Ijazah
Sunday, March 28, 2010 § Leave a Comment
Aku hanya selembar kertas yang murung. Namaku Ijazah. Lihatlah kalimat pertama aku memulai cerita … Muram. “Hanya” dan “murung”, menandakan jika aku adalah sosok tak dianggap, berada di sudut yang siapa pun sepertinya tak sudi sekadar memikirkannya. Tentu saja itu memprihatinkan, jika melihat mulanya aku adalah kertas yang dipersiapkan untuk berfungsi, dan bagi sementara manusia, sosok semacam aku bisa menaikkan gengsi. Terkadang, dalam kesendirian yang menyedihkan, aku sering menangis: kenapa aku harus menjadi milik orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku seperti dia?! Kenapa aku tak menjadi milik si fulan yang sering membawa ijazahnya ke mana-mana, ke setiap tempat yang ia tahu membuka lowongan pekerjaan?! Meski lamaran si fulan sering ditolak, ijazah miliknya pasti tetap merasa bangga karena paling tidak ia masih dianggap ada dan difungsikan semestinya. Aku dapat merasakan itu.
Ya, begitulah nasibku saat ini. Padahal, dulu, bagi orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku, aku adalah sosok idaman, menjadi tujuan dan kebanggaan. Sosok seperti akulah bukti intelektualitas di atas kertas, bahwa di kelas, orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku itu telah bekerja keras.
Pernah suatu ketika aku tersanjung saat seseorang yang menjadi teman orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku menawari agar orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku itu mengirim lamaran pekerjaan ke sebuah kantor. Wah! Bangganya aku. Aku, maksudku, salinanku, aku yang hanya saja tak sejati namun setara dalam fungsi, bakal berguna sebagaimana mestinya. Aku, beserta beberapa lembar kertas lain, dimasukan ke dalam amplop coklat yang hangat. Setelah melewati kantor jasa pengiriman, aku akan sampai ke kantor yang dituju, lalu diterima oleh seorang menejer yang lalu dengan saksama mengamati angka-angka yang tertera di atasku. Angka-angka itu jika diterjemahkan dalam dua kata maka akan terbaca: Amat Baik. Menejer itu akan mengulum senyum kagum. Dan, tentu saja tak sedang terkagum-kagum kepadaku, tapi kepada orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku. Namun, aku tak merasa kecewa dengan itu. Takdirku memang sebatas wakil bagi orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku, dan teman yang mengantarkannya meraih cita-cita. Begitulah aku meraih kebanggaanku.
“Tapi aku belum mendapatkan ijazahku,” kata orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku kepada temannya itu. Saat orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku berkata demikian, aku sangat berharap temannya akan menanggapi begini: “O, ya … Sebaiknya kau dapatkan ijazahmu dulu, secepatnya.” Aku memang benar-benar ingin keluar dari tempat ini. Sejak keluar dari percetakan aku sangat ingin menjadi kebanggaan, tanpa harus berlama-lama di penampungan semacam sini.
“Tak masalah. Sekarang kau hanya perlu mengirim CV-mu,” kata teman orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku. “Aku tak akan merekomendasikan kecuali orang yang kutahu keahliannya. Kirim saja CV-mu. Tak apa tanpa ijazahmu.”
Dapat kubayangkan kebahagiaan yang merasuk dalam diri orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku: satu peluang kerja di depan matanya sedang tersenyum menggoda, dan bisa didapatkan tanpa sedikit pun keterlibatanku. Jika benar-benar terjadi maka itu adalah tragedi besar hidupku. Ah, entah. Aku tak mengerti, kenapa orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku itu menganggap aku sebagai beban, sejak beberapa hari setelah pesta bahagia, resmi, dan prosedural Sabtu itu, yang dalam rentang empat tahun sebelumnya aku adalah tujuan. Setiap perjalanan-empat-tahun adalah aku yang menjadi tujuan. Di aku, perjalanan-empat-tahun berhenti melangkah. Tetapi, apa yang terjadi antara aku dan orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku adalah ironi yang suram yang membuat aku merasa martabat dan derajatku dekaden.
Setarikan napas panjang mengeluh …
Bulan ini adalah tepat satu tahun kurang sebulan sejak tragedi besar itu, dan tepat tiga tahun kurang empat bulan sejak pesta Sabtu itu. Aku masih hanya selembar kertas yang murung … dan masih di sini, di penampungan pengap ini. Satu-satunya hal yang bisa aku syukuri saat ini adalah bahwa aku masih bernama Ijazah.[jr]
27.03.10
Mba Qonita
Thursday, December 18, 2008 § Leave a Comment
Aku berkandang ke kampungku setelah sekian tahun di rantau orang. Tentu saja banyak hal yang telah terjadi. Kantor desa yang cat dinding dan pagar temboknya sudah berganti warna hijau, yang terkhir aku lihat sebelumnya masih berwarna putih. Kata kakekku, warna hijau itu atas usulan kepala desa baru yang dua tahun lalu terpilih. Juga beberapa gang dari gang-gang kampung yang masih berhias rentetan bendera merah putih plastik yang warnanya telah memudar, sisa-sisa perayaan tujuh belasan. Selain itu, tidak ada perubahan mencolok dari infrastruktur kampung.
Hukum alam juga berlaku sebagaimana biasa. Ada yang pergi, ada yang datang. Ada yang meninggal, seperti Wak Daid, kawan seangkatan kakek, Haji Ramin, orang tua kades terdahulu, juga ada bayi lahir menambah perbendaharaan jumlah warga kampung.
Satu hal lagi di kampungku: sudah tidak ada lagi pengajian subuh di masjid desa yang diasuh Kyai Mualimin. Kata kakekku, pengajian itu sudah berhenti total sejak setahun lalu. Kyai Mualimin tak mau lagi melanjutkan mengajar kitab Mukhtashar Ihya ‘Ulumuddin karya Imam Ghazali, yang pada pertemuan terakhir baru sampai pada pertengahan kitab.
Kyai Mualimin seusia dengan kakekku. Ia teman kecil kakekku. Pada usia dewasa, ketika sadar hidup memberikan pilihan, Kyai Mualimin memilih melanjutkan pendidikannya di pesantren, sedangkan kakekku sepertinya lebih berbakat menjadi petani, mewarisi bakat tani bapaknya, alias buyutku. Dengan bakat dan ketekunan masing-masing, keduanya sukses: Kyai Mualimin di-kyai-kan oleh warga kampung karena kealimannya, sedangkan kakekku, cukup sukses dengan garapan sawahnya. Nasib memang menggariskan keduanya tetap akrab sampai tua. Jika dulu akrab sebagai teman kecil, sekarang akrab sebagai teman ngaji. Bedanya, Kyai Mualimin menjadi kyai, dan kakekku menjadi salah satu jamaah setia pengajian subuhnya, sejak pertama kali Kyai Mualimin membuka pengajian itu berpuluh tahun silam, sampai akhirnya Kyai Mualimin memutuskan memberhentikan pengajiaannya.
Kata kakekku, seingatnya, beberapa kitab yang pernah diajarkanya dalam rentang puluhan tahun itu antara lain al-Hikam karya Ibnu Athaillah, Adab al-Dunya wa al-Din karya Imam Mawardi, Riyadh al-Shalihin karya Imam Nawawi. Hanya itu yang kakekku ingat. Kata kakekku, hebatnya Kyai Mualimin, dia tidak hanya menguasai isi kitab-kitab itu, ia juga menguasai riwayat pengarangnya yang penuh hikmah, yang sering pula ia ceritakan di sela-sela pengajiannya. Hebatnya kakekku, ingatannya cukup kuat dan tidak pikun. Ya, paling tidak untuk menceritakan nama kitab sekaligus pengarangnya.
Tapi sayang, sore itu, cerita tentang pengajian Kyai Mualimin menjadi episode terakhir – yang sebelumnya diawali dengan episode suksesi kades dan kantor kades yang dicat hijau, episode kawan seangakatannya yang mangkat dan bayi yang lahir, episode garapan sawahnya yang diserahkan ke orang tuaku, dan beberapa selingan lainnya – dan tidak sampai pada detil kenapa Kyai Mualimin memberhentikan pengajiaanya yang sudah berlangsung puluhan tahun itu, karena terpotong azan magrib. Kakekku mengajakku jamaah di langgar depan rumah. Ah, ternyata lama juga aku mendengarkan cerita-cerita kakek. Aku perhatikan, kakekku sudah tiga kali nglinting klobot dari tembakau dan daun jagung yang dikeringkan – warga kampungku menyebutnya klaras – menemani ceritanya. Mungkin, aku akan meminta kakek melanjutkan cerita pengajian Kyai Mualimin yang tak tuntas itu, besok pagi setelah sarapan, atau sore hari selepas asar.
Esoknya, di sore hari, aku lihat kakekku sedang duduk santai di lincak, tempat duduk lebar dari bambu bikinannya, di teras rumah. Masih mengenakan peci hitam dan sarung. Baru turun dari langgar. Jika sudah begitu, apalagi yang paling enak selain menikmati lintingan-lintingan klobot, untuk membunuh sore, seperti biasanya.
“Patua, sekarang, kan, sudah banyak rokok pabrikan. Tinggal hisap, praktis, tidak perlu repot ngelinting-ngelinting begitu,” kataku.
“Bukan begitu, Nang. Ini soal seni dan kenikmatan. Lagi pula, patuamu ini tidak cocok menghisap rokok pabrikan itu. Ya bagaimana, wong, sudah biasa ngelobot begini.”
Ya, sudah. Lagian, itu cuma prolog basa-basi saja. Tujuan utamaku mendekati kakek adalah memintanya melanjutkan cerita soal pengajian Kyai Mualimin.
Kakekku tiba-tiba terdiam, dan raut mukanya seketika berubah, saat mendengar aku memintanya melanjutkan cerita. Begitu mendalamkah cerita itu bagi kakek?
“Kamu tahu Mba Qonita, kan? Anak bontot dan satu-satunya perempuan di antara anak-anak Kyai Mualimin itu?”
“Iya.” Tentu saja aku ingat. Dia kakak kelasku berapa tingkat di madrasah dulu. Tapi dia sampai kelas lima saja, untuk kemudian dikirim ke pesantren di luar daerah oleh bapaknya.
“Kenapa memangnya, Patua?”
Aku penasaran oleh pancingan-pancingan cerita kakek. Dan akhirnya, kakek bercerita juga…
“Mba Qonita, biarpun perempuan dan masih muda, dia itu bakal meneruskan bakat alim Kyai Mualimin, bapaknya. Sejak kecil sudah dimasukan pesantren. Kalau Kyai lagi tidak enak badan, Mba Qonita yang menggantikannya mengisi pengajian subuh. Meski belum sealim bapaknya, tapi ada bakat untuk itu. Mas-masnya justeru tidak ada yang bisa ngaji. Wong, tidak ada yang mau nyantren. Pada jadi pengusaha atau nggarap sawah.”
Aku mengangguk untuk suatu kewajaran. Mba Qanita memang terkenal cerdas, juga shalihah. Tentu saja cantik.
Klobot pertama habis. Kakekku memberi jeda cerita. Kembali ia ngelinting klobot.
“Terus?” kataku, melihat lintingan itu sudah terbakar, dan dihisapnya.
“Wallahu’alam. Ceritanya aneh. Ajaib.”
“Suatu ketika, Mba Qonita hamil. Dan itu diketahui setelah kandungannya berusia empat bulan. Padahal semua tahu, dia belum menikah. Semua terkaget. Tentu saja ini menjadi berita besar, dan dengan segera menyebar rata di seluruh penjuru kampung. Menjadi gunjingan di mana-mana. Di sawah, di kali, di kantor desa, di langgar, di pengajian muslimat dan fatayat, di pengajian reboan ibu-ibu, di lingkaran tahlilan bapak-bapak setiap malam jumat, apalagi di kumpulan-kumpulan dadakan semacam didisan dan petanan (cari kutu rambut) para ibu-ibu yang biasanya lebih seru jika dibumbui dengan ngerasani. Maklum, yang jadi berita adalah keluarga Kyai Mualimin, tokoh paling dituakan dan berpengaruh untuk soal agama.”
Pokoknya, kehamilam Mba Qonita menjadi isu top di segala forum.
“Bermacam reaksi menyeruak. Terkuaklah apa yang selama ini tersembunyi. Siapa-siapa yang selama ini dengan tulus menghormati Kyai Mualimin, tulus mengikuti pengajiannya, siapa-siapa yang berpura-pura bermuka manis di hadapannya tapi hatinya meneteskan liur asam, siapa-siapa yang selama ini menyimpan kebencian terselubung kepadanya. Tapi barangkali wajar, jika bermacam reaksi negatif bermunculan, mengingat yang terjadi dianggap aib yang mengotori kampung yang cukup relijius ini.”
“Ini juga mempengaruhi pengajian subuh yang diampunya. Sejak, pertama kali berita itu menyebar, semakin hari, para jamaah pengajian semakin menyusut, seperti sudah tidak percaya lagi kepada Kyai Mualimin. Katanya kyai yang alim soal agama, tapi ngurus anak sendiri saja, perempuan lagi, tidak becus, sampai bisa hamil di luar nikah begitu. Kira-kira seperti itulah yang digunjingkan warga. Hanya segelintir orang yang masih mau ngaji, termasuk Patuamu ini. Bahkan, oleh kades, atas usulan beberapa warga, Kyai pernah diminta untuk tidak lagi memberikan pengajian. Tapi Kyai menolak, alasanya selama masih ada yang mau ngaji, biar segelintir, ia tidak akan menghentikan pengajiannya. Alasannya diterima, tapi dengan catatan, tidak boleh menggunakan pengeras suara.”
“Sementara berita kehamilan Mba Qonita menggelinding liar di masyarakat – tak lagi diketahui yang mana fakta, yang mana desas-desus, semuanya campur baur menyaru bersama opini-opini, terkadang cacian dan umpatan – keluarga Kyai Mualimin sendiri tidak kalah dibikin ruwet. Masing-masing anggota keluarga terbakar emosi dengan kadar panas yang berbeda. Mas-masnya yang paling mendesak Mba Qonita agar mau mengakui, laki-laki mana yang menghamilinya. Ibunya hanya diam, tapi jelas memendam kekesalan. Kyai Mualimin sekali pernah menampar Mba Qonita. Sekali-kalinya kekerasan terhadap keluarga yang pernah ia lakukan. Wajar, itu reaksi spontan orang yang kaget untuk hal yang tidak wajar dan dianggap aib. Yang aneh, sejak pertama kali berita kehamilan Mba Qonita diketahui keluarganya, Mba Qonita mendadak jadi bisu, gagu. Wallahu a’lam. Itu yang aku dengar langsung dari Kyai Mualimin. Jadi, bagaimana dia mau menjelaskan atau membela diri atas desakan-desakan keluarganya.”
“Kasihan, Mba Qonita. Di dalam rumah ia terpojok. Di luar rumah orang-orang ramai mengolok. Siang malam hanya bisa menangis. Di kamarnya ia mengunci diri.”
Lagi-lagi, kakek memberi jeda, untuk membakar klobot-nya yang padam karena beberapa saat tak dihisap. Aku jadi ikut hanyut, emosional mendengar empati kakek terhadap nasib Mba Qonita.
Kakek menghisap klobot yang baru dibakarnya, dengan kenikmatan mendalam.
“Terus?”
“Yang selanjutnya terjadi, keadaan malah semakin menyudutkan Mba Qonita.” Cerita kakek, kalau aku bahasakan begini: Mba Qonita tidak hanya tersudut secara kultural, tapi juga terdesak oleh kekuatan struktural.
“Suatu malam, kades dan beberapa ketua RW mendatangi rumah Kyai Mualimin, untuk menyampaikan, yang kata kades sendiri, adalah suara warga. Kata kades, warga meminta agar Mba Qonita dititipkan saja ke sanak keluarga Kyai di luar kampung. Kasarnya, diusir keluar kampung. Kata kades lagi, warga khawatir, aib ini akan membawa musibah bagi kampung. Jika sudah dititipkan keluar kampung, Kyai Mualimin boleh memberikan pengajian dengan menggunakan pengeras suara.”
“Kyai Mualimin setuju?”
“Iya.” Sejenak kakek memberi jeda, untuk menghisap rokok klobot-nya.
“Terus?”
“Kamu tahu, Nang?”
“Apa itu?”
“Cerita ini aku dengar langsung dari Kyai Mualimin…”
” ‘Pada suatu pagi buta, di mana aku biasa melaksanakan tahajud, tiba-tiba ada suara ketukan di pintu rumahku. Setelah kubuka, aku terkejut, ternyata itu adalah sosok putriku, Qonita, yang tujuh bulan lalu aku usir, aku titipkan di sanak saudaraku di luar kampung. Ia mengenakan jubah hitam. Wajahnya putih, bersih, dan bersinar. Benar-benar bersinar. Ia membopong seorang bayi. Aku hanya melotot. Heran, kaget, dan takjub bercampur jadi satu. Tapi, sesungguhnya ada rasa haru juga di hatiku.’
” ‘Setelah putriku masuk dan duduk di kursi, dalam hitungan detik, sinar di wajahnya tiba-tiba berpindah ke wajah sang bayi yang masih di pangkuannya. Dan ini yang hampir aku tak percaya, bayi itu tiba-tiba bisa bicara! Bukan suara anak kecil, tapi suara orang tua yang berat dan berwibawa!’
” ‘Aku langsung terduduk di lantai, lemas. Aku merasakan dingin yang tiba-tiba merasuk di sekujur tubuhku, ketika bayi yang wajahnya bersinar itu memberondongiku dengan perkataan-perkataannya. Aku merinding mendengarkannya.’
” ‘Kenapa, Mualimin?! Kenapa kau sepertinya kaget dengan ini?!’
” ‘Kenapa Kau heran, meradang dengan apa yang terjadi pada Qonita?!’
” ‘Kenapa hatimu buram, pikiranmu buntu melihat kehamilan Qonita yang tanpa ayah?!’
” ‘Kenapa Kau melihat itu sebagai kemustahilan?!’
” ‘Apakah hatimu ragu akan kuasa Allah, saat mulutmu begitu memukau menyampaikannya dalam ceramahmu setiap pagi?!’
” ‘Mualimin, kau yang dikenal alim di sepenjuru kampung, tapi tampak kerdil oleh kehamilan putrimu.’
” ‘Tak tahukah Kau, mudah saja bagi Allah menjadikan Qonita hamil tanpa ayah sekalipun, sebagaimana mudahnya Ia menjadikan warga menyebutmu “kyai”?! Apakah Kau berpikir warga memanggilmu “kyai” sebagai kewajaran karena ada sebab-musababnya, sementara kehamilan Qonita yang tanpa sebab Kau anggap sebagai ketakwajaran?!’
” ‘Mualimin, Kau alim dan begitu mencintai pengajianmu. Penyakit orang sepertimu, orang alim yang pandai mengaji, adalah tak mau ngaji dan belajar lagi. Merasa dirinya telah alim. Lebih merasa pantas diri menjadi pengajar, ketimbang mengambil pelajaran.’
Cerita sore itu dihentikan oleh kumandang azan magrib. Kakek kembali mengajakku shalat jamaah di langgar. Saat berangkat ke langgar, aku sempat mengungkapkan keheranan akan cerita ajaib tentang Kyai Mualimin itu.
“Wallahu a’lam, Nang. Tapi itulah yang aku dengar dari Kyai Mualimin sendiri, beberapa hari setelah peristiwa itu, setahun yang lalu. Dan katanya, Patuamu ini satu-satunya orang yang diceritainya. Dan Kamu, Nang, orang kedua yang tahu, setelah aku. Dan sejak peristiwa itulah, Kyai Mualimin menghentikan total pengajiannya di masjid.”
Malam harinya, aku benar-benar sulit tidur. Cerita kakek mengiang-ngiang di benakku, memporak-porandakan nalarku. Masih heran betul. Tapi aku masih sempat berpikir: bagaimana kondisi bayi ajaib itu saat ini, juga Mba Qonita? Ah, mungkin nanti aku bisa tanyakan kepada kakek, atau meminta kakek mengajakku bertamu ke rumah Kyai Mualimin.[jr]
Ciputat, 17 Desember 2008
…….
* Patua: bapak tua atau kakek.
* Nang: lanang atau anak laki-laki
Jiwa
Monday, December 8, 2008 § Leave a Comment
“Aku minta maaf untuk semua yang terjadi.”
“Jangan minta maaf. Lebih baik berdoa, agar hatiku segera luluh, sehingga bisa lega memaafkamu. Aku hanya butuh waktu untuk kembali seperti semula.”
“Kamu masih sakit hati?”
“Biarkan itu terjadi. “
“Aku minta maaf.”
“Tak perlu minta maaf. Masalah bukan pada kamu. Justeru pada diriku.”
“Tolong, maafkan aku.”
“Kamu tak perlu terbebani oleh sakit hatiku. Ini masalahku.”
“Tapi aku yang membuatmu terjebak pada masalahmu itu. Aku yang telah membuatmu sakit hati.”
“Memberikan kata maaf itu sangat mudah, sama mudahnya dengan memintanya.”
“Kamu meminta syarat untuk memaafkanku?”
“Tidak.”
“Lalu apa? Aku gelisah oleh ini.”
“Gelisah?”
“Iya. Tolonglah aku.”
“Tidak. Aku tidak bisa menolongmu. Aku tidak bisa memaafkanmu.”
“Tolong. Tolong, maafkan aku.”
“Kenapa?”
“Ini memang kesalahanku. Kebodohanku. Ini benar-benar membuatku gelisah.”
“Meski bermula dari kesalahanmu, tapi sesungguhnya, sakit hatiku ini adalah masalahku. Tak lagi terkait denganmu.”
“Ini membuatku tidak tenang.”
“Apakah hanya sebuah kata maaf dapat membuatku tenang, melepaskan kegelisahanmu?! Sesungguhnya bukan kepadaku kamu harus minta maaf. Minta maaflah pada dirimu sendiri. Jiwamu yang dapat memaafkanmu, menenangkanmu.”
“Aku menyesal.”
“Sebagaimana sakit hatiku. Bukan penyesalanmu, bukan permintaan maafmu yang dapat menyembuhkannya. Tapi diriku sendiri, jiwaku sendiri.”
“Sungguh, maafkan aku.”
“Sakit hatiku hanya soal waktu. Kegelisahanmu, kebersalahanmu juga hanya soal waktu.”
“Tolong…”
“Jangan mengiba maaf saat aku sakit hati. Minta maaflah pada dirimu.”
“Aku menyesal, aku gelisah, aku tidak tenang.”
“Biarkan itu terjadi.”
“Kamu dendam?”
“Tidak. Jika aku dendam, moralku telah kalah. Kemenanganku adalah saat aku dapat menenangkan diriku sendiri, bukan karena kamu menyesal, mengiba maaf, kemudian aku memaafkanmu.”
“Kamu membenciku?”
“Aku tidak tahu.”
“Kau masih mencintaiku?”
“Aku tidak tahu.”
“Sekarang, Kamu membuatku bingung.”
Ciputat, 8 Desember 2008
Kwitansi
Monday, November 10, 2008 § 1 Comment
Jika ada yang paling aku tunggu saat ini, itulah adzan maghrib. Bolak-balik aku lirik jam. Ah, tapi baru jam empat. Jika “baru” berarti waktu yang dinantikan masih begitu jauh. Sepertinya lelet betul waktu berjalan. Aku tak sabar bercampur gelisah menunggu waktu di mana hari baru dalam kalender hijriyah akan bermula. Maklum, hari ini aku sedang puasa.
Elho, hari Minggu, kok, puasa?
Ssst…! Dengarkan, ini puasa sebab keadaan darurat. Tapi, ini sungguh-sungguh puasa. Ritualnya, syarat dan rukunnya aku penuhi. Jadi, secara fikih, puasaku itu sudah betul, hanya saja sedikit aku politisir: ada kepentingan ekonomi laten di sana. Jadi, puasaku itu mencakup dua bidang sekaligus, yaitu bidang agama dan bidang ekonomi. Aku tidak hanya sedang beribadah tapi sekaligus sedang melakukan upaya penataan ekonomi untuk menghadapi krisis yang sedang menderaku. Intinya, aku lagi bokek. Sial! Dan duit yang aku punya saat ini adalah selembar sepuluh ribu perak yang sudah dianggarkan untuk berbuka nanti. Betapa berharganya duit sejumlah itu jika berada di tempat dan waktu yang tepat. Aku timang-timang duit semata wayang itu dengan penuh kasih sayang seperti anak tunggal yang cerdas dan menjadi harapan masa depan.
Memang, minggu-minggu ini kehidupanku ibarat pensil yang meruncing pada ujungnya. Semakin hari, semakin cekak saja duitku, semakin harus irit pula aku mengeluarkannya. Dan hari ini adalah ujung paling ujung dari pensil, ketika aku harus bertahan hidup hanya dengan sepuluh ribu rupiah itu. Bahkan, adegan bertahan itu telah dimulai sejak tadi malam. Dan syukurlah, sampai sore ini aku masih bisa makan, bahkan mungkin sampai besok. Aku tidak mungkin akan menghabiskan sepuluh ribu itu untuk sekali makan saat berbuka nanti. Subsidi anggaran makan harus dikurangi. Ingat, ini masih krisis. Setiap rupiah yang keluar harus atas azas fungsi dan manfaat pokok. Pengeluaran-pengeluaran sekunder biar dihentikan dulu jika ingin tetap bertahan sampai pada saatnya nanti aku kembali berlimpah duit. Entah kapan.
Seperti siang tadi, aku menolak dengan halus pengemis yang mendatangi rumahku, maksudnya, rumah kontrakanku, dengan modus infak pembangunan masjid. Ya, bagaimana lagi, duit sepuluh ribu itu adalah pertahanan pangan terakhirku. Bagaimana aku bisa berbelas kasih kepada orang lain sementara aku sendiri butuh dikasihani. Tapi, keluhan semacam ini hanya ada dalam hatiku. Tidak mungkin, keadaan tak ideal itu aku umbar kemana-mana, ke kawan-kawanku, misalnya, apalagi demi mendapatkan belas kasihan.
Maaf, aku memang tidak mau dibelaskasihani. Ditawari pun aku pantang (tentu aku akan menolaknya dengan sehalus-halusnya agar tak menyinggung perasaan orang yang bermaksud baik), apalagi meminta belas kasihan. Ini soal prinsip. Bagiku, orang yang memberi belas kasihan adalah seorang hipokrit yang narsis. Orang yang berbelas kasih kepada orang lain sesungguhnya ia sedang memanifestasikan cintanya kepada diri sendiri, bukan karena cintanya kepada sesama, bukan karena altruistis atau al-itsar dalam bahasa Arab, bukan karena kesediaan ingin membantu yang lahir dari sifat kedermawanan. Setelah memberikan belas kasihan, ia akan melihat dirinya sendiri sambil bergumam syukur semu, “Alhamdulillah! Terima kasih, Tuhan. Ternyata, aku masih beruntung”. Maka, konteks yang terjadi adalah hubungan antara “si beruntung” dengan “si buntung” yang tak beruntung. “Si beruntung” yang sedang memanfaatkan ketak-beruntungan “si buntung” untuk bersyukur. Ya, mungkin juga belas kasihannya adalah ekspresi ketakutan dan ketidak-mampuan menanggung beban jika dirinya yang berada pada posisi “si buntung” itu. Ah, narsis!
Nah, tapi itu orang lain. Aku tidak seperti itu. Kalau aku, sih, apa yang aku berikan, aku hutangkan, aku sedekahkan, tentu saja atas dasar kedermawananku. Aku tidak punya rasa belas kasihan, yang aku punya adalah kedermawanan. Pemberian seorang dermawan biasanya didasarkan pada kebutuhan faktual orang yang diberi, bukan semata-mata “menggugurkan kewajiban”, maka asal saja memberi. Kepada pengemis, misalkan, aku selalu mengestimasikan kebutuhan makan mereka, minimal dalam satu hari, atau paling tidak sekali makan. Maka, nominal minimal yang mampu aku berikan kepada pengemis adalah sepuluh ribu rupiah. Cukuplah untuk makan dua kali sehari dengan porsi yang memadai atau untuk sekali makan dengan lauk agak mewah, bagi ukuran mereka tentu. Dan, sekali lagi, itu atas dasar kedermawananku, bukan karena kasihan.
Berdasarkan kedermawananku itu, lantas aku punya prinsip selanjutnya: tidak akan melibatkan orang lain pada setiap masalahku. Termasuk soal krisis ini. Aku lebih memilih menyunat subsidi anggaran makanku dengan berpuasa atau mengurangi jatah makan ketimbang berhutang kepada kawan. Aku tak mau merepotkan orang lain atas masalahku. Juga demi harga diri. Gengsi, seorang aku berhutang. Hendak kutaruh di mana mukaku dan apa kata dunia, jika aku yang dermawan, terbiasa menjadi tumpuan kawan-kawan dalam berhutang, kok ya, ikut-ikutan berhutang. Tidak! Itu tidak akan terjadi. Jangankan berhutang yang tentu akan menurunkan derajat kedermawananku, bahkan, untuk sekedar tahu keadaanku yang sedang cetek duit ini pun, mereka tak akan kubiarkan. Lebih baik lapar mempertahankan harga diri ketimbang kenyang dengan merendahkan diri mengemis dikasihani.
Aku tidak mau harga diriku dekaden karena masalah duit, meski dengan duit pula aku mendapatkan harga dan citra diri yang pantas di antara kawan-kawanku. Di antara mereka, citraku adalah seorang dermawan. Berhutang kepadaku tak sulit. Bahkan aku sering tak menagih hutang-hutang itu. Jika dibayar, syukur. Jika tidak, entah sengaja karena tahu aku dermawan atau karena lupa, juga tak masalah. Perlakuan yang baik, hubungan yang harmonis, dan penghargaan yang layak, sudah cukup bagiku.
Hah, adakah yang lebih nikmat dari seorang yang lapar selain bermalas-malasan sambil berkhayal?!
Kembali aku lirik jam. Asem! Baru jam lima kurang seperempat. Kok, ya, dunia ini lambat betul berputarnya. Aku jadi semakin sebal saja dengan putaran menit dan detik dari jam dinding laknat itu. Berkali-kali dilirik sepertinya semakin malas saja berputar. Tidak tahu apa, cacing-cacing pada bergeliat menari keroncongan sambil menusuk-nusuk dinding perutku!
Duit semata wayang sepuluh ribu perak yang sudah lusuh bin kumal binti kucel itu, yang dalam waktu kurang dari satu jam akan segera berkurang untuk menjadi sebungkus nasi warteg tanpa es teh manis sebagai menu berbuka puasa, aku tatap dengan rasa haru seperti pandangan seorang pengasih terhadap kekasihnya yang hendak berlalu. Aku pandangi duit itu sambil glelengan malas di depan televisi seperti orang lumpuh. Televisi menyala tapi tak aku tonton-perhatikan.
Sementara itu, di hadapanku terhampar bayang-bayang samar tak jelas yang mencitrakan hari-hari esokku. Seketika aku pecahkan, aku gecek, aku idek-idek bayang-bayang sialan itu.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu, membuyarkan segala macam pikiran yang berputar-putar di otakku.
“Assalamu’alakum…”
Siapa lagi itu. Ah, semoga keberuntungan. Dengan malas karena lemas kubuka pintu.
“Wa’alaikum salam…”
“Permisi, Mas Tris. Maaf, kalau mengganggu.”
“O, tidak. Lagi santai, kok.”
“Ini, Mas, seperti biasa.” Seseorang yang sudah akrab di lingkunganku itu menyerahkan selembar kertas yang sepertinya sudah dipersiapkan sebelumnya, bertuliskan:
No: 15. Telah diterima dari: TRISNO ARTHO. Uang sejumlah: SEPULUH RIBU RUPIAH. Untuk pembayaran: KEBERSIHAN DAN KEAMANAN RT 05/RW 08.
Glek!!!
—
Ciputat, 9 November 2008
Kursi Plastik Stasiun
Wednesday, November 5, 2008 § 2 Comments
Sudah dua jam kereta api bertolak dari Stasiun Senen, belum ada tanda-tanda keakraban di antara para penumpang dua jok saling berhadapan itu, ditambah satu anak kecil yang tertidur tenang di pangkuan ibunya. Sedangkan Listya Lestari masih memandang keluar jendela. Mamandang setiap benda, bangunan, pohon, tiang listrik, atau apa saja yang dilewati oleh sorotan mata sipitnya. Tapi perhatiannya tidak benar-benar tertuju pada apa yang dipandangnya.
“Turun di mana, Dik?” suara bapak-bapak yang duduk di sampingnya sedikit mengagetkannya. Lamunannya seketika buyar. Serta merta dia mengalihkan pandangannya ke arah suara tersebut.
“Saya? O, saya turun di Stasiun Tugu,”
“Saya Jogja juga. Adik Jogjanya mana ya?” bapak itu ternyata minta lebih detail.
“Kotagede,” Listya tetap menjawab pendek. Ia sungguh tidak memahami apa kepentingan bapak ini bertanya demikian, dan orang-orang lainnya yang kerap ia jumpai pada beberapa perjalanan Jakarta – Jogja dan Jogja – Jakarta, selain basa-basi.
“Di Jakarta kerja?” tanya bapak itu menduga.
Kerja?! Masak, tidak bisa membedakan mana tampang pekerja, buruh, pembantu, dan mahasiswa, sih?! Memang, wajah saya, yang kata temen-temen manis ini, cocok sebagai sosok buruh, pembantu, atau pekerja? Enak saja! Setidaknya, kan, beda, wajah mahasiswa terpelajar dengan sosok lainnya!
“O, tidak, Pak! Saya masih kuliah.”
“Jadi masih kuliah?! Bagus! Raji-rajin saja kuliahnya!” Nasihat khas orang tua. Selama bolak-balik Jakarta-Jogja, Jakarta-Jogja, nasihat ini adalah untuk yang kesekian kalinya Listya dengar dari kenalan perjalanannya, yang rata-rata memang orang paruh baya seperti bapak itu.
Seiring dengan perjalanan kereta yang semakin jauh meninggalkan Jakarta, obrolan mereka pun semakin jauh, tepatnya berragam. Dari perkenalan itu Listya tahu, bapak seumur baya itu punya nama Sarman.
Pukul setengah lima sore, kereta sudah memasuki Jawa Tengah. Sekitar dua jam lagi, kereta akan sampai di Stasiun Purwokerto. Sedangkan untuk sampai ke Jogja, masih butuh waktu sekitar lima jam lagi. Benar-benar perjalanan yang melelahkan. Listya Lestari tampak terkantuk.
“Bruk!”
Suara yang muncul tiba-tiba, yang menyertai barang jatuh, mengagetkannya. Ia seketika terbangun dari tidurnya. Masih terkaget-kaget. Wajahnya kusut dan sedikit berminyak. Ia mencari-mancari sumber suara itu.
“Maaf, ini tas saya,” kata Listya sambil mengulum senyum. Ia sedikit kesakitan. Kaki kirinya tertimpa tasnya yang jatuh itu, sebab posisi kereta yang miring mengikuti rel yang berbelok. Listya Lestari segera mengambil tasnya, dan akan menaruh kembali di tempat semula. Tiba-tiba ia terhuyung-huyung.
“Mari saya bantu!” Pak sarman berdiri menawarkan diri. Listya segera minggir sedikit, memberi ruang kepada Pak Sarman untuk meletakkan tasnya, tapi masih tetap berdiri.
“Terima kasih!” kata Listya, lagi-lagi dengan mengulum senyum. Kemudian keduanya duduk kembali.
Listya Lestari memandang keluar jendela. Yang dilihatnya hanya pemandangan perbukitan dan sawah.
“Sudah sore,” katanya dalam hati. Kemudian ia melirik jam di tangannya.
Sepasang suami istri di jok depannya, beserta anaknya itu, telah bersiap-siap untuk turun. Barang-barang bawaanya, satu tas yang berukuran cukup besar, satu lagi berukuran sedang dan satu kardus mereka turunkan. Agak kerepotan. Listya turut membantu menurunkannya.
Kereta api memasuki Stasiun Purwekerto, semakin lambat melaju. Dalam hitungan detik, kereta akan benar-benar berhenti.
“Mari, Dik, Pak, saya duluan!” bapak-ibu itu beranjak dari kursi. Listya Lestari dan pak Sarman mempersilakan
Bapak-ibu itu berjalan tergopoh-gopoh membawa barang bawaannya. Bapak-ibu itu berjalan merayap pelan, berhimpitan dengan penumpang lain yang hendak keluar, ditambah dengan lalu-lalang pedagang asongan yang menjajakan barang dagangannya. Menambah sesak saja.
“Gorengannya, Bu!” kata Listya Lestari kepada seorang ibu penjual gorengan yang lewat di depannya. Listya membeli beberapa gorengan dan lontong. Tampaknya ia lapar. Bayangkan, selama kurang lebih perjalanan sembilan jam, yang masuk ke perutnya cuma air mineral. Makanan terakhir yang masuk ke perutnya hanyalah sarapan pagi, sebelum berangkat tadi. Untuk mengalau laparnya, selama perjalanan, ia lebih memilih banyak tidur, meski dengan segala ketidaknyamanan. Namanya juga kereta api ekonomi. Lebih baik menahan lapar, ketimbang makan teratur seperti biasa, terus perut moncrot-moncrot, seperti yang pernah terjadi sebelumnya.
“Berapa, Bu?” kata Listya Lestari yang kemudian dijawab oleh ibu penjual gorengan tadi, dengan menyebutkan sejumlah nominal. Listya Lestari merogoh saku bajunya, meraba-raba. “Kok, nggak ada,” hatinya berbisik, bingung, dompet yang dicarinya tidak ada. “Celaka!” sebentar ia sedikit berpikir, ke mana gerangan dompetnya itu.
Ups! Ternyata dia lupa, kalau semua barang bawaan miliknya, termasuk barang-barang titipan ibunya, ia masukan ke dalam tasnya. Ia menghela napas, lega. Ia segera berdiri mengambil tasnya, membuka dan mengambil dompetnya.
Listya Lestari menawarkan kepada Pak Sarman, gorengan yang dibelinya tadi. Pak Sarman menolak dengan sangat halus, sambil mengucapkan terima kasih. Kebetulan. Sebenarnya ia pun hanya basa-basi saja. Ia memang kelaparan.
“Itu tas kamu?” Listya mengiyakan pertanyaan basa-basi dari Pak Sarman.
“Hati-hati saja. Banyak yang suka ambil kesempatan pada saat seperti ini. Mereka pura-pura sebagai penumpang atau pedagang, padahal mereka sedang mengincar barang-barang para penumpang,” Pak Sarman menasihati.
Listya memperhatikan omongan Pak Sarman sambil mengernyitkan keningnya. Sementara mulutnya asyik mengunyah gorengan. Hatinya berbicara sendiri, seharusnya ia tidak perlu menerima nasihat baik semacam itu. Dirinya sudah pengalaman. Ia tahu kapan saat-saat pencopet beraksi, dan kapan ia harus waspada, kapan juga harus membenamkan diri dalam tidur lelah.
Telah satu jam lebih kereta bertolak dari Stasiun Purwekerto. Kursi di depan Listya yang sebelumnya di tempati oleh ibu-bapak beserta satu anaknya, kini telah diduduki oleh seorang pemuda berjaket dan bertopi. Kedua telingannya tersumbat earphone walkman. Sementara, di luar, gelap malam dan udara dingin beriringan turun menyelimuti bumi. Udara dingin itu genit menggoda Listya Lestari. Ia menutup jendela bagian atas yang terbuka.
Listya Lestari, Pak Sarman hanya terdiam tak berbicara. Tidak ada selera lagi untuk ngobrol. Sedangkan si pemuda masih menikmati lagu dari walkman-nya itu. Lampu neon yang sepertinya telah lama tidak di ganti dan sarangnya sudah pecah, setia memancarkan sinarnya yang redup. Beberapa penjual asongan dengan suaranya yang khas, berlalu-lalu lalang menjajakan dagangannya.
Wajah Listya Lestari semakin kusut berminyak, karena berjam-jam tidak tersentuh air. Sudah berkali-kali ia membersihkan mukanya dengan tisu. Tidak tampak lagi wajah periangnya. Perjalanan yang kira-kira tinggal dua jam lagi itu, ia rasakan lama sekali. Semakin ditunggu, semakin dirasakan lama saja.
Wajah periangnya semakin tidak terlihat, ketika ia kembali diserang kantuk. Sebelum ia benar-benar membenamkan sadarnya dalam tidur, ia masih sempat melirik jam tangannya. Ia mendengus. Kemudian menyandarkan kepalanya. Agak miring ke kanan. Sementara Pak Sarman masih diam tenang, tapi tidak tidur.
“Heh, bangun, bangun! Sudah sampai. Ini stasiun terakhir. Ayo bangun! Mau dibersihkan!” suara keras dan kasar tukang sapu kereta kontan mengagetkan Listya. Ia terbangun, kemudian mengucek-ucek kedua matanya. Wajahnya kusut sekali.
“Sudah sampai. Ayo minggir, mau disapu!!!” tukang sapu itu meyakinkan.
Listya Lestari mencoba beradaptasi. Ia melihat ke sekelilingnya. Kosong. Semua penumpang sudah turun. Tinggal dirinya. Setelah merasa sadar betul, ia berdiri hendak mengambil tas ransel ukuran sedangnya.
“Lho, Nggak ada! Ke mana?!” hatinya berbisik. Wajahnya menampakkan raut orang bingung. Ia mencoba mencari tasnya di bawah kursi, siapa tahu jatuh. Tidak ada juga! Ia semakin bingung.
“Mas, mas! Lihat tas saya nggak?” Listya bertanya kepada tukang sapu yang tadi membangunkannya. Dengan tetap menyapu dan tidak menengokkan wajahnya kepada siapa yang bertanya, cuek, tukang sapu tersebut menjawab tidak tahu.
“Pasti, pasti! Pasti dia! Kurang ajar!”
Listya Lestari segera beranjak dari tempat duduknya. Dengan setengah berlari, ia berjalan menuju ke arah tukang sapu kereta itu. Hampir saja ia menabraknya.
Setelah keluar dari gerbong kereta nomor tiga, Listya Lestari melayangkan pandangannya ke segala arah, mencoba menemukan sosok yang paling dicarinya. Ia berjalan ke sana ke mari, namun sosok yang paling dicarinya itu tidak ada. Kalut, bingung, dan linglung.
Ia duduk di kursi plastik khas statisun. Rasa pegalnya yang sedar tadi tertimbun kebingungan, tiba-tiba mencuat di sendi-sendi tubuhnya.
Ia tidak tahu, harus bagaimana untuk mendapatkan kembali tasnya. Tas itu berisi barang-barang titipan ibunya, ponsel, beberapa baju, dompet kulit beserta tetek bengek isinya, serta barang-barang bawaan lainnya. Yang tersisa dari dirinya hanya jam tangan dan selembar uang sepuluh ribu dan lima ribu, sisa dari pembelian gorengan dan tempe serta air mineral. Ia belum memikirkan, apa yang akan ia katakan pada ibunya soal titipannya itu.
Jam dinding di Staisun Tugu menunjukkan pukul 21.15 WIB. Listya Lestari masih melamun bertopang dagu. Pandangan kosong matanya membentur kereta api eksekutif warna putih dengan dua strip warna biru dan kuning emas di sampingnya, dan berkaca jendela ray band. Tiba-tiba dadanya terasa sesak.
Udara malam Stasiun Tugu yang dingin menerpa seluruh tubuhnya. Ia tidak peduli. Ia pun tidak mempedulikan orang-orang yang berlalu-lalang di depannya, sebagaimana mereka pun tidak peduli dengannya.
Listya Lestari menyudahi lamunannya. Ia menegakkan badan yang sedari tadi membungkuk, kemudian menyandarkannya di sandaran kursi plastik. Matanya yang memang sudah sipit, ia sipitkan lagi. Bibir tipisnya ia katupkan, sambil menarik nafas panjang kemudian sedikit menahannya. Keduanya tangannya ia kepalkan.
“Uedddan sialan!!!”
Doa
Monday, November 3, 2008 § 1 Comment
Namanya Ayu. Nama lengkapnya Citra Ayu. Jika ada yang mengatakan, al-ismu ghair al-musamma, nama tak mencitrakan sosok, maka salah besar jika itu disandarkan kepada gadis pesona itu. Al-ismu huwa al-musamma, nama menunjukkan citra diri, ungkapan itulah yang sesuai untuknya. Sungguh, ia memang pantas menyandang nama “Ayu”. ia memang cantik, ayu. Sumpah! Sedikit aku pamerkan unsur-unsur kecantikannya: wajahnya oval berujung pada dagu yang lancip, matanya agak belo tapi sayu dengan bulu mata lentik alami, alisnya hitam pekat membentang indah, bibirnya merekah merah alami. Meski tak bangir-bangir amat hidungnya merupakan komposisi proporsional yang menjadi bagian sempurna kecantikannya, bulu-bulu sangat halus di atas bibir tapi bukan kumis, wajahnya putih bersih tak berjerawat. Ah, bikin bergairah saja. Atas kelebihan-kelebihan fisik pada dirinya itu, orang yang paling berbahagia tentu saja aku. Karena Citra Ayu adalah kekasihku. Sekali lagi, ke ka sih ku! Jadi, untuk semua laki-laki jangan lagi bermimpi bahkan untuk sekedar berharap bisa dekat. Atau harus berhadapan denganku.
Seandainya ia istriku, aku akan memintanya menjilbabi semua keindahan itu. Hanya aku lelaki yang boleh menikmatinya.
Sesungguhnya kehadiran Citra Ayu di sisiku bukan pada saat tepat ketika aku sedang menggebu ingin memadu kasih. Masa itu telah berlalu. Jauh sebelum mendapat anugerah indah itu, aku memang pernah berdoa kepada Tuhan, minta didatangkan seorang kekasih. Alasanya sepele: iri dengan teman-teman, iri setiap jalan ke kampus melihat teman-teman yang sudah punya pacar. Tidak main-main aku berdoa. Aku menyampaikannya kepada Tuhan lima kali sehari, selepas sembayang. Bahkan sembayang dhuha pun terkadang aku jalani. Sebab, bagiku kekasih adalah rezeki. Sampai akhirnya aku capek berdoa.
Kini, di sisiku telah ada seorang Citra Ayu. Ah, Tuhan, bisa saja Kau membuat kejutan. Terus terang, Ayu melebihi espektasiku. Aku mengharap yang cantik, tapi Ayu ini bukan hanya cantik, tapi cuuuwantik sekali, orang Jawa bilang. Dan, Ayu tak perlu merasa kecantikannya terbuang percuma dengan menjadi kekasihku. Ia cantik, toh aku juga tampan. Impas, bukan?!
Hari-hari kulalui bersama Citra Ayu. Kesana kemari tentengan bareng dengan hati berbunga-bunga. Indah. Aku masih hanya ingin menikmati “bulan madu” berpacaran, tak mau berpikir soal lain, termasuk soal umurnya yang lebih tua dariku. Padahal jika dipikir ke depan, kemungkinan aku mengalami patah hati seharusnya mendapatkan pertimbangan. Bagaimana tidak, aku dan Ayu telah berada pada usia matang untuk menikah. Semestinya, aku berpikir, pada usia Ayu sekarang ini, posisi tawarnya kian melemah, apalagi di hadapan orang tuanya yang mungkin berharap agar ia segera menikah. Dan aku sendiri juga tak punya posisi tawar tinggi, baik di hadapan Ayu atau pun orang tuanya. Yang aku punya hanya wajah tampanku dan kasih sayangku kepadanya. Selebihnya aku adalah lelaki yang belum siap menikah. Artinya, Ayu tak bisa mengelak jika tiba-tiba ia dijodohkan oleh orang tuanya dengan lak-laki mapan. Maka, aku hanya akan pasrah dan siap-siap patah hati saja jika itu benar-benar terjadi.
Halllah, persetan dengan semua itu! Masa bodoh dengan kemungkinan-kemungkinan! Yang penting, saat ini, aku jatuh hati kepada Ayu, dan ia pun kesengsem kepadaku, kemudian sepakat pacaran. Titik! Jadi, jalani dan nikmati saja itu.
Yang aku tak tahu sebelumnya tentang Ayu dan baru aku ketahui kemudian adalah ia mengidap vertigo. Aku terguncang hebat. Bagaimana tidak, ibarat sedang enak-enaknya menikmati es campur di tengah terik yang mencekik, tiba-tiba tersedak. Belum juga lama menikmati indahnya berpacaran, sudah dihadapkan pada kenyataan tak enak. Sudah terhitung dua kali ia tiba-tiba ambruk tak sadarkan diri di hadapanku. Vertigonya kambuh jika ada suara-suara keras atau memikirkan hal-hal berat. Biasanya, ia akan tak sadarkan diri selama lima sampai sepuluh menit (jika parah, bisa lebih lama dari itu), yang diawali dengan pandangannya yang kabur, kemudian merasakan seolah-olah bumi yang diinjaknya berguncang dan beputar, menghilangkan keseimbangan tubuhnya, dan ambruklah ia.
Sungguh, penyakitnya itu benar-benar menghilangkan selera berpacaranku. Cantik-catik, kok, vertigo. Aku jadi jarang mengajaknya kencan, dan dengan seribu satu alasan yang sangat halus, terutama alasan vertigonya, aku sering menolak jika ia mengajakku jalan-jalan jauh. Bayangkan saja, jika tiba-tiba vertigonya kambuh saat sedang boncengan di atas motor, kumat di atas kendaraan umum, atau saat sedang di bioskop. Alih-alih hendak menikamti kencan, justeru kerepotan yang bakal terjadi. Pun jika mau diajak jalan, aku hanya mau yang dekat-dekat dan itu pun dengan perasaan was-was, jika tiba-tiba ia ambruk.
Duh, Gusti, aku memang pernah meminta kepada-Mu seorang kekasih. Dan Kau memang mengejawantahkannya – meski agak tertunda – dengan sosok Citra Ayu itu. Dengan kelebihan-kelebihan fisik yang terpatri padanya, mataku memang terpesona, terkesan. Namun, dengan vertigo yang juga tertanam di kepalanya, jiwaku jadi tak dapat menikmati segala pesona dirinya. Jiwaku mati hasrat kepadanya. Nikmat berpacaranku sungguh mati tercerabut. Pikiranku kalut. Diaaamput!
Namun, aku tetap berusaha sama sekali tak menampakkan kegalauan jiwaku di hadapannya. Fisikku memang selalu menjaganya, meski jiwa ini berduka. Dan sesungguhnya dukaku tidak untuknya. Aku berduka untuk diriku sendiri. Aku menjaganya bukan karena ketulusan seorang kekasih yang menjaga kekasihnya. Aku menjaganya hanya karena aku tak mau disebut pecundang. Aku tak mau disebut sebagai kawan Ayu saat suka, namun lari saat ia berduka. Aku menjaganya cuma ingin menyelamatkan harga diriku bahwa aku adalah kekasih yang baik. Dalam hatiku, aku memaki diriku sendiri. Pecundang munafik sialan! Melengkapi kepecundanganku, sempat aku berpikir untuk meninggalkannya.
Di sisi lain hatiku, aku berapologi bahwa kepecundanganku adalah kewajaran. Itu adalah respon sepontan sementara seorang yang terguncang, bukan hasil pemikiran jernih. Aku hanya perlu menenangkan dan membiasakan diri dengan kondisi tak ideal itu. Kusampaikan pada Tuhan, jika Citra Ayu, dengan segenap kelebihan dan kekurangannya – terutama vertigonya – adalah kekasih sebagai pengejawantahan doaku dulu, berilah kekuatan kepadaku untuk bertahan menjaganya, atau sekalian lenyapkan saja vertigonya. Jika tidak demikian, Tuhan, Kau pasti tahu mesti berbuat apa. Tak perlu aku mendikte-Mu. Aku benar-benar ingin seperti pasangan kekasih lainnya. Kencan, jalan berdua tanpa beban, tanpa was-was. Aku sampaikan itu setiap kali lepas sembayang.
Benar, aku hanya perlu tenang dan membiasakan diri.
Suatu sore selepas ashar, aku dikabari oleh teman satu kontrakan Ayu, vertigo Ayu kambuh. Aku diminta segera datang. Kabar seperti itu akhirnya menjadi biasa bagiku. Aku menjadi lebih tenang jika tiba-tiba dia kambuh. Paling juga seperti biasa, ia akan tak sadarkan diri untuk beberapa menit, tinggal ditunggu saja sambil diolesi minyak kayu putih di hidungnya. Nanti juga sadar sendiri.
Tapi tidak kali ini. Awalnya memang gejala vertigo. Kurang lebih dua puluh menit Ayu tak sadarkan diri. Ia tersadar dengan berteriak sangat keras. Keanehan-keanehan terjadi. Matanya mendelik. Bayangkan sendiri, sudah belo, mendelik pula. Memandangi orang-orang yang mengerubunginya. Sebagian ketakutan. Mulutnya nyerocos tak karuan. Raganya memang Ayu, tapi jiwanya entah siapa. Setelah itu ia kembali lunglai, pingsan. Lalu tersadar. Kali ini dengan jiwa Ayu sesungguhnya. Ia terlihat kelelahan. Aku dan Ayu hanya saling memandang. Ayu memandangiku dengan sorotan lemah. Dan aku memandangi wajah layunya dengan penuh haru dan iba. Tanpa kata-kata, tapi jelas mengatakan sesuatu. Ketika bulir air mata keluar dari pojok matanya, hatiku yang menangis. Ketika raganya begitu tak berdaya, jiwaku yang terluka. Sungguh, itu adalah pandangan kasih sayang terdalam dan terdahsyat yang pernah kurasakan sepanjang hidup. Oh, Tuhan. Aku dan Ayu saling bergenggaman tangan kiri. Sementara tangan kananku membelai rambutnya. Sekali-kali kuseka pipinya yang basah oleh air mata, juga keningnya yang berkeringat. Kasihan aku melihatnya. Itu hanya beberapa saat, sebab setelah itu ia kembali pingsan. Kemudian terbangun, tapi bukan dengan jiwa Ayu, juga bukan jiwa yang tadi, tapi jiwa lain. Kali ini kemayu, genit, cukup tenang, bahkan bisa diajak berkomunikasi, tidak seperti jiwa sebelumnya yang cenderung liar. Sungguh, kali ini, ia tampak seperti sepuluh kali lipat lebih cantik dari biasanya. Entah jiwa apa yang merasukinya, tapi aku dapat memastikan, ia kesurupan. Kurang lebih empat jam raga Ayu seperti menjadi permainan jiwa-jiwa lain itu.
Aku pulang ke kontrakanku dengan perasaan campur aduk antara kasihan terhadap Ayu, juga terhadap diri sendiri, bingung, takut, khawatir, juga lega karena telah melewati masa-masa yang aneh malam itu.
Hari demi hari, minggu demi minggu berjalan tidak seperti yang kupikirkan. Ketika aku telah berusaha tenang dan membiasakan diri dengan Ayu dan vertigonya, kenapa keadaan malah lebih buruk. Apakah kali ini aku juga harus tenang dan membiasakan diri dengan kondisi yang lebih buruk itu? Aku tak yakin dapat menjalaninya. Kondisi sebelumnya saja sudah sedemikian rupa menyita pikiran dan perasaan. Gusti Pangeran, pandai benar Kau mempermainkan emosiku.
Aku dan Ayu menjalani pacaran tidak selayaknya dua orang kekasih. Entah perasaanku sendiri atau apa, aku seperti penjaga yang selalu khawatir dan was-was dengan yang dijaganya. Aku harus selalu siap, jika tiba-tiba vertigo Ayu kambuh, kemudian raganya menjadi tumpangan jiwa-jiwa lain.
Kesurupan jin. Aku tidak terlalu asing dengan itu. Dulu, saat nyantren di Jombang, teman-temanku bahkan kerap bermain-main dengan jin, menjadikan dirinya sebagai medium untuk dirasuki jin dalam rangka mengamalkan ilmu-ilmu supranatural sebagai uji kesaktian.
Tapi, yang terjadi pada Ayu ini sama sekali lain. Bukan permainan yang bisa diatur semaunya, tapi justeru Ayu, maksudnya, raganya yang seolah diatur, dipermainkan. Tidak hanya berbahaya bagi diri Ayu, baik untuk kesehatan fisik dan atau mentalnya (syaraf otaknya), tapi juga mengancam masa depan hubunganku dengannya. Betapa pun, bersama Ayu, aku masih punya keinginan menjadi pasangan kekasih yang normal. Dengan semangat itu, aku bujuk dia agar mau berobat ke orang pintar. Sebab, pokok dari semua yang menimpa Ayu sama sekali tidak berkaitan dengan medis. Tak tanggung-tanggung, aku ajak dia ke Jombang. Sebenarnya, itu atas usulan seorang teman di sana yang turut bersimpati dan merelakan rumahnya menjadi tempat tinggal selama Ayu menjalani pengobatan. Aku tahu, di sana banyak orang pintar dan sakti.
Di Jombang, Ayu bahkan harus ditangani oleh dua orang pintar. Orang pertama memang tidak berhasil menyembuhkan Ayu secara total, dan menyerah pada hari ketiga, tapi meninggalkan pesan, yang terjadi pada Ayu hanyalah beluk (asap). Setiap ada beluk, pasti ada api. Ia tidak bisa menemukan api yang dimaksud. Ah, aku sama sekali tidak paham maksudnya. Dan nanti malam adalah malam ketujuh, atau kali keempat untuk orang pintar kedua yang menangani Ayu.
Tapi pada malam itu tidak ada pengobatan sebagaimana malam-malam sebelumnya. Aku dan Ayu, juga segenap keluarga si kawan diminta berkumpul.
“Mba Ayu, Mas Danang,” kata si orang pintar meminta perhatian, “ada dua jin yang nggandol sama Mba Ayu. Yang pertama namanya Ki Gandheng, dan yang kedua Rokibah. Ki Gandheng nggandol di pundaknya. ia pengawal Rokibah. Sedangkan Rokibah sendiri bersenyawa di sekujur wajah Ayu.” Aku tidak bisa menalar semua itu. Ah, bisa dinalar atau tidak, percaya atau tidak, wis, pokoknya dengarkan sajalah.
“Tiga malam berturut-turut kemarin, saya dengan dua jin itu, terutama Ki Gandheng, bertempur. Ia cukup kuat. Ia tidak bisa disingkirkan. Tapi saya berhasil membujuknya. Kami berkompromi. Ia dan Rokibah mau dipindahkan dari raga Ayu dengan satu syarat.”
“Apa itu?”
“Ki Gandheng dan Rokibah hanya mau pindah ke tempat sebelumnya. Jika sudah pindah, maka Ayu hanya perlu mendapatkan penanganan medis untuk vertigonya.”
Ini berita baik buatku, juga buat Ayu.
“Syukurlah. Dan kalau memang bisa dipindahkan secepatnya, ya lebih baik.”
“Tapi saya perlu izin dari sampean dulu, Mas Danang.”
“Aku? Apa kaitannya denganku?”
“Soal tempat dua jin itu.”
“Tempat? Memang sebelumnya tinggal di mana?”
“Bukan “di mana”, tapi “siapa.”
“Iya, siapa?”
“Sampean.”
“Aku???!!!”
“Ya, sampean. Jin-jin yang nggandoli Ayu adalah jin-jin yang sebelumnya sudah lama, telah bertahun-tahun nggandol di pundak sampean.”
Aku merasakan sendi-sendi tubuhku seperti mlocoti. Tubuhku seperti tak bertenaga. Pikiranku kosong untuk beberapa detik.
“Lalu, kenapa jin-jin itu pindah ke raga Ayu? Apa hubungannya dengan Ayu?”
“Cemburu. Si Rokibah cemburu. Ia tidak ingin sampean dimiliki Ayu, atau memiliki Ayu, atau perempuan mana pun. Ia pindah ke raga Ayu karena ingin menyakiti Ayu, membuat Ayu gila. Ayu dianggap merebut sampean darinya. Dan sampean dianggap mengkhianati doa sampean sendiri.”
Mataku berkunang-kunang. Bumi ini seperti berguncang hebat. Kurasakan tubuhku tak bertenaga. Lalu, gelap.[jr]
Ciputat, 2 November 2008
Aisyah
Wednesday, May 14, 2008 § 3 Comments
Kurang lebih, dua tahun sudah Khadijah meninggalkan Rasul,[1] seorang istri yang begitu ia hormati karena kedewasaannya, loyalitasnya sebagai seorang istri yang secara total menyerahkan jiwa raga dan hartanya untuk perjuangan sang suami. Rasa hormat Rasul yang begitu besar terhadap Khadijah membuat ia sungkan berbagi hati selama dalam pelukannya.[2] Ia adalah satu-satunya istri Rasul yang mendapatkan kiriman langsung “salam“ dari Allah, dan salah seorang istri Rasul yang mendapatkan titipan salam dari Malaikat Jibril, selain Aisyah.[3] Tak ada alasan bagi Rasul untuk tidak selalu mengingat dan mengenang putri Khuwailid itu.
Namun ia takkan membiarkan dirinya terbenam kelam dalam alam kenangan dan menutup diri untuk membuka hatinya yang selama ini berselaput awan kabung. Bagaimana pun Khadijah adalah masa lalu, sedangkah ia masih dan akan berjalan menjejaki waktu, mengemban beban-beban risalah di pundaknya. Sepeninggal Khadijah, ia akan tetap membutuhkan dukungan sebuah keluarga.
Di antara rekan-rekan Rasul yang peduli dengan kesendiriannya dan tak segan menganjurkannya kembali menikah adalah seorang perempuan bernama Khaulah binti Hakim.
“Rasul, tidakkah Kau ingin menikah lagi?”
“Tentu saja ingin. Tapi dengan siapa?” Jawab Rasul.
“Aku memiliki pilihan yang mungkin sesuai dengan kecenderunganmu, baik janda atau yang masih gadis,” kata Khaulah memberikan pilihan. “Jika janda, dia adalah Saudah binti Zam’ah. Dia sudah menjadi pengikut ajaranmu.”
“Jika yang masih gadis, dialah Aisyah, putri Abu Bakar, sahabat yang paling Kau cintai itu.”
Rasul memandang pilihan Khaulah bukanlah pilihan yang buruk. Namun demikian, ia tidak serta merta menjatuhkan pilihannya. Ia hendak meneladankan bahwa pernikahan adalah kepentingan dua orang yang saling bercenderung. Pernikahan bukanlah ajang seorang laki-laki menjadi pemilih dan perempuan sebagai objek-objek pilihan. Betapapun Rasul bercenderung kepada salah satu dari dua orang itu, dengan pesona kenabiannya, ia tak hendak memaksakan kecenderungannya itu. Ia meminta Khaulah menjadi penghubung, menyampaikan terlebih dahulu hasratnya kepada orang yang dimaksud.
Atas perintah Rasul, Khaulah mendatangi keluarga Aisyah.
“Bu, aku datang kesini atas perintah Rasul,” kata Khaulah kepada Ummu Ruman, ibunda Aisyah, yang saat itu hanya dia yang ada di rumah.
“Dengan segala hormat, Rasul hendak meminang Aisyah, putri Ibu,” Khaulah memperjelas maksudnya.
“Maaf, aku belum bisa memutuskan. Alangkah lebih baiknya jika menunggu Abu Bakar pulang. Saat ini dia sedang keluar.” Kata Ummu Ruman yang disambut dengan anggukan oleh Khaulah. “O, baiklah, kalau begitu.”
Jeda beberapa saat, Abu bakar datang. Dan kepadanya, Khaulah mengulang apa yang tadi ia sampaikan kepada Ummu Ruman.
“Maaf, sebelumnya. Hmm…, bukankah aku saudara Rasul? Apakah pernikahan itu diperbolehkan?” Jawab Abu Bakar sembari menyampaikan pertanyaan ketidakpahaman. “Tolong, sampaikan itu dulu kepada Rasul.”
Khaulah kembali kepada Rasul dengan membawa pertanyaan dari Abu bakar. Beberapa saat kemudian, ia kembali kepada Abu Bakar dengan membawa jawaban dari Rasul.
“Abu, Rasul bilang, Kau dan Rasul adalah saudara dalam bingkai Islam, bukan dalam ikatan nasab. Jadi pernikahannya dengan putrimu diperbolehkan.”
“O, begitu…” Kata Abu Bakar sembari mengangguk-angguk paham.
Kepada Khaulah, untuk disampaikah kepada Rasul, Abu meminta waktu untuk berpikir.
Abu Bakar dan Ummu Ruman sebenarnya berada dalam dilema. Ia menyambut bahagia jika Rasul menjadi bagian dari keluarga besarnya, di sisi lain, sebenarnya ia dan istrinya telah terlebih dahulu melakukan pertemuan dangan keluarga Muth’im bin ‘Adiy, soal anak masing-masing. Abu Bakar merasa berat menolak Rasul sebagai mantunya, sekaligus merasa tidak enak hati jika harus menghentikan pembicaraan bersama kelauarga Muth’im. Ia terjepit di antara dua posisi yang sama-sama tidak ideal. Namun, ia harus memutuskan dan memilih satu dengan berusaha tidak menyakiti satu pihak yang lain.[4] Dan Abu Bakar memilih Rasul.
Akhirnya, Rasul dan Aisyah melangsungkan akad nikah di Makkah kurang lebih satu tahun sebelum Rasul hijrah ke Madinah. Saat itu, Aisyah berusia enam tahun.[5]
Sebelum menikah dengan Aisyah, Rasul telah beberapa kali memimpikannya. Dalam mimpi itu, Rasul melihat dirinya didatangi malaikat yang membawa wanita bercadar, dan mengatakan bahwa wanita itu adalah calon istrinya. Sang malaikat meminta Rasul membuka cadar wanita itu. Ketika dibuka, nampak jelas, paras yang ia lihat adalah wajah Aisyah. Ketika bangun, Rasul hanya berdoa, jika itu adalah petunjuk Allah, maka jadikan mimpi itu nyata.[6]
Aisyah menjadi istri pertama Rasul, setelah Khadijah wafat. Kelak, di antara para istri Rasul, ia adalah satu-satunya yang gadis.[7] Bersama Rasul, ia tumbuh menjadi perempuan paling cerdas pada waktu itu. Ia tidak pernah menyerah pada ketidaktahuan.[8] Gaya bicaranya lugas, tutur bahasanya fasih, dengan retorika yang argumentatif.[9] Selain sebagai istri, Aisyah adalah teman diskusi Rasul. Setelah Rasul wafat, ia menjadi tempat bertanya dan sumber ilmu bagi orang-orang.
Suatu kewajaran jika kemudian Aisyah menjadi istri Rasul yang paling ia cintai. Rasul bukanlah petualang cinta. Sebab itulah ia tak bisa berbagi cinta lebih, kecuali terhadap Aisyah. Ia hanyalah seorang pengasih yang sama sekali takkan tega melihat penderitaan seorang janda beranak enam, bernama Saudah binti Zam’ah. Demi menanggung beban Saudah beserta keenam anaknya itu, Rasul merelakan seonggok raganya untuk dimiliki juga oleh Saudah. Awalnya Saudah menolak.
“Apa yang membuatmu tidak menerimaku?” Tanya Rasul lembut kepada Saudah.
“Sungguh, Rasul, dengan segala hormat, tidak ada alasan bagiku untuk tidak menerimamu. Kau adalah orang yang paling aku cintai. Namun, semata aku khawatir, aku beserta anak-anakku hanya akan merepotkanmu, di sela-sela beban berat di pundakmu,” kata Saudah beralasan.
“Adakah alasan lain yang lebih dari itu?”[10] Kata Rasul tidak berasalan, tapi meyakinkan bahwa keputusannya menikahi Saudah adalah justru untuk membantu meringankan beban tanggungannya, termasuk yang terakhir disebut Khaulah.
Rasul menikahi Saudah binti Zam’ah, janda dari Sakran bin Amr, beberapa waktu setelah menikahi Aisyah, juga sebelum ia hijrah ke Madinah. Ia menjadi istri kedua Rasul, setelah Aisyah. Binti Zam’ahlah yang pada masa-masa tuanya menyerahkan hari gilirannya untuk Aisyah.[11] Di tengah keterbatasannya, Saudah memang dikenal sebagai istri Rasul yang paling senang bersedekah.[12] Rasul mengakui dan memuji hal itu. Dan hari gilirannya diberikan kepada Aisyah, semata karena ia tahu Aisyahlah istri yang paling dicintai Rasul.
Pun betapa adil Rasul berperan sebagai seorang suami dari beberapa orang istri, hati tetap bukanlah raga yang bisa menjadi milik bersama. Jiwanya yang lembut membuatnya mudah saja berbagi kasih secara adil kepada semua, termasuk kepada istri-istrinya, tetapi tidak dengan berbagi cinta. Cinta Rasul hanya untuk Aisyah, walaupun kasihnya ia tebarkan kepada istri-istrinya.
Dan pun betapa besar cinta Rasul kepada Aisyah, ia seperti tak bisa menghindar dari bayang-bayang Khadijah. Bagi Rasul, Khadijah bagai udara yang ia hela dan selalu ada, walaupun tak terindra. Sejejak hatinya terisi oleh sejarah Khadijah. Pada setiap kesempatan, ia tak jarang memuji semenjulang langit seluas angkasa istri pertamanya yang pernah mendapat kabar surga dari Allah itu,[13] Hingga tak jarang hal itu membarakan cemburu di benak Aisyah.
“Rasul, tak bisakah Kau sebentar saja tak menyebut Khadijah?!”[14] naluri alamiah Aisyah meronta, tak bisa menahan perasaan, setiap kali Rasul menyebut Khadijah. Di antara para istri Rasul, hanya Khadijah binti Khuwilid yang bisa membuat Aisyah cemburu, walaupun hanya sekedar kata tentangnya yang keluar dari lisan Rasul. Rasan-rasan di hati Aisyah membisikkan, seperti sudah tidak ada wanita saja di muka bumi ini, selain Khadijah yang sudah mangkat itu.[15]
“Rasul, bukankah kini telah ada orang yang lebih baik darinya di sisimu?!”[16]
Mendengar curahan bara cemburu dari tutur Aisyah, seketika raut wajah Rasul berubah merah. Raut itu hanya nampak saat ia menerima titah ilahiyah atau ketika sedang terselubung amarah. Dan, raut wajah merah di paras Rasul saat itu adalah jelas tanda amarah.[17] Rasul menghadapkan tubuh dan mukanya ke Aisyah.
“Aisyah, perlu Kau tahu, Allah tidak akan mendatangkan untukku pengganti sebaik atau yang lebih dari Khadijah! Tidak akan ada lagi perempuan seperti dia!” Jelas Rasul sedang marah. Mungkin karena tersinggung oleh ucapan Aisyah.
“Tahukah Kau, Aisyah, dia telah terjaga akan kenabianku, ketika orang lain masih terlelap parah berselimut jahiliyah. Dia memastikan ucapanku sebagai kebenaran, saat orang lain mengaggapnya bualan. Dia tak segan mengeluarkan hartanya untuk kebutuhanku, tatkala orang lain enggan melakukannya. Kau perlu tahu semua itu, Aisyah!”[18]
Aisyah memang agak pencemburu ketimbang istri-istri Rasul yang lain. Barangkali karena usianya yang masih remaja. Masih sering muncul sifat kolokannya. Misal saja ketika Rasul menjuluki semua istrinya, Aisyah pun minta agar dirinya juga diberi julukan. Dan Rasul memberikan julukan kepadanya dengan “Ummu Abdillah” (ibu dari seorang hamba Allah). Walaupun sampai akhir hayatnya, darinya Rasul tidak dikarunia anak.[19]
Ah, keluarga yang dinamis. Cinta, kasih, amarah, cemburu, dengan sedikit konflik, datang dan pergi, berputar dan berlalu bersama waktu. Satu kebiasaan jika Aisyah sebal terhadap Rasul adalah ia tak mau bersumpah yang mengandung unsur namanya. Cukuplah bagi Rasul tahu Aisyah sedang sebal jika ia mengatakan “la, wa rabbi ibrahim”, bukan “la, wa rabbi muhammad”, seperti biasa jika ia sedang bahagia atau berbunga-bunga karena cinta.
Aisyah tersipu malu, Rasul mengetahui kebiasaanya itu.
“Kau benar, Rasul. Itu kebiasaanku. Tapi sungguh, pun betapa sebalnya aku kepadamu, itu sama sekali tak menggoyahkan cintaku kepadamu. Aku memang bisa memalingkan bibirku untuk tak menyebut namamu, tapi sama sekali aku tak mampu memalingkan hatiku dari cintamu.”[20]
Satu keistimewaan yang dimiliki oleh Aisyah dan tidak dimiliki oleh istri-istri Rasul yang lain adalah, Aisyah menjadi istri Rasul tidak hanya di dunia, namun di akhirat kelak.[21] Sungguh, apresiasi besar dan istimewa dari Allah untuk seorang Aisyah, gadis belia yang selama bersama Rasul, Allah berkenan menurunkan tidak sedikit risalah atas peristiwa yang berkenaan dengannya. Seorang gadis, yang dengan kecerdasan di atas rata-rata kebanyakan orang saat itu, dia adalah seorang wirai yang tak mau dipuji, lebih senang untuk tak dikenang.
Ketika Aisyah dalam keadaan paling payah karena tua dan mendekati sekarat, Ibnu Abas datang menjenguknya. Awalnya, kedatangan Ibnu Abas ia tolak, khawatir hanya akan mengumbar pujian. Namun, atas bujukan saudara-saudaranya yang saat itu juga menjenguk, akhirnya Ibnu Abas bisa menemui orang yang paling dicintai Rasul itu, mungkin untuk terakhir kalinya.
“Ummul Muminin, Kau adalah istri yang paling dicintai Rasul. Dan tidak ada yang dicintai Rasul kecuali ia adalah baik…,” benar saja, Ibnu Abas datang untuk memberikan pujian.
“Hanya Kau perempuan masih gadis yang dinikahinya… Kau belia terfitnah, namun Allah sendiri yang menampik fitnah itu, sehingga siang dan malam masjid-masjid sesak penuh orang-orang yang mendaras Alquran, menyambut pembebasanmu dari fitnah… Sebab Kau, turun risalah rukhshah tayamum sebagai pengganti wudu… Kau perempuan pembawa berkah bagi umat… “
“Ibnu Abas, cukup! Sudahi omonganmu!” Aisyah yang terbaring lemah memotong serentetan pujian yang meluncur deras dari mulut Ibnu Abas.
“Aku lebih nyaman tanpa pujian… Aku lebih senang untuk tak dikenang…”[22]
…
14 Mei 2008
[1] HR Bukhari dari ‘Urwah bin Zubair.
[2] HR Muslim dari Aisyah. Lihat juga Al-Bidahay wa al-Nihayah karya Ibnu Katsir, 3/129.
[3] Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari karya Ibnu Hajar , 7/139
[4] HR Ahmad
[5] HR Bukhari dari ‘Urwah bin Zubair.
[6] HR Bukhari dari Aisyah.
[7] HR Bukhari dari Ibnu Abas.
[8] HR Bukhari dari Aisyah.
[9] HR Tirmizi dari Aisyah.
[10] HR Ahmad dari Ibnu Abas.
[11] HR Bukhari dari Aisyah.
[12] HR Nasa’i dari Aisyah.
[13] HR Bukhari dari Aisyah.
[14] HR Ahmad dari Aisyah.
[15] HR Bukhari dari Aisyah.
[16] HR Bukhari dari Aisyah.
[17] HR Ahmad dari Aisyah.
[18] HR Ahmad dari Aisyah.
[19] HR Ahmad dari Aisyah.
[20] HR Bukhari, Muslim dan Ahmad dari Aisyah.
[21] HR Tirmizi dari Aisyah.
[22] HR Bukhari dan Ahmad dari Ibnu Abas.
Ketika Dua Penyangga Roboh
Friday, May 2, 2008 § 1 Comment
Belum lagi kering air mata kesedihan atas meninggalnya sang paman, Abu Thalib, kesedihan lain bertubi mendera Rasul. Sang istri, Khadijah berpulang meninggalkan Rasul, menyusul sang paman untuk selamanya. Khadijah, sang istri yang ia sebut sebagai salah seorang perempuan terbaik dunia, selain Maryam binti Imran Sang Perawan Suci yang melahirkan Nabi Isa, Asiyah istri Raja Firaun, dan Fatimah putrinya sendiri.[1]
Khadijah adalah sudagar kaya yang memiliki banyak pegawai. Salah seorang di antaranya adalah pemuda bernama Muhammad bin Abdullah yang kelak menjadi Rasul. Kebaikan, kejujuran, dan sifat-sifat bajik lain yang tersemat pada pegawainya itu, membuat sang sudagar jatuh hati. Semakin hari berlalu, perasaan terpikat itu semakin dalam tertancap di hati saudagar berumur empatpuluh tahun tersebut, hingga akhirnya memutuskan untuk meminang seorang pemuda berusia duapuluh lima tahun itu.
Pada awalnya, ayah Khadijah enggan menyetujui keinginan putrinya itu. Namun, ia tak kurang akal agar keinginan memiliki Muhammad tercapai. Diadakanlah pesta terselubung. Suatu hari, Khadijah membuat banyak makanan dan minuman. Saat itu, belum ada larangan minuman keras. Diundanglah ayah dan beberapa kerabatnya serta sejumlah orang-orang dari suku Quraisy. Sudah menjadi adat masyarakat Arab kala itu, minuman keras menjadi sajian khas untuk acara pesta atau sekedar kumpul-kumpul. Dan sebagai giliran, mabuk-mabukan menjadi hal yang tak bisa terelakkan. Demikian juga yang terjadi pada hajatan laten Khadijah itu. Sebagian besar orang-orang yang hadir pada acara itu telah teler, termasuk ayahnya. Pada kondisi seperti itulah Khadijah melaksanakan niatnya.
“Ayah, Muhammad telah melamarku. Aku harap Ayah mau menerimanya dan menikahkannya untukku,” pinta Khadijah kepada Ayahnya yang masih mabuk. Dan Ayahnya hanya manggut-manggut saja mendengar permintaan putrinya itu.
Pesta pernikahan Khadijah dan Muhammad pun siap dilangsungkan. Persiapan di sana sini dilakukan. Khadijah mendandani ayahnya sedemikian rupa. Begitu juga dengan orang-orang yang hadir di situ.
Untuk beberapa lama, pesta pernikahan pun berlangsung. Kebahagian di sana sini terpancar berbaur dengan riuh rendah hadirin yang mabuk. Sampai akhirnya sedikit kericuhan terjadi, saat ayah Khadijah sadar dari mabuknya dan melihat dirinya telah berpakaian rapi, berdandan pula.
“Ada apa ini?! Ada apa ini? Apa yang terjadi di sini?!” Ayah Khadijah yang sedari tadi menjadi bagian dari pesta itu, seperti orang yang terjebak pada sebuah mimpi buruk dan tiba-tiba terbangun. Ia terakut kejut. Khadijah didekatinya.
“Ada apa ini? Kenapa aku berpakaian seperti ini?”
“Ayah baru saja menikahkanku dengan Muhammad bin Abdullah,” jawab Khadijah berusaha tenang.
“Apa?! Aku telah menikahkanmu dengan si yatim asuhan Abu Thalib itu?” Ayah Khadijah semakin terkaget mendengar pernyataan putrinya.
“Iya. Ayah telah melakukan itu. Memangnya kenapa?!”
“Tidak, tidak! Aku tidak setuju!”
Tapi Khadijah bukanlah perempuan lemah yang gampang terpojok.
“Apa engkau tidak malu?! Engkau ingin membuat dirimu tampak bodoh di mata orang-orang Quraisy dengan memberi tahu mereka engkau sedang mabuk dan masih belum waras?! ”<!–[if !supportFootnotes]–>[2]<!–[endif]–>
Hari-hari berlalu melunakkan keadaan. Khadijah dan Muhammad pun hidup bersama. Bersama Khadijah, awal perjuangan Muhammad menyampaikan pesan-pesan ketuhanan dimulai. Ia sering bermimpi tentang kewahyuan. Ia juga lebih sering menyendiri, meninggalkan istri, keluarga dan masyarakatnya. Ia memilih Gua Hira sebagai tempat menyendiri. Ia pulang kepada Khadijah jika perbekalannya sudah habis. Setelah itu kembali lagi ke gua.
Namun, kali ini, Muhammad pulang ke Khadijah bukan untuk mengambil bekal. Ia pulang dengan raut wajah pucat pasi berbalut ketakutan luar biasa. Keringat dingin mengalir deras membasahi tubuhnya. Khadijah segera memapah tubuh menggigil Muhammad ke ranjang, menyelimutinya, dan mendekapnya erat. Khadijah berusaha menenangkan Muhammad, hingga akhirnya ia menceritakan perihal yang terjadi.
“Suamiku, tenangkanlah dirimu. Aku percaya, apa yang terjadi padamu bukanlah pertanda buruk. Aku yakin, sekali-kali Allah tidak akan menyusahkanmu. Kau orang baik yang selalu menjalin hubungan baik dengan orang-orang. Kau selalu membantu orang-orang tak mampu, orang-orang yang terkena musibah, dan mau menanggung kebutuhan mereka. Kau selalu menghormati tamu…”
Komentar sejuk Khadijah tersebut memancarkan energi kehangatan dan ketenangan bagi jiwa Muhammad yang masih erat dalam dekapan isterinya itu.
Keesokan harinya, Khadijah mengajak Muhammad menemui Waraqah bin Naufal, seorang renta mantan penyembah berhala yang terpesona dengan agama Nasrani hingga kemudian memeluknya, untuk menanyakan apa yang terjadi pada Muhammad dari sudut pandang Injil. Waraqah sangat menguasai Injil. Dia pula yang menyalin Injil dari bahasa Ibrani ke bahasa Arab.
“Saudaraku,” kata Waraqah kepada Muhammad, “yang mendatangimu di Gua Hira adalah malaikat Jibril yang juga pernah mendatangi Nabi Musa. Andai saja, saat ini, aku masih muda, niscaya kelak aku dapat melihat Engkau diusir oleh masyarakatmu…”
“Aku akan diusir oleh masyarakatku sendiri?!” Tanya Muhammad menyela, kaget dengan yang terakhir dikatakan Waraqah.
“Benar. Tidak ada orang sepertimu, yang membawa pesan-pesan ketuhanan, yang tidak dimusuhi. Jika pada saatnya itu terjadi, dan aku masih hidup, niscaya aku akan menolongmu.”
Namun, tak lama setelah itu, Waraqah meninggal dunia membawa serta angannya.<!–[if !supportFootnotes]–>[3]<!–[endif]–>
…
Ya, Khadijah telah meninggalkan Rasul untuk selamanya. Seorang isteri yang menjadi selimut hangat bagi suami, menjadi tongkat tangguh bagi sandaran rapuh suami, orang yang pertama kali merespon positif risalah ketuhanan yang dibawa sang suami, dan orang yang mencurahkan jiwa, raga, harta, dan apa pun yang dimilikinya untuk perjuangan sang suami.<!–[if !supportFootnotes]–>[4]<!–[endif]–>
Tahun itu, tepatnya tiga tahun sebelum hijrah ke Madinah, menjadi masa-masa paling berkabung bagi Rasul. Sebelum kematian sang istri, Rasul telah ditinggal terlebih dahulu oleh sang paman. Genap sudah kesedihan Sang Rasul. Detik-detik menjelang kematian Abu Thalib, dan bahkan sepeninggalnya, adalah masa-masa dramatis bagi Sang Rasul…
…
Abu Thalib, orang yang sangat mencintai Rasul dan ia pun begitu, sedang tertatih-tatih menapaki sisa hidupnya. Ia sedang berada di ujung jurang kehidupan dunia. Sedikit saja Israil menjentikkan jarinya, ia akan terlempar ke dunia lain.
Saat Rasul yang menjenguk Abu Thalib, di situ telah ada sanak saudaranya dan sejumlah orang dari suku Quraisy, di antaranya adalah Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah yang telah datang lebih dulu.
Orang-orang yang hadir menjenguk Abu Thalib terbelah menjadi dua kubu, mereka yang telah memeluk agama Rasul Muhammad dan mereka yang masih menggenggam erat agama Abdul Muthalib (kepercayaan jahiliyah). Dua kubu itu mempertaruhkan sisa hidup Abu Thalib untuk mau mengikuti ajakan masing-masing, antara ajakan Rasul terhadap Islam dan peneguhan Abu Jahal terhadap kepercayaan jahiliyah yang telah dianut Abu Thalib.
Di akhir masa hidup Abu Thalib, situasi panas justru menghinggapi orang-orang yang datang menjenguknya. Abu Jahal berulah dengan menghalangi Rasul yang hendak mendekati Abu Thalib untuk menyampaikan sesuatu.
“Kemenakanku, ada apa?” Tanya Abu Thalib kepada Rasul, melihat kemenakannya itu punya maksud.
Rasul yang pada awalnya ingin mengutarakan maksudnya lebih dekat dengan Abu Thalib, terpaksa menyampaikan dengan agak jauh darinya.
“Paman, jika Allah menentukan saat ini adalah perjumpaan terakhirku denganmu, hanya satu yang kuminta darimu, ucapkanlah la ilaha illallah. Dan aku akan menjadi saksi di hadapan Allah atas ucapanmu itu,”<!–[if !supportFootnotes]–>[5]<!–[endif]–> tak sampai hati Rasul menyaksikan orang yang sudah seperti ayahnya sendiri, bahkan lebih dari itu, di akhir hayatnya masih menganut kepercayaan jahiliyah.
“Paman, jika sekalimat itu Paman ucapkan, semenanjung Arab akan mengikuti Paman. Begitu juga dengan orang-orang non-Arab.”<!–[if !supportFootnotes]–>[6]<!–[endif]–>
Abu Thalib adalah salah seorang tokoh Quraisy yang paling disegani dan dipanuti. Ia sangat setia dengan kepercayaan moyangnya. Sejak umur delapan tahun<!–[if !supportFootnotes]–>[7]<!–[endif]–>, Rasul telah berada di bawah asuhan Abu Thalib, setelah beberapa lama di bawah asuhan kakeknya, Abdul Muthallib. Dengan cinta, ia berperan sebagai ayah bagi Rasul. Ia tidak tidur kecuali Muhammad kecil ada di sampingnya. Ia tidak keluar rumah kecuali si yatim Muhammad menyertainya. Ia dan keluarganya tidak akan makan kecuali Muhammad telah datang dan mendapatkan bagian. Ia dan keluarganya tak sayang mendapatkan sedikit jatah makanan, asal Muhammad kenyang.<!–[if !supportFootnotes]–>[8]<!–[endif]–>
Ketokohannya menjadi benteng pelindung bagi Rasul dalam menyampaikan risalah ketuhanan, dari aksi kelompok-kelompok yang anti. Kekerabatan, cinta, dan simpati kepada Rasul, telah melebur menjadi satu dalam diri Abu Thalib, menembus sekat-sekat perbedaan keyakinan paman dan kemenakan itu. Abu Thalib rela mempertaruhkan nyawanya jika sedikit saja ada yang berani menggores kulit Sang Rasul. Abu Thalib telah mempersembahkan separuh hidupnya untuk Rasul.
Orang-orang, utamanya mereka yang menggenggam erat agama Abdul Muthalib, semakin ricuh mendengar ucapan Rasul.
“Abu Thalib, apakah Kau telah membenci kepercayaan moyang kita, kepercayaan Abdul Muthallib?!” Spontan Abu Jahal menyela seraya membantah ucapan Rasul, untuk meneguhkan keyakinan Abu Thalib agar tidak goyah oleh pengaruh Rasul.<!–[if !supportFootnotes]–>[9]<!–[endif]–>
“Heh, Muhammad! Kau ingin menjadikan tuhan-tuhan yang telah ada menjadi satu tuhan?! Hah, itu konyol, Muhammad?!” Yang lain ikut-ikutan menyalak.
Mereka yang tidak ikut menyalak hanya bisa saling berbisik. Sinis menyangsikan maksud Rasul. Namun Rasul tak henti-hentinya menggunakan kesempatan, secuil apa pun itu. Berulang-berulang, berkali-kali, ia menatap Abu Thalib, berulang-berulang, berkali-kali pula menyampaikan harapan kepadanya. Sampai pada akhirnya, Abu Thalib berujar kepada Rasul…
“Kemenakanku, Aku tak ingin, sepeninggalku nanti, orang-orang akan mencacimu, memaki sanak turun ayahmu. Aku khawatir, jika aku memenuhi permintaanmu, orang-orang akan melakukan itu. Mereka (orang-orang Quraisy) akan menyangka, aku memenuhi permintaanmu semata-mata karena terpojok kematian. Aku tak mau itu terjadi.<!–[if !supportFootnotes]–>[10]<!–[endif]–> Kemenakanku, aku minta maaf, aku tak bisa menanggalkan keyakinanku, aku tak dapat meninggalkan kepercayaan moyangku…”
Abu Thalib, sang benteng pelindung Rasul, telah berpulang, menjejakan sebidang kesedihan di hati Rasul. Sedih, telah ditinggal pergi sang pelindung, sedih pula karena sang paman pergi membawa serta keyakinan jahiliyah.
Kepergiannya menyisakan tantangan bagi Rasul. Selama dalam perlindungan Abu Thalib, kelompok-kelompok anti Rasul tidak ada yang bisa menyentuhnya. Aksi mereka hanya sebatas gerakan urat saraf. Namun, sepeninggal Abu Thalib, gerakan itu telah meningkat menjadi gerakan kekuatan otot. Mereka menjadi lebih berani mengekspresikan kebencian terhadap Rasul. Apa yang tidak bisa dilakukan untuk mengintimidasi Rasul selama ia berada di bawah perlindungan Abu Thalib, mudah saja mereka lakukan sepeninggalnya, bahkan semakin menjadi-jadi…
…
Pada peristiwa detik-detik terakhir hidup Abu Thalib itu, tiga ayat turun merespon tiga hal yang terjadi ketika itu. Ayat pertama adalah, “Shaad, demi Alquran yang mempunyai keagungan. Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit.” (Shaad: 1-2), yang merespon sikap Abu Jahal dan rekan-rekannya saat menghalangi Rasul untuk mendekati Abu Thalib dan saat mereka menyela seraya membantah ucapan Rasul dengan nada pongah.<!–[if !supportFootnotes]–>[11]<!–[endif]–>
Ayat kedua dan ketiga yang turun adalah, “Tidaklah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahanam.” (At-taubah: 113), dan ayat, “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya. Dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Al-Qashash: 56), yang merespon Rasul, yang sangat berhasrat agar sang paman mau memeluk Islam, dan meminta agar Allah berkenan mengampuni dosa-dosanya, setelah melihat pilihan akhir sang paman atas keyakinannya.<!–[if !supportFootnotes]–>[12]<!–[endif]–>
Ciputat, 1 Mei 2008
<!–[endif]–>
<!–[if !supportFootnotes]–>[1]<!–[endif]–>HR Tirmizi dari Anas bin Malik
<!–[if !supportFootnotes]–>[2]<!–[endif]–>HR Ahmad bin Hanbal dari Ibnu Abas
<!–[if !supportFootnotes]–>[3]<!–[endif]–>HR Bukhari dari Aisyah.
<!–[if !supportFootnotes]–>[4]<!–[endif]–>Tuhfah Al-Ahwazi bi syarhi Jami’ At-Tirmizi
<!–[if !supportFootnotes]–>[5]<!–[endif]–>HR Bukhari dari Musayyab bin Khuzn (Ayah Said bin Musayyab).
<!–[if !supportFootnotes]–>[6]<!–[endif]–>Al-Bidayah wa An-Nihayah 3/123-124, karya Ibnu Katsir.
<!–[if !supportFootnotes]–>[7]<!–[endif]–>Al-Bidayah wa An-Nihayah 2/282, karya Ibnu Katsir.
<!–[if !supportFootnotes]–>[8]<!–[endif]–>Al-Bidayah wa An-Nihayah 2/282, karya Ibnu Katsir.
<!–[if !supportFootnotes]–>[9]<!–[endif]–>HR Bukhari dari Musayyab bin Khuzn (Ayah Said bin Musayyab).
<!–[if !supportFootnotes]–>[10]<!–[endif]–>Al-Bidayah wa An-Nihayah 3/123, karya Ibnu Katsir.
<!–[if !supportFootnotes]–>[11]<!–[endif]–>Al-Bidayah wa An-Nihayah 3/124, karya Ibnu Katsir.
<!–[if !supportFootnotes]–>[12]<!–[endif]–>HR Bukhari dari Musayyab bin Khuzn (Ayah Said bin Musayyab).
Perempuan Terfitnah
Sunday, April 13, 2008 § 3 Comments
(Diadaptasi dari hadis riwayat Imam Bukhari berjudul Hadits al-Ifki, dalam karyanya, Shahih al-Bukhari)
Rasul menjengukku dengan sikap yang tak biasa. Paras tampannya bak digelayuti awan mendung. Kelam, hampir tanpa ekspresi. Sikapnya yang lembut dan penuh kasih sayang, seperti biasa terpancar setiap kali menjenguk sakitku, kali itu tak tampak sama sekali. Ia masuk dan hanya menanyakan kondisiku. Hanya itu. Sekadar duduk pun tidak. Lantas langsung berlalu dengan awan mendung masih menggelayut di wajahnya. Aku tak punya prasangka buruk soal itu. Namun, tetap saja menjejakan misteri.
Hari-hari berlalu, aku merasakan kondisi tubuhku telah membaik. Bersama Ummu Misthah, saudari jauhku, aku berniat keluar rumah untuk suatu keperluan. Ummu adalah seorang ibu dari seorang anak bernama Misthah. Oleh karenanya orang-orang memangilnya “Ummu Mistah”, artinya, ibunya Misthah.
Dalam perjalanan pulang, Ummu bercerita tentang isu yang sedang santer di masyarakat. Sedihnya, isu itu tentang aku. Darinya aku tahu, isu aku telah berbuat nista dengan salah seorang pasukan penyisir, saat aku tertinggal rombongan dalam bepergian, telah menyebar dari mulut ke mulut di kota ini, bagai tiupan angin yang menerpa apa saja yang dilaluinya tanpa ada yang mampu mengendalikan. Ternyata, selama aku sakit, isu tentangku jauh lebih populer ketimbang kabar sakitku.
Aku yang baru sebentar merasakan nikmatnya sehat, ternyata masih belum siap mendengarkan cerita Ummu. Aku kembali terbaring sakit. Kembali pula Rasul menjengukku. Sikapnya masih sama. Aku menduga, barangkali isu itulah yang menyebabkan sikapnya berubah. Hatiku bergemuruh oleh dugaanku sendiri.
Tidak ada percakapan antara aku dan Rasul. Aku juga tidak meminta penjelasan atas sikapnya itu. Aku hanya minta agar ia mengizinkanku menemui orangtuaku. Aku harap ada kejelasan di sana.
“Bunda, orang-orang membicarakan apa tentangku?” Tanyaku bukan untuk mencari jawaban, tapi mendapatkan kepastian.
“Sayangku…,” sapanya lembut. “Tenangkanlah hatimu. Sedikit sekali, seorang suami yang memiliki isteri cantik lagi ia cintai, tega membeberkan aib isterinya tersebut.” Jawaban ibu tidak lugas, barangkali karena ingin menjaga perasaanku, namun semakin menguatkan dugaan, bahwa isu tentangku memang telah benar-benar menyebar di masyarakat.
“Benarkah orang-orang membicarakan hal itu?!” Bukan mencari jawaban, bukan pula untuk mendapatkan kepastian, tapi justeru reaksi atas kepastian. Gemuruh hatiku telah berubah menjadi isak tangis.
Tubuhku lunglai. Jiwa dan pikiranku terukir perih. Malam semakin tebal berselimut gulita, tak peduli dengan derai air mataku yang terus mengalir, tak memberikan kesempatan bagiku untuk memejamkan mata, sampai pagi menjelang.
Berharap menemukan titik terang prahara rumah tangganya, seiring dengan tersendatnya komunikasi wahyu saat itu, Rasul tak segan meminta masukan dan komentar dari rekan-rekan teredekatnya.
“Rasul, yang aku ketahui, keluarga Anda tidak seperti yang orang-orang bicarakan. Aku tidak tahu tentang keluarga Anda kecuali mereka adalah orang-orang baik.”
“Isteri Anda? Dia hanyalah gadis belia yang ketika tidur sering belepotan oleh adonan makanan. Jika ada yang pantas dianggap aib darinya, ya, cuma itu. Tidak ada yang lain,” kata seorang perempuan berpendapat tentang isteri Rasul
Ada juga yang berkomentar, “Sudah, Rasul. Allah tidak akan menyulitkan Anda. Toh, masih banyak perempuan lain selain dia.”
Cukuplah baginya komentar-komentar itu. Aku, sebagai terdakwa, hanya bisa berdiam pilu, membiarkan orang-orang berkomentar tentangku. Aku memang tidak bisa menyodorkan bukti-bukti jika aku benar-benar tidak senista yang dituduhkan. Namun isu itu telah kadung merata bagai pasir gurun di penjuru kota, seolah telah menjadi kebenaran, walaupun validitasnya tidak teruji. Tidak ada bukti, tidak pula diketahui kepada siapa isu itu berpangkal. Pada yang terakhir itulah Rasul sedang fokus.
Suatu kesempatan Rasul manfaatkan untuk memberikan pernyataan terbuka sekaligus mengambil sikap untuk kasus yang menimpa keluarganya, saat masyarakat sedang berkumpul.
Rasul berdiri di mimbar, sementara orang-orang yang hadir di forum itu menunggu apa yang akan disampaikannya.
“Siapa yang bersedia membantuku menangkap orang yang telah menyakitiku?” Kata Rasul, melemparkan pertanyaan kepada salah seorang yang hadir di tempat itu yang bernama Abdullah bin Ubay bin Salul.
Rasul kembali mengulangi pertanyaan, kali ini ditujukkan kepada semua yang hadir…
“Siapa yang bersedia membantuku menangkap orang yang telah menyakiti keluargaku? Demi Allah, tidak ada yang aku ketahui tentang keluargaku, kecuali mereka adalah-orang baik. Mereka telah menyebut-nyebut nama satu orang yang aku ketahui baik. Dia tidak pernah berkunjung ke rumahku, kecuali bersamaku.”
“Aku bersedia, Rasul!” Sela Sa’d bin Mu’azd sambil berdiri penuh semangat. “Jika orang itu dari kelompok Aus, aku siap membubuhnya! Jika dia saudara kita dari kelompok Khazraj, aku siap melakukan apa saja yang Anda perintahkan.”
“Sa’d bin Mua’dz, Kau pembohong!” Sa’d bin Ubadah, salah seorang tetua dari Khazraj,tiba-tiba berdiri, memotong perkataan Bin Mu’adz. Ia merasa tersinggung, kelompoknya ikut-ikut disebut dalam kasus itu. “Kau tidak akan membunuhnya! Kau tidak akan mampu melakukan itu!”
“Kau yang pembohong, Sa’d bin Ubadah!” Seru yang lain, membela Sa’d bin Mu’azd. “Kami benar-benar akan membunuhnya! Kau hanya seorang munafik. Munafik yang menyerang munafik!”
Situasi saat itu benar-benar panas. Emosi sebagian orang, menyulut emosi sebagian yang lain, semakin mempertajam perselisihan. Saling tunjuk, saling tuding, tidak peduli di hadapan mereka ada seorang Rasul.
“Sudah!!! Sudah!!!” Situasi yang sudah tak terkontrol lagi memaksa Rasul turun dari mimbar. Hampir saja terjadi baku hantam, jika Rasul tidak segera menengahi dan menenangkan mereka.
Aku tidak menyangka, efek fitnah keji itu begitu besar, hampir saja menimbulkan konflik dan perpecahan di masyarakat. Sungguh, peristiwa hari itu semakin mencabik-cabik sanubariku yang telah pilu, mengoyak jiwaku yang sedang layu, tidak sedikit pun menyisakan ruang bahagia di hatiku, untuk aku bisa menghentikan air mata. Pada dua hari berikutnya, aku tetap terbenam dalam suasana demikian.
Orangtuaku menghampiri aku yang sedang menagis. Bukan untuk apa-apa, hanya ingin menamani sedihku. Seolah ingin mengatakan, mereka akan selalu ada untukku. Setelah itu, datanglah seorang sahabatku. Sama seperti orangtuaku, ia hanya ingin menemani sedihku.
Pada saat kami sedang terlarut bersama dalam sedih, tiba-tiba Rasul datang. Setelah mengucap salam, ia duduk. Itulah kali pertama ia bersedia duduk di rumahku, sejak sebulan terakhir, setelah isu tentangku mulai beredar di masyarakat. Ia datang bukan untuk menemani sedihku, tapi untuk mengatakan sesuatu…
“Aisyah, aku sudah mendengar kabar ini itu tentangmu. Jika Kau memang tidak bersalah, Allah yang akan membersihkan namamu. Dan jika perbuatan nista itu benar-benar telah Kau lakukan, mintalah ampun kepada Allah.”
Tertunduk aku menyimak ucapan Rasul. Air mata yang selama ia bicara hanyalah genangan-genangan di kelopak, meleleh membasahi pipi tanpa aku sadari. Tidak kuusap.
Rasul telah memulai pembicaraan. Saat yang tepat bagiku untuk buka suara, atau paling tidak orang tuaku mau mewakili suaraku. Aku menoleh ke ayahku, memintanya memberikan hak jawab kepada Rasul untukku. Ayah menggeleng. Aku menoleh ke ibuku, meminta hal yang sama. Ibu juga menggeleng. Ayah-ibuku melihat dirinya tidak memiliki kapasitas untuk menanggapi, menjawab, atau menambah titah yang disampaikan Rasul.
Aku kembali tertunduk. Air mataku meleleh lagi. Isak tangisku tak tertahan. Melihat orangtuaku hanya diam, hatiku semakin bergejolak, seperti ada yang meronta. Sebelum kuangkat kepalaku, sejenak kuhela nafas sambil memejamkan mata. Namun, tetap tak mampu menghentikan tangisku.
Isak tangis dan air mata tumpah ruah bersama isi hatiku. Kepada Rasul, orangtuaku, dan seorang sahabatku, aku katakan…
“Memang, aku hanyalah gadis belia yang belum banyak memahami Alquran,” aku mengawali perkataan diiringi isak tangis, menjadi latar sendu. “Aku tahu, telinga kalian telah mendengar ini itu tentangku, dan hati kalian membenarkannya. Kalian boleh tidak percaya, jika aku katakan, aku bukanlah seperti yang orang-orang katakan. Tapi, percayalah kepada Allah, bahwa Dia tahu, aku bukanlah seperti yang orang-orang katakan. Nasib malang yang menimpaku ini mengingatkanku pada perkataan Nabi Yaqub, ayahanda Nabi Yusuf, maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah semata yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kalian ceritakan.<!–[if !supportFootnotes]–>[1]<!–[endif]–>”
Hanya sabar yang bisa aku lakukan. Hanya Allah yang bisa aku percaya. Sungguh, selain menitikkan air mata, hanya itu yang bisa aku lakukan untuk menghadapi fitnah itu.
Selesai kuutarakan isi hati, aku berlalu ke kamarku, meninggalkan mereka di ruang tamu. Di kamar, kurebahkan tubuh payahku, kubenamkan jiwa dan pikiranku pada kondisi yang paling rendah dan kosong.
Aku yakin dengan apa yang aku katakan saat di ruang tamu tadi. Sepenuhnya aku yakin, Allah akan membersihkan namaku seperti sedia kala. Tapi aku tak mau menduga-duga akan turun wahyu kepada Rasul untukku, mengabarkan kebenaran keyakinanku. Aku yang hina dina ini, merasa tidak pantas, jika sekalimat wahyu akan turun hanya untukku. Tapi, sungguh, aku sangat berharap, paling tidak malam ini Rasul akan bermimpi, Allah membersihkan namaku.
Hidup hanyalah putaran waktu yang konstan berlalu. Semua yang menempati waktu pun pasti akan berlalu seiring dengan berlalunya sang waktu.
Pagi itu begitu sejuk. Namun tak sesejuk wajah sang Rasul. Awan mendung kelam yang dalam beberapa waktu lalu menggelayut di wajahnya telah sirna. Kebenaran telah nampak terang. Fajar merah pagi itu telah tersingkap oleh benderang cahaya matahari.
“Berbahagialah, Aisyah. Allah telah membersihkan namamu dari segala tuduhan,” kata Rasul kepadaku dengan ekspresi yang berbinar-binar. Hatinya yang berbunga menyemburatkan tawa bahagia yang menghias paras tampannya.
“Berdirilah, anakku. Kecum kening Rasul. Pujilah dia. Berterima kasihlah kepadanya,” seru ibuku yang juga tidak bisa menyembunyikan kebahagiannya.
“Tidak, Bu. Aku tidak mau berdiri untuknya. Dan jika ada yang pantas dipuji, maka hanya Allah yang telah membersihkan namaku.”
Aiysah telah melewati masa pahit hidupnya, yang pahitnya melebihi apapun dari semua yang pahit. Dan berhak menikmati buah sabar yang manisnya melebihi apapun dari semua yang manis, saat Allah menurunkan ayat yang merehabilitasi namanya…
“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyebaran berita bohong itu, baginya azab yang besar.” (An-Nur: 11)
Ciputat, 13 April 2008
<!–[endif]–>
Surat Terakhir Seorang TKI
Friday, March 28, 2008 § Leave a Comment
Istri Marto, Nunik, berangan-angan, kelak, ia ingin membangun rumah dan membuka toko. Rumah itu akan dibangun persis di belakang rumah orang tuanya. Alasannya, “Ya, biar dekat sama ibu,” begitu katanya. Maka, ketika suaminya, Marto, berniat bekerja di Arab Saudi menjadi TKI, ia seolah tak ada alasan untuk menolak niatan suaminya itu, walaupun agak berat dan ragu. Alasan pertamanya, tentu saja, karena Marto adalah: “Saya akan menjadi partner sehidup-sematimu, Dik!,” gombal Marto kepada Nunik sewaktu masih pacaran dulu. Mana tahan Nunik ditinggal suaminya tercinta dalam jangka waktu yang tak sebentar, tahunan! Alasan selanjutnya yang membuat Nunik ragu adalah ‘kengerian’-nya melihat nasib TKI, yang ia ketahui berita di tv-tv. Kalau lewat koran tidak mungkin. Mana ada, orang kampung yang mau langganan koran. Berita-berita itu terkadang meragukan hati Nunik untuk merelakan Marto menjadi TKI di negeri orang.
Memang, nasib TKI memang memprihatinkan. Mereka mengalami ketidakpedulian, baik di luar negeri, apa lagi di dalam negeri, justru ketidakpedulian itu memperoleh porsi terbesar.
Perjalanan seorang TKI ke luar negeri adalah perjalanan yang sarat dengan kejahatan, dari awal sampai akhir. Sejak berangkat sampai pulang, mereka mengalami lorong-lorong kekejaman. Kekejaman administratif, kekejaman calo, dan kekejaman majikan. Dan, porsi kekejaman terhadap mereka lebih banyak terjadi di Tanah Air sendiri dari pada di Luar Negeri. Begitu, kata sebuah berita malam di televisinya.
Tapi, dasar ndeso, keluarlah watak kampungan seorang Nunik. “Ah, yang kaya gitu kan cuma di tipi!” Nunik tidak dapat mebedakan mana yang sinetron dan mana yang berita faktual. Ah, barang kali ia sudah termakan oleh sinetron-sinetron itu. Menganggap semua yang di televisi adalah bohongan belaka. “La iku, mbakyuku, delo’en dewek! Untung gak mlebu tipi!” (Lihat sendiri tuh kakakku! Untung tidak masuk televisi), ia membatin membela diri jika melihat tayangan keprihatinan nasib TKI di televisi.
Ia begitu yakin, suaminya bakal sukses jadi TKI di Arab. Ia merujuk pada kakak perempuannya yang telah sukses menjadi ‘alumnus’ TKW, dan kini telah masuk dalam deretan orang-orang berduit di kampungnya. Sawah, yang menjadi simbol kemakmuran di kampungnya, puluhan hektar ia punyai. Tapi angan-angan istri Marto tidak sejauh itu. Ia, setelah suaminya pulang dari Arab, hanya ingin mewujudkan rumah dan toko untuk usaha sampingannya. Kesuksesan kakaknya itulah yang ia jadikan lagu manis untuk menepis segala keraguan di hatinya.
Untuk itu, Marto harus meninggalkan pekerjaannya sebagai buruh konveksi di Bandung, yang memperkerjakan barang-barang dari kulit. Marto pernah bilang, konsumen dari barang-barang produksinya rata-rata adalah para artis. Pekerjaan itu sudah lama ia jalani, bahkan sebelum menikahi pacarnya yang telah menjadi istrinya itu. Pekerjaan itu sebenarnya sudah mencukupi untuk kehidupan mereka berdua dan seorang putrinya. Gajinya lumayan. Kalau mau bersabar, sebenarnya rumah yang menjadi impian mereka berdua, bisa mereka wujudkan tanpa harus melepas Marto menjadi TKI.
***
Istri Marto memegang surat dari suaminya, Marto. Tak jelas, apa yang sedang ia lakukan dengan surat itu. Pandangannya tidak tertuju benar pada surat itu. Cuma sesekali saja kalimat demi kalimat surat itu ia pandangi. Setelah itu, air matanya berlinang. Ia menangis. Kadang tersenyum, tapi agak tertahan. Sesekali sesenggukan. Dalam surat itu, Marto bercerita kalau dia sudah agak betah dengan pekerjaanya sebagai supir. Komunikasi bukan lagi menjadi masalah. Majikannya baik. Setiap pagi, ia harus mengantar tiga putra majikannya ke sekolah. Ia bercerita, anak majikannya itu dekat dengannya tapi agak bandel. Ia juga bercerita, keadaannya baik-bak saja. Dalam surat itu juga, Marto melampirkan beberapa foto dirinya. Foto-foto itu menampilkan dirinya sedang berpose bersanding dengan mobil-mobil mewah. Katanya, itu semua adalah mobil majikannya.
“Dik, piye kabare Neneng?” tulis Marto menanyakan kabar putrinya, dalam surat sepanjang tiga lembar itu. Tulisannya rapi. Rapi memang sifat Marto. Bukan hanya tulisannya, dalam hal berpakaian pun demikian. Masih ingat, ketika ia bertandang ke rumah Nunik, untuk melamar gadis impiannya itu. Berkemeja lengan panjang kotak-kotak dimasukan ke celana hitamnya. Mulus celana itu. Sepatunya kulit mengkilat. Setelah Marto pulang, ibu Nunik bisik-bisik kepada Nunik, “Rapi bener calon suami kamu itu, Nik!” Nunik hanya tersipu malu saat itu.
Neneng adalah putri pertama, dan mungkin yang terakhir, pasangan Marto-Nunik. Nama lengkapnya Neneng Listyaningsih. Untuk nama depan, Marto-lah yang mengusulkan. Keluarga dan tetangga-tetangganya mempertanyakan maksud nama itu, ketika Marto ngeyel mau pakai nama itu. Kenapa bukan ‘Siti’, ‘Nur’, atau ‘Umi’ saja, seperti lazimnya nama depan perempuan-perempuan lain di kampungnya. Bagi mereka, nama itu seperti tidak biasa. “Eh, jangan dikira nama itu saya sembarangan kasih. Bagi saya, nama itu punya kenangan tersendiri. Dan, saya gak bakal gelem ngerubah jeneng iku!” (saya tidak akan merubah nama itu) jawabnya selalu demikian ketika ditanya perihal nama itu.
Iya, nama ‘Neneng’ memang tidak biasa dikasihkan untuk anak perempuan di kampungnya, bahkan, mungkin, tidak ada. Marto pun tahu itu. Katanya, nama itu adalah nama ibu kost-nya ketika ia masih bekerja di Bandung. Ibu kost-nya itu baiknya minta ampun. Suaminya telah lama meninggal. Marto dianggap sebagai anak angkatnya. Kenangnya, dia pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga ibu kost-nya. Ibu kost ikut, tentu saja. Dalam perjalanan itu, ibu kost kelihatan tidak banyak bicara dengan anak-anaknya. Dia lebih banyak dekat dengan Marto. Itu sepengetahuan Marto. Ketika ada kesempatan, ibu kost banyak cerita tentang anak-anaknya kepada Marto. “To, kamu bisa lihat sendiri, anak-anak ibu telah begitu sukses. Tapi, sepertinya hanya kamulah anak ibu sebenarnya.” Kata ibu kost kepada Marto, sambil menunjuk anak-anaknya. “Kenapa, Bu?” pertanyaan yang belum Marto temukan jawabannya sampai dia meningalkan kost-annya itu.
Keluarga ibu kost Marto adalah keluarga besar. Tapi, ibu kost Marto tidak merasakan kebesaran itu. Anak-anaknya telah sukses, tapi ibu kost Marto tidak pernah merasakan kesuksesan itu. Ibu kost Marto adalah ibu-ibu mereka, tapi mereka tidak pernah menganggap ibu kost Marto sebagai ibu bagi mereka. Apa yang mereka lakukan dengan mengajak ibu mereka berjalan-jalan adalah tak lebih dari sebuah ‘konspirasi’ dan kepentingan.
Kata Marto, nama itu ia berikan kepada putrinya untuk mengenang kebaikan ibu kost-nya itu.
***
Nunik masih memegang surat suaminya, Marto. Ia masih menangis. Dipandanginya lagi surat itu. “Dik Nunik, tanah di belakang rumah ibu jangan sampai pindah tangan. Dik Nunik coba terus bujuk ibu supaya tidak menjual tanah itu. Berapapun ibu butuh uang, jangan sampai jual tanah itu. Kalau uang saya sudah terkumpul, saya pasti akan beli tanah itu. Bukankah Dik Nunik menginginkan rumah di atas tanah itu, kemudian buka toko? Bukankah Dik Nunik selalu ingin dekat dengan ibu? Dulu, Dik Nunik, kan, pernah bilang gitu. Pokoknya, bilang ke ibu, Mas-mu ini yang akan beli tanah itu”, kata Marto pada halaman kedua surat itu. Kali ini, Nunik membaca paragraf itu dengan tetesan air mata, sesenggukan, tidak seperti ketika pertama kali membacanya.
Waktu itu, ketika pertama kali membacanya, Nunik senangnya bukan main. Sebab, surat itu begitu memberikan harapan akan impiannya. Nunik langsung cerita dan memberitahukan pada ibunya, mertua Marto, agar tanah itu jangan dijual, tentu ia juga memaparkan alasan-alasannya. Ibu Nunik, mertua Marto setuju. Apa lagi untuk anak perempuan satu-satunya dan menantu yang dulu pernah dipuji karena kepribadiannya.
Nunik adalah anak perempuan satu-satunya dalam keluarganya, bungsu lagi. Saudara-saudaranya yang berjumlah enam orang, semuanya laki-laki. Dulu, saudara-saudara Nunik yang laki-laki semua itu sering memangilnya “Hei, wadon dewek!” (Hei, perempuan sendiri!). Nunik hanya nyungut sendiri kalau dipanggil dengan panggilan itu. Dia tidak mau dibeda-bedakan
Nunik membuka lembar ketiga surat itu. Ia masih menangis. Air matanya menetes di kertas surat itu. “Dik, saya pernah mimpi, jembatan yang menghubungkan desa kita dengan jalur kecamatan putus gara-gara hujan deras. Lalu lintas macet, bahkan terputus. Jalur ke kecamatan pun akhirnya dialihkan. Dibuat jalur dadakan. Bi Umi, pengusaha tempe, yang jaringannya sampai kacamatan itu, sempat kelabakan, penghasilannnya jadi turun drastis. Tapi itu hanya mimpi, kan, Dik?! Jembatan itu tidak putus, kan?! Bi Umi tempenya masih tetap laris, kan?!”
“Oh, ya, Dik! Bagaimana puasanya?Pasti Adik gembira, ya, bersama keluarga. Tapi, tidak dengan saya, Dik. Saya di sini sendirian. Tidak bisa segembira Adik. Eh, Neneng ikut puasa nggak? Jangan, ah, Dik, dia masih telalu kecil. Dik, masmu kangen. Saat-saat buka puasa, saya selalu teringat Adik, Neneng, ibu. Kalau berbuka puasa, saya selalu terbayang, akhirnya saya jadi kangen. Saya masih ingat, neneng selalu minta disuapin. Sekarang, mungkin, sudah nggak lagi, ya.”
Air mata Nunik keluar lagi. Ia biarkan air mata itu, tidak diusapnya, hingga menetes jatuh ke surat yang dipegangnya.
“Dik, lebaran tahun ini, Mas Marto mungkin belum bisa pulang. Mas Marto minta maaf. Dik Nunik maklum, kan? Mas belum dapat duit banyak. Duit untuk anggaran membangun rumah belum cukup. Belum cukup untuk membangun rumah dan toko. Dik, sebagai gantinya Mas Marto kirimkan uang untuk Adik, buat beli bajunya Neneng. Ibu juga. Ya, pokoknya Dik Nunik atur saja uang kiriman saya itu. Adik lebih tahu kebutuhan.”
“Tapi Dik Nunik jangan khawatir , insya Allah, lebaran tahun depan Mas Marto sudah ada di rumah. Lebaran bersama keluarga. Dan kita akan segera mewujudkan rumah impian Dik Nunik. Di belakang rumah ibu, tentunya, seperti yang Dik Nunik inginkan. Sekali lagi Mas Marto minta maaf. Selamat idul fitri. Selamat lebaran. Sampaikan sungkem Mas Marto pada ibu-bapak. Sampaikan sun sayang Mas Marto buat Neneng. Sampaikan maaf Mas Marto pada saudara-saudara Dik Nunik, tetangga-tetangga juga. Maafkan segala kesalahan saya. Dik, Mas-mu kangen!”
Rasa kangen yang Nunik rasakan, saat itu, jauh lebih besar ketimbang untuk pertama kalinya ia membaca surat itu, kedua kalinya, ketiga kalinya, keempat kalinya, kelima kalinya, dan kali-kali yang lain. Dan, untuk kali itu, ia membacanya dengan rasa sakit yang begitu menusuk hatinya dan mengacaukan denyut nadinya. Bahkan, rasa kangen itu, untuk kali berikutnya, mungkin akan jauh lebih besar dan menyakitkan. Dan rasa kangen itu lebih besar ketimbang rasa kangen yang disampaikan Marto dalam surat itu.
***
Surat itu adalah surat terakhir dari Marto. Surat itu ia terima dari suaminya tiga tahunan yang lalu. Tidak tahu, sudah berapa kali dia memegang dan merenungi surat itu, dan sudah berapa litter air matanya yang keluar untuk itu. Isinya barang kali sudah hafal. Setelah itu, tidak ada kabar sama sekali tentangnya. Tidak ada surat selanjutnya dari Marto. Rimbanya tidak diketahui. Biasanya Marto kirim surat sebulan sekali.
Surat itu telah melewati tiga Ramadhan dan tiga Idul Fitri. Selama itu, Nunik hidup dengan putri tunggalnya, tanpa Marto, tanpa kabar dari Marto. Keadaan sebenarnya tentang Marto tidak pernah Nunik ceritakan dan tampakan kepada putrinya, yang sudah masuk TK itu. Ia selalu ‘mendoktrin’ putrinya, bahwa bapaknya sedang cari duit di Arab. Ia lama tidak pulang, agar dapat duit banyak, kemudian duitnya itu digunakan untuk bangun rumah dan toko. Putrinya hafal dengan ‘doktrin’ itu. Ia akan menjawab demikian, jika ditanya, “Bapak kamu di mana?” Entah jawaban apa yang bakal Nunik berikan pada putrinya, jika kelak besar nanti, ia yang bertanya, “Mak, bapak saya di mana?”
***
Istri Marto, Nunik, masih memegang surat itu. Air mata yang sedari tadi mengalir tidak diusapnya, semakin deras. Entah sudah berapa tetes air mata yang membasahi surat itu. Ia merebah. Diletakannya surat itu di dadanya. Ia sesenggukan. Matanya menerawang ke langit-langit kamarnya. Berkaca-kaca. Dan, yang ada pada saat itu, hanyalah kesepian, rasa sesak, hati yang tertusuk, dan denyut nadi yang tak menentu. Namun, Ia masih menyimpan sekeping harapan. Ia masih menunggu. Sampai kapan?
Setahun kemudian, di hari raya Idul Fitri…
Nunik memegang surat itu dengan kedua tangan, dan meletakannya di dadanya. Surat itu sudah lusuh. Sambil duduk bersila, ia menggoyang-goyangkan badannya ke kanan dan ke kiri, seperti seorang ibu sedang menimang-nimang bayi. Tatapan kosong matanya membentur langit-langit kamarnya. Rambutnya yang sebahu, acak-acakan tidak terurus. Sepertinya dia sedang melantunkan sebuah lagu, tapi tidak jelas syairnya. Nggremeng. Sesekali tersenyum, kadang tertawa. Tapi, setelah itu, ia menangis. Selain makan dan tidur, hanya seperti itulah Nunik menghabiskan hari-harinya, setengah tahun belakangan, di kamarnya.
Ketika orang-orang dikampungnya merayakan lebaran dengan baju baru dan bersalam-salaman, Nunik hanya mengurung diri di kamarnya, seolah tidak peduli dengan apa yang terjadi di luar sana.
Kenapa Nunik?
***
Di belakang rumah ibu Nunik telah berdiri rumah megah, jauh lebih megah dari rumah ibu Nunik, tentu untuk ukuran di kampungnya. Lantainya keramik. Tidak seperti rumah ibu Nunik yang masih berlantaikan tanah. Di depan rumah itu terdapat bangunan. Bangunan itu adalah toko pemilik rumah megah tersebut. Siapa? Nunik? Sepertinya bukan.