONGEK. Bayangkan saja seandainya yang di hidung adalah CONGEK. [tak terlacak]

Kebahagiaan dan ketakbahagiaan terbangun bukan dari materi, melainkan persepsi atas materi. Hanya dengan membangun persepsi positif, kau akan bahagia dengan apa pun yang kaumiliki. [29 September 2009/10:26 WIB]

Wahai Langit, jika ingin menangis, turunkan air matamu baik-baik. Jika kau tak lagi mau jadi atap, di bawah atap mana lagi kami berlindung. Wahai Bumi, jika ingin marah, lakukanlah sekadar saja. Jika kau tak mau lagi kami jadikan tempat berpijak, di mana lagi kaki ini akan berdiri. Sedang-sedang saja, wahai langit dan bumi, kalian berpolah, agar pagelaran kalian menjadi nikmat buat kami. [30 September 2009/22:29 WIB]

Bencana ini pulang lalu datang, pergi kemudian kembali, tak lelah. Oke, sudah Kaubiarkan alam bertingkah. Selanjutnya, dengan upaya dan doa, mudahkan kami berbenah. [30 September 2009/23:25 WIB]

Jika sabar tak membuatmu bahagia, tak sabar barangkali akan membuatmu celaka. [17 September 2009/21:24 WIB]

* * *

Untuk melihat sumber, klik ini.





Antologi Status [3]

6 10 2009

Di bawah ini adalah status-status facebook pilihan yang ditulis dalam rentang 16 Juli – 16 September 2009. Selamat menikmati dengan hati …
——————————————————————————————–

Ketahuilah, kawan, tentu ada orang yang selalu mengikuti statusmu meski tanpa memberi jempol atau serangkai kata. Sebab, ia lebih senang berkomentar dengan rasa, tawa, atau bahkan air mata. [20 Agustus 2009/15:34 WIB]

Bukankah wajahku yang rupawan ini terkadang membuat bosan kaupandang, sebagaimana aku pun terkadang bosan menatap wajahmu yang menawan itu? Jadi, sepertinya cukup berkata-kata dengan baik, kau mengenalku dan aku mengenalmu, di sini.

Kata-kataku hanya penanda bahwa rasaku ada. Ia terlalu lemah untuk menerjemahkan rasaku sepenuh dan sesungguhnya. Maka, jangan lewat kata, tapi, peluklah aku dengan jiwamu. Kau akan tahu, jantung ini berdetak semata karena memanggil namamu, Kekasih. [21 Agustus 2009/00:01 WIB]

Sederhana saja, Tuhan, yang kuminta: jadikan setiap persoalanku sederhana. [16 Agustus 2009/23:07]

Kebijkasanaan kitab suci tampak dari orang yang membacanya dengan bijaksana

Kitab Suci dan sabda Nabi adalah pegangan hidup. Namun, ketika memegangnya, orang justru menjadi tuan yang berkuasa atas kehidupan keduanya.

Orang tak menjadi bijaksana hanya dengan membaca Kitab Suci dan sabda Nabi. justru, orang butuh kebijaksanaan untuk membaca keduanya.

Mengalih puisi-puisi Tuhan yang indah itu, mengolah agar tetap indah dalam bahasa ibu [03 September 2009/18:53]

Zikir dan zakar serta salat dan silit datang seenteng hilang, berkandang segampang bertandang. O… [24 Agustus 2009/23:09 WIB]

Pada akhirnya, yang aku dan engkau butuhkan bukan pemandangan yang indah di mata, suara yang merdu di telinga, dan sececap yang sedap di rasa, melainkan ketenangan di dalam jiwa. Meski kesadaran dan kenyataan itu terkadang hadir semacam lampu temaram di tengah kelam. [07 September 2009/21:01 WIB]

Tak ada pelajaran tentang rindu. Ia datang dari hati, semaunya. Dan, pulang entah ke mana, semaunya. [11 September 2009/16:24 WIB]

Dan, seperti sembayang jamaah itu: kebersamaan yang seragam hanya tampak di permukaan. Sebab, yang ada dalam setiap diri adalah semata kesendirian yang hening, kesunyian yang mendaulat jiwa. [13 September 2009/05:42 WIB]

Yang baik, sampaikan dengan kata. Yang buruk, simpan dalam rasa. [05 September 2009/01:35]

Kekasih, saat wajahku tak lagi rupawan, kelak, kata-kataku justru semakin menawan. Sebab, oleh waktu, kata-kataku diasah. Sementara, kepada waktu, wajah ini hanya pasrah. Kekasih, pada kelak itu, kau akan ingat ini, doaku ini. [07 September 2009/00:07 WIB]

Memulai pagi dengan pikiran sederhana, dan itu benar-benar sederhana: jika kau benar-benar baik, orang akan menyayangimu. dan jika tetap ada yang membencimu, yakinlah, pembencimu itu bukan orang baik. [08 September 2009/08:22 WIB]

Saat cinta bersasmita bahwa kau hadirku, kutahu ada-mu di segala mana. Kusapa engkau tanpa kata, kutatap engkau tanpa mata. [12 September 2009/04:13 WIB]

Jika tiba-tiba ada orang yang menyatakan ketidaksukaan secara pribadi tanpa alasan, perlu dikasihanilah orang itu. Sebab, dia berpeluang jadi orang ’sakit’. Dia gelisah sendiri dengan prasangka-prasangkanya, sementara, orang yang dia maksud tetap asyik-asyik saja. [15 September 2009/04:42 WIB]

Dan, setelah halilintar yang berayun di antara kelam mendung hitam, kau bisa berharap hujan, tentang airnya yang menyejukkan. Lalu, setelah hujan, kau bisa mengharap pelangi, tentang warna-warninya yang indah di mata. Adapun setelah pelangi, tidak ada harapan kecuali wajahmu telah cerah, secerah langit seusai mementaskan pagelarannya.

Kau perlu tahu, selingkuhanmu itu bukan orang baik dan kau tidak akan bahagia bersamanya, meski kau sumpah mati menilai sebaliknya. Sebab, jika orang baik, tentu dia tidak akan mendapatkanmu dengan cara yang tidak baik. Jika kelak kau menyesal, di dada siapa kau akan merebahkan kepala dan kautumpahkan air mata. Sebab, saat itu, tentu aku tidak akan menerima kehadiranmu lagi, sama sekali

Seperti pedagang yang selalu mengharap keuntungan dari dagangannya, seperti budak yang selalu takut dengan majikannya, seperti robot tak berjiwa, yang bergerak tanpa penghayatan, atau seperti seorang arif yang saat kepala dan lutut segaris, tak ada yang terpikir kecuali kesadaran diri akan kebijaksanaan yang tak terbatas… siapakah kita di hadapan Tuhan? [29 Agustus 2009/05:39 WIB]

Kau perlu banting tulang mencari ‘b’, berkeringat mendapatkan ‘e’, sekuat tenaga menggali ‘r’, berpikir menyusun ‘h’, jeli mengais ‘a’, susah payah merangkai ’s’, bersungguh-sungguh membangun ‘i’, dan mengerahkan daya mewujudkan ‘l’. Sebab, BERHASIL bukanlah kau berdoa sebelum tidur, lalu, tiba-tiba ia telah berdiri di depan pintu rumahmu, esok harinya. [02 September 2009/00:19 WIB]

Sabar terkadang sepahit atau bahkan lebih pahit dari empedu. Namun, hasilnya akan semanis atau bahkan lebih manis dari madu. [30 Agustus 2009/17:46 WIB]

Sesungguhnya, hidup hanyalah putaran konstan datang dan pergi, ada dan tiada. Masing-masing bergulir pada garis yang sama sehingga perbedaan masing-masing adalah semu. Masing-masing bisa terjadi begitu mudahnya. Namun, kerap menjadi sulit dan rumit karena jiwa yang terlalu sempit.

Sepojok ruang di hati tentang sejarah Siti telah kupasrahkan kepada kelam malam, sudah kuserahkan kepada terang siang, untuk digenggam waktu. [19 Agustus 2009/23:31 WIB]

Mata bukanlah pengambil keputusan yang baik untuk menyatakan cinta, apalagi ditentukan oleh pandangan pertama. Jangan pula terkesima oleh ekspresi cinta yang keluar dari kata-kata yang diklaim dari hati terdalam. Sebab, kata-kata bukanlah obyek yang baik untuk menilai cinta. Cinta adalah entitas yang rumit dan kompleks, yang melakukan perjalanan terus menerus dan akan terhenti jika mati telah mengebiri. [21 Agustus 2009/07:53]

Dalam altar kesejatian ikhlas, pujian dan cacian sama saja.

* * *

Untuk melihat sumber, klik ini.





Antologi Status [1]

15 07 2009
Mani Menjadi Bangkai
hei, kau!
dari mani kau berawal,
menjadi bangkai kau akan final.
ada di antaranya,
kau menenggak mani
dan melahap bangkai

[jr]

Hadiah
jika kelak tuhan memberimu surga,
atau menjatahimu neraka,
sepertinya bukan karena
kesalahenmu seluas angkasa,
bukan pula kebejatanmu memenuhi semesta.
kesalehanmu bahkan sepanjang hidupmu
terlalu murah untuk membeli surga,
kebejatanmu bahkan seumur hidupmu
terlalu ringan untuk menukar neraka.
o, apalah diri…

[jr]

Apa Salah
begitu bencikah kau
hingga menganggap dunia ini
bahkan lebih hina
dari bangkai anjing.
Yakinkah kau,
duniamu selanjutnya
lebih baik dari duniamu saat ini?
O, jadilah murid kehidupan…

[jr]

Tak Rindu
kaulah jiwaku,
sangat dekat
melebihi segala
yang dekat,
meski tak
dapat kulihat

[jr]

Kita
jika kau iri dengan para sahabat,
orang-orang yang beruntung
hidup sezaman dengan rasulullah,
yang menghabiskan hari-hari mereka
bersamanya, ketahuilah, kita, di zaman ini,
memiliki keberuntungan yang tak dimiliki
para sahabat itu: kita tak pernah bertemu sapa
dengan rasulullah, tapi kita percaya

[jr]

Menyatu
saat kutahu
kau menetap dalam jiwa,
kusaksikan hadirmu di setiap mana.
kau kusapa tanpa kata,
kau kutatap tanpa mata

[jr]

Kaupikir
jika kaupikir kaulah bumi,
tempat berpijak siapa dan apa saja tanpa pilah;
jika kaupikir kaulah awan
yang menaungi siapa dan apa saja tanpa pilih;
jika kaupikir kaulah hujan
yang membasahi siapa dan apa saja tanpa pilah pilih;
kau perlu tahu, akulah semesta…

[jr]

Jika
Kurasakan kau menangis di sana
dengan mata yang pernah kaupinjamkan,
namun kutolak. Kini, sebulir saja
kuminta air tangisanmu itu.
Akan kubasuh jejak-jejak yang terserak.

[jr]

Menggetarkan Dalam Kerinduan
jika dengan mata
telanjang bisa melihat Tuhan,
mau apa kau?

[jr]

Semesta
setinggi gunung durja,
sedalam samudra nista,
rahmat dan maafmu adalah semesta

[jr]

Tak Selalu
bulan tampak kasihan
saat sedikit saja purnamanya pudar:
kusam, tak lagi terang,
lalu meminta awan-awan menyelimutinya…

[jr]

Kendali
aku di antara dua seteru:
mata dan jiwa.
mata menyergap geliat,
jiwa menyerap hasrat.
keduanya bersekutu:
m . e . m . b . u . n . u . h . k . u .

[jr]

Khalifah
ia orang yang sekian tahun
menyumbat mulutnya dengan batu
agar tak banyak bicara…

ia orang yang selalu diam
jika takjub oleh kata-kata,
dan hanya akan berbicara
jika diam tak lagi bermakna…

[jr]

Al-Quran Berdialog Dengan Umar
ia pasti sedang membacakan sajak-sajak penyair
jika bukan, pastilah itu mantra-mantra penyihir

bukan!

ini bukan sajak,
pula bukan mantra
ini adalah sabda penguasa semesta

2009