Kepada Musa, Iblis Pernah Menyatakan Ingin Tobat

6 10 2009

“Musa, tolong, sampaikan kepada Tuhan, aku ingin bertobat.
Aku tahu, kau bisa bercakap-cakap langsung dengan-Nya.”

“Baik. Akan kusampaikan”

Musa lalu menuju puncak gunung,
seperti yang pernah ia lakukan
saat ingin memandang wajah Tuhan, namun, dengan bijak, Ia menolaknya.

“Ada apa, Musa?”

“Begini, Tuhan … Hambamu, Iblis, ingin bertobat.
Ia berharap, Kau mau menerima penyesalannya.”

“Baiklah. Tapi, sebelumnya, sampaikan dulu pesanku untuk Iblis,
suruh dia sujud kepada kuburan Adam.”

Musa lalu turun dari puncak gunung, menemui Iblis …

“Apa?! “Sujud kepada kuburan Adam?!
Saat Adam masih hidup saja aku tak pernah mau sujud kepadanya,
apalagi kepada mayatnya! Kepada Kuburannya! Gila, apa?!

“Baiklah, Musa.
Aku ucapkan terima kasih,
kau mau menyampaikan niatku kepada Tuhan.
Jika kau mau mengingatku,
ingat saja saat kau terselubung amarah dan syahwat.
Jiwaku selalu ada di hatimu, tatapanku ada di matamu.
Aku berkeliaran di urat nadimu.”

“Aku akan selalu hadir dalam amarahmu dan amarah setiap orang. Saat itu,
aku mencucuk hidungnya, orang yang marah itu, sampai ia tidak sadar,
apa yang sedang ia lakukan.”

“Ingat Musa …
Aku selalu ada bersamamu.
Jika kau sedang bersama lawan jenis,
aku adalah utusannya untukmu, sekaligus utusanmu untuknya.”

[Ihya Ulum al-Din karya Imam al-Ghazali]





Nalar

6 10 2009

Seorang lelaki berjalan di padang tandus. Tiba-tiba, muncul cahaya terang benderang mengawang di angkasa. Tampak megah dan indah. Cahaya itu lalu berseru, “Aku Tuhanmu. Kau hamba pilihanku. Mulai detik ini, aku bebaskan segala kewajiban agama, hanya untukmu. Semua yang haram, mulai saat ini, halal untukmu.”

“Enyahlah kau, Iblis!” kata lelaki itu.

“Bagaimana kau bisa tahu jika aku Iblis? Padahal, dengan cara ini, sudah kusesatkan banyak orang yang tampak saleh, orang-orang yang tampak taat beribadah.”

“Dengan ini,” kata si lelaki seraya menitik keningnya dengan telunjuk. “Jika benar kewajiban agama tak lagi dibebankan Tuhan untuk orang pilihan, niscaya sudah Ia titahkan itu kepada Muhammad, dulu.”

Lelaki itu adalah al-Imam al-Kabir Abdul Qadir al-Jilani.

[Ihya Ulum al-Din Imam al-Ghazali]





Kidung Malam Jumat

10 05 2009

Iqamah sembayang Maghrib di langgar yang hanya berjarak satu rumah di depan, biasa dilangsungkan sepuluh sampai lima belas menit setelah azan dikumandangkan. Pada jeda itu, muazin akan menembangkan kidung-kidung. Para jamaah yang telah hadir sebagian melakukan sembayang qabliyah, sebagian yang lain duduk bersila ikut menembangkan kidung, puji-pujian.

Pada Maghrib malam Jumat, kidung yang ditembangkan adalah tentang anjuran mendoakan sanak keluarga yang telah bersemayam di alam lain. Tak pernah diketahui siapa penggubahnya, yang jelas kidung itu telah ditembangkan turun temurun dan hampir semua warga kampung menghafalnya, dari tiyang sepah (orang tua) sampai anak-anak madrasah. Tapi, apa pentingnya kidung semacam itu bagi anak-anak madrasah ingusan yang belum memiliki penghayatan itu kecuali sebagai ajang teriak-teriakan, lalu para orang tua akan menyentak mereka karena hanya mengumbar suara cempreng tak teratur.

Allahumma shalli ‘ala muhammad…

malem jumah ahli kubur tilik umah
nyuwun pandunga ayat quran sakalimah

anak putu ora pada ngaji
ngelus dada mbrebes mili

balik ning kuburan
awan bengi tangis-tangisan…

Setiap malam Jumat, ahli kubur, sanak keluarga yang telah di kubur akan menyambangi keluarganya yang masih hidup, mengharap doa dari mereka meski hanya satu ayat Alquran. Tapi sayang, mereka tidak ada yang mau membacanya. Ahli kubur sedih mengusap dada melihat mereka demikian. Ia kembali ke kubur membawa kekecewaan. Di sana, siang malam ia menangis, meratap…

Selepas sembayang jamaah di Maghrib malam Jumat itu, para orang tua akan mengurung anak-anak mereka di rumah. Tidak boleh ada aktifitas selain membaca Alquran untuk menjamu para ahli kubur yang sedang sambang. Setelah itu, para orang tua akan membebaskan anaknya bermain sepuasnya di luar atau menonton televisi (bagi yang punya televisi, zaman itu), sebab keesokan harinya mereka tidak belajar. Jumat adalah hari libur madrasah.

Para warga, khususnya yang berprofesi tukang ojek, paling takut jika menabrak kucing, apalagi jika si korban tewas seketika di lokasi kejadian. Pelaku penabrakan akan melakukan penguburan sebaik-baiknya pada korban tewas itu. Mereka punya keyakinan, jika kucing itu tak dikubur dengan baik, apalagi dibuang begitu saja, bakal membawa celaka. Sebab, kucing adalah hewan kesayangan salah seorang sahabat Kanjeng Rasul, Abu Hurairah.

Benarkah demikian? Apakah benar, sanak keluarga yang telah meninggal bakal menyambangi rumahnya di dunia? Apakah perlu dibenarkan orang yang punya keyakinan bahwa seekor kucing yang mati tertabrak bakal membawa celaka bagi pelakunya?

Ah, tentu saja tidak. Semua itu hanya bahasa simbol, cara untuk menyampaikan esensi sebuah pesan kearifan. Begitulah “wong ndeso”. Di balik kehidupannya yang bersahaja dengan pola pikir sederhana, mereka menyimpan kearifan mendalam yang telah mengakar, turun temurun menjadi pegangan. Dan, mereka memiliki cara unik beraroma mistik untuk menyampaikan kearifan itu.

Warga kampung barangkali akan takut jika diweden-wedeni bahwa kucing mati tertabrak yang tidak dikubur dengan baik akan membawa celaka pelakunya. Mereka lebih paham dan patuh dengan ancaman semacam itu ketimbang memahami sebuah esensi: agar bangkai kucing tak menimbulkan bau tengik yang akan mengganggu para pejalan kaki. Warga lebih bersedia dan bersemangat membaca Yasin di malam Jumat, mendoakan mbah-nya yang telah meninggal dengan diweden-wedeni bahwa si mbah sedang menjenguk, ketimbang karena kesadaran akan nilai kesalehan. Cara-cara seperti itu memang terkadang lebih mengena dan efektif mendorong seseorang untuk melaksanakan perintah atau anjuran.

Tak pernah diketahui dari mana warga menggali sumber kearifan itu dan memiliki cara unik menyampaikannya. Apakah hal itu memiliki keterkaitan dengan cara agama yang juga tak sedikit menggunakan bahasa simbol dalam menyampaikan esensi pesan, anjuran, perintah (melaksanakan atau meninggalkan), kemudian memengaruhi cara berpikir mereka? Mungkin saja. Sebab, agama—Kitab Suci dan Sabda Nabi—adalah pengajar terbaik ungkapan simbolis, terutama terkait dengan Tuhan dan ketuhanan. Tuhan yang sama sekali tak terjangkau pikiran manusia kerap hadir dalam bahasa manusiawi dengan tujuan membuka jalan agar manusia mampu menyentuh Tuhan dengan pikirannya, menjamah Tuhan dengan penghayatannya. Tuhan hadir dalam bahasa yang bisa dimengerti manusia. Dan tentu saja, bahasa tentang Tuhan hanyalah bayang-bayang Tuhan dan bukan esensi Tuhan itu sendiri.

Kita tahu, misal, Nabi yang pernah mengatakan bahwa pada sepertiga malam Tuhan selalu bertandang ke “langit dunia”, menyeru para penduduk bumi, “man yad’uni, fa astajibu lahu. Man yastaghfiruni, fa aghfiru lahu.” “Siapa yang berdoa, akan Kukabulkan. Siapa yang meminta ampunan, akan Kuberi.”

Tentu kita tidak akan memahami sabda itu bahwa Tuhan benar-benar hadir mengawang-awang di angkasa secara kasat mata, menyeru manusia dengan suara yang memecah keheningan sepertiga malam. Tak masuk akal (mustahil aqli) manusia dan tak layak bagi karakter ketuhanan, jika Tuhan melakukan itu. Dan nyatanya pada sepertiga malam tak pernah terdengar suara seruan kecuali tawa mengakak para insomniak, atau suara kipas dari mainboard komputer yang casing-nya telah rusak, atau hanya suara putaran jarum jam yang berdetak.

Sesuatu yang tak masuk akal, gaib, mistik, yang hadir dalam simbol-simbol, jika tak dipahami esensinya maka ia akan berhenti sekedar menjadi mitos—yang justru kerap menjadi daya dorong cukup kuat untuk melakukan perintah melakukan atau meninggalkan. Terdorong karena sebuah waktu dan tempat, atau karena iming-iming pahala atau weden-weden siksa, serangkai ritual barangkali pernah dilakukan. Pada saat seperti itu, penghambaan terhadap simbol sedang digelar. Mungkin karena sebuah esensi yang terlalu jauh.[jr]





Semalam Bersama Cak Nun

21 03 2009

Bagai sinetron-sinetron televisi kita, pengusiran Iblis dari surga begitu dramatis. Kecemburuan, pengkhianatan, pembangkangan, dan dendam terkuak dalam tragedi itu.

Tragedi itu bermula ketika Tuhan memperkenalkan anggota “keluarga” baru bernama Adam dalam jajaran kemahlukan. Dalam perkenalan itu, Tuhan meminta kepada semua yang hadir untuk memberikan sujud penghormatan kepada keluarga baru itu. Tak dinyana, permintaan itu diprotes oleh kalangan Iblis. Mereka menolak sujud hormat kepada Adam. Lain hal dengan kalangan Malaikat yang paham perintah tersebut, bahwa sujud itu sejatinya bukan penghormatan kepada Adam, tapi kepada Tuhan sendiri yang telah menciptakannya sedemikian rupa.

“Ada apa, Iblis? Kenapa Kau menolak sujud hormat kepada Adam?”

“Maaf, Tuhanku, apakah adil, jika aku harus sujud kepadanya?!” kata Iblis. “Dia dari tanah dan aku dari api.”

Ternyata praktik narsisme telah bermula sebelum dunia sepenuhnya ada. Dan itu Iblis yang pertama melakukannya. Praktik narsisme dalam arti mencintai diri yang diukur dari kesempurnaan tubuh seraya menafikan keberadaan di luar dirinya. Iblis menyangka, perbedaan materi penciptaan akan berimbas pada derajat kemuliaan diri. Api, dengan karakternya yang gagah menyala, aktif, agresif, selalu ke atas, dan tak mudah dibentuk, seharusnya dipandang lebih mulia ketimbang tanah yang pasif, lemah (“lemah” [bahasa Jawa] artinya “tanah”. Dalam bahasa Indonesia, artinya “tak berdaya”), hanya diam, selalu ke bawah, dan mudah dibentuk tergantung pembentuknya. Barangkali Iblis berasumsi, seharusnya Adam yang sujud hormat kepadanya, selain karena relasi junior yang harus hormat kepada seniornya.

Entah bagaimana kita bayangkan ekpresi wajah Tuhan dalam suasana pembangkangan dan pengkhianatan itu. Yang jelas, setelah itu Tuhan mengusir Iblis. Tuhan mengecap di jidatnya sebagai mahluk sesat, sombong, dan hina.

Kepalang tanggung dicap demikian, Iblis mengajukan permintaan kepada Tuhan.

“Silakan. Apa permintaanmu?”

“Jangan Kau matikan aku sampai hari kiamat. Biarkan aku hidup sampai hari hisab dan hari kebangkitan tiba.”

“Baik. Permintaanmu disetujui.”

Mencengangkan. Setelah tahu permintaannya disetujui Tuhan, di hadapan-Nya, Iblis membeberkan rencana aksinya selama hidup dalam imortalitas di dunia.

“Kepalang tanggung Kau telah hukum aku sebagai mahluk sesat, aku akan konsisten pada jalan kesesatan. Aku akan merebut massa sebanyak-banyaknya untuk ikut jalanku. Aku akan pengaruhi mereka untuk melupakan-Mu, tersesat tak tahu arah menuju jalan lurus-Mu. Imortalitas hidupku di dunia, akan aku habiskan untuk menyesatkan manusia. Lihat saja, Tuhan, Kau bakal saksikan banyak manusia yang tak bersyukur.”

“Pergi, Kau, Iblis hina!”

~

Hampir mustahil saya menemui Cak Nun secara fisik. Untung saya punya ilmu “Sigar Raga”. Pada suatu malam, saya tinggalkan jasad saya yang terbujur tidur di kasur, berharap Cak Nun pun sedang meninggalkan raganya. Saya terbang menembus gelap malam angkasa, lalu sampailah pada dunia antah berantah. Benar saja, Cak Nun sedang kluyuran meninggalkan raga. Saya lihat dia pakai jubah dan bersurban putih, sebagaimana biasa jika tampil bersama Kyai Kanjeng. Saya dekati dia. Mengawali dengan sedikit basa-basi, kemudian berlanjut pada diskusi, termasuk soal tragedi pengusiran Iblis itu.

Tak disangka, ternyata Cak Nun punya hubungan cukup intim dengan Iblis. Kata Cak Nun kepada saya, dia pernah dibisiki oleh Iblis, argumentasi lanjutan kenapa ia tak mau bersujud kepada Adam, kala itu.

Kepada Cak Nun, si Iblis berbisik, “Kami sengaja tidak bersujud kepada Adam, kami minta satu periode zaman saja kepada Tuhan untuk membuktikan argumentasi kenapa kami tidak bersujud kepada Adam. Hari ini aku nyatakan: Tidak relevan Iblis bersujud kepada Adam, karena anak turun Adam sekarang terbukti sangat beramai-ramai dan kompak menyembah Iblis.”





Di Pe Dua Puluh (P 20)

18 03 2009

likaila ta’sau ‘ala ma fatakum, wala tafrahu bima atakum…

”Supaya Kau tak berduka pada apa yang telah luput darimu, dan tak terlampau gembira pada apa yang Ia beri untukmu,” begitu Gusti Pangeran pernah berujar kepadaku.

Ucapkanlah ‘selamat tinggal’ dengan tulus pada yang apa yang telah pergi darimu. Niscaya ia akan membalas dengan ikhlas, “yang hilang akan beri hikmah. Yang datang bakal bawa berkah.”

Dan akan berujar, “yang telah tiada semoga tak buat dirimu terlalu merana. Yang ada semoga tak buat dirimu terlampau bahagia.”

Sebab, sesungguhnya hidup hanyalah putaran konstan datang dan pergi, ada dan tiada. Masing-masing bergulir pada garis yang sama sehingga perbedaan masing-masing adalah semu. Masing-masing bisa terjadi begitu mudahnya. Namun, kerap menjadi sulit dan rumit karena jiwa yang terlalu sempit.

Lalu, yang hilang bikin malang meradang. Yang datang bikin senang bukan kepalang. Yang tiada buat duka tak terkira. Yang ada buat terpana karena terlampau bahagia…

Dalam hening ketika jiwa berada pada kondisi paling rendah dan hampa, aku pun menimpali Ujaran Suci Sang Gusti itu, “Inggih, Gusti, inggih…”

Pada suatu siang ketika menuju Kemang, di bus Pe Dua Puluh yang tak sesak penuh, aku begitu terusik oleh cuaca terik. Kendaraan besar pada berjejer mepet karena jalanan macet. Rotasi dunia seolah berputar lelet. Suara klakson begitu riuh seolah kendaraan-kendaraan itu pada misuh. Pada kondisi tensi tinggi di mana emosi setiap saat bisa meluap berapi-api, aku bergumam dalam hati, “Gusti, aku teringat kawanku, Supra X 125 R G-5471-BR warna merah hitam yang gagah itu. Gusti, Aku tak mengharap yang pergi akan kembali. Sebab, City Sport One baru tentu saja akan lebih menyenangkanku!”

Di Pe Dua Puluh, tubuhku agak kuyup oleh peluh. Kembali aku bergumam, “Nanti malam saja aku kembali menghayati Ujaran Suci Sang Gusti di atas.”





Manifestasi Narsisme

15 03 2009

Beberapa waktu lalu, saya harus memotong rambut panjang saya. “Harus”, bukan karena kepatuhan terhadap suatu peraturan, bukan karena hukuman, bukan karena masalah kesehatan rambut, bukan pula jengah, tapi sebagai ekspresi memuliakan atas sebuah kecenderungan. Rambut bagus seperti itu lebih layak diurus salon dengan para pegawai yang melek model-model potongan rambut mutakhir plus memahami karakter rambut sebelum diputuskan model potongan rambut yang tepat. Dan saya cukup sadar diri untuk memilih salon ketimbang tempat pangkas rambut “konvensional” yang hanya mengerti satu model: yang penting pendek, meski harus makan hati setelahnya – dengan tetap eksisnya tempat pangkas rambut konvensional itu, menandakan ada orang-orang yang sesuai dan puas dengan pelayanannya, dan saya bukan salah satunya.

Sejak kecil saya memang menyukai rambut panjang. Hanya saat di pesantren, rambut saya tak pernah menyentuh telinga, begitu juga saat kuliah, karena keharusan mengikuti sebuah aturan. Semasa itu, saya berada di lingkungan orang-orang yang berkecenderungan tak menyukai rambut panjang. Karena itu – meski tidak sesuai dengan naluri – saya tak berpanjang rambut, berusaha menaruh hormat kepada mereka.

Belakangan saya cukup sadar diri, berpanjang rambut bukan sekedar suka, tapi sudah melewati pertimbangan kepatutan, kelayakan, dan kepantasan – tentu saja menurut pribadi. Dan jika kembali berrambut panjang, itu sama sekali tak berarti saya memberontak kepada orang-orang yang berkecenderungan sebaliknya. Namun, jika itu tetap juga dianggap tidak hormat, tentu masih banyak cara lain untuk menaruh hormat.

Itulah, saya kira, pentingnya tahu diri, sadar diri dan cinta diri yang bisa dilakukan dengan berragam ekspresi, salah satunya dengan sering melihat citra diri atau berinteraksi dengan lain diri (inilah masa ketika media berinteraksi begitu luas, bukan hanya dunia nyata tapi juga dunia maya, bukan hanya di bumi tapi juga di langit). Saya yakin, orang yang sadar dan tahu diri dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, ia akan lebih rendah hati, pandai menempatkan diri, tahu bagaimana memperlakukan dan merawat diri, sadar akan yang pantas dan tak pantas bagi diri, mengerti kebutuhan yang layak dan yang tak layak dimiliki (paling tidak, tahu di mana harus potong rambut). Saya yakin, orang yang tahu dan sadar akan cintanya pada diri sendiri, akan memungkinkan ia paham cinta dari dan untuk orang lain.

Cintailah diri sampean sendiri. Siapa lagi yang paling pertama yang mau tahu, mau menyadari, dan mau mencintai diri kita, jika bukan diri kita sendiri. Siapakah yang cintanya kepada diri kita mutlak tanpa syarat, selain diri kita sendiri. Jika cinta sampean kepada diri sampean sendiri sudah bersyarat dan perhitungan, bagaimana sampean mau mencintai orang lain dengan tulus.

“Narsisme” dalam Kamus Ilmiah Populer yang disusun oleh Pius A. Partanto dan M. Dahlan Al Barry, artinya “sikap mencintai diri sendiri secara berlebihan”. Apakah arti “berlebihan”? Dari sudut pandang siapa “berlebihan” ditentukan?

So what, gitu loooch?!





Seluas Apa Hati Sampean?

20 02 2009

Ikut kewjiban ritus rutin jumatan tadi, saya benar-benar “terganggu” oleh khutbah sang khatib, yang mengusik kebiasaan saya jika prosesi itu berlangsung: tertunduk khusyuk alias tenguk-tenguk terbelenggu kantuk. Tapi, kali ini tidak. Saya terbius untuk menyimak khutbah itu sampai akhir. Benar-benar tumben!

Pada prolognya, si khatib menyitir surat “alam nasyrah”: Alam nasyrah laka shadrak. Wawadha’naka ‘anka wizrak. Alladzi anqadha dzahrak. Warafa’na laka dzikrak. Fa inna ma’a al-’usri yusra. Inna ma’a al-’usri yusra. Faidza faraghta fanshab. Wa ila rabbika farghab…

Selanjutnya, si khatib menyampaikan khutbah denga tema “sekuler”, soal ekonomi. Agaknya, disimak dari penyampaiannya, si khatib paham betul soal perekonomian. Ia berbicara soal krisis yang terjadi di Amerika yang mengglobal, termasuk pengaruhnya terhadap Indonesia saat ini, kemudian membandingkannya dengan krisi yang terjadi di sini tahun 1998.

Indonesia dan beberapa negara Asia lainnya, ibarat anak-anak ayam, dan Amerika adalah induknya sebagai tempat bergantung. Tahun 1998, beberapa negara Asia, termasuk Indonesia, terkena krisis moneter. Jika “anak-anak” terserang penyakit, maka tidak akan berdampak besar pada induknya. Krisis di Indonesia saat itu, tak berdampak pada perekonomian Amerika. Sebaliknya, jika Amerika terkena krisis, maka akan berpengaruh pada negara-negara “anak ayam” semacam Indonesia.

Menjelang akhir “kuliah” ekonomi itu, saya sudah menebak, paling-paling selanjutnya si khatib akan berpesan, di balik kesusahan, kesengsaraan, krisis, tersimpan kemudahan, kelapangan. Setelah itu, selesailah prosesi khutbah. Eh, ternyata saya salah tebak. Si khatib melanjutkan khutbah dengan cerita ini…

Ada seorang murid sedang mumet dengan problem yang menurutnya berat. Lalu, ia meminta saran kepada gurunya. Si guru sufi, tidak memberi solusi langsung. Ia tidak memberi ikan, tapi membekalinya kail.

“Coba, sampean ambil gelas berisi air dan segenggam garam,” kata guru sufi.

“Sampean masukan segenggam garam itu ke dalam gelas berisi air itu. Aduk sampai garam itu benar-benar larut. Setelah itu, coba sampean dulit air itu.”

Si murid pun mengikuti petunjuk guru.

“Bagaimana rasanya?”

“Asin ndlijit tidak ketulung, Guru!” kata si murid.

“Baiklah, sekarang sampean ambil segenggam garam lagi, tapi sampean masukan ke dalam kolam yang lebar di belakang. Lalu sampean aduk sepuasnya. Kemudian, coba rasakan.”

Si murid kembali mengikuti arahan guru.

“Bagaimana rasanya?”

“Tawar, guru. Tidak ada rasa asinya.”

Si guru sufi kemudian menasihati, hidup ini tak pernah lepas dari persoalan. Bapak Adam dan ibu Hawa turun ke bumi pun karena sebuah persoalan. Sejatinya, tidak ada yang disebut persoalan berat atau ringan, besar atau kecil. Ukuran persoalan tak terletak pada dirinya, tapi bagaimana hati kita mengolahnya. Jika hati yang kita miliki cupet, tak cukup lapang dan luas, maka setiap masalah yang kita hadapi selalu akan terlihat besar, terasa “asin dlijit”.

“Bukankah Aku telah lapangkan dadamu?!” kata Allah.

Jiaaangkrik! Anjrit! Atau sampean bisa menerjemahkannya dengan: subhanallah!

Melangkah keluar menjauh dari masjid, saya hanya misuh-misuh terkesima oleh khutbah yang inspiratif itu. Gemanya mengiang-ngiang sepanjang jalan, mengiringi saya menuju ATM, menemani langkah saya ke warung sunda untuk beli sebungkus nasi, terus menerus sampai kost. Sesampainya di kost, saya muncratkan gema yang mengiang-ngiang itu menjadi tulisan ini, setelah sebelumnya melahap makanan sunda dengan komposisi cukup sempurna: telur bulat dengan bumbu yang pating ndlewer, terong oseng, dan tahu oseng. Poko’e, mua’ nyus! kata Bondan Winarno.





Dalam Rasa

15 02 2009

Simbol diwujudkan sebagai ekspresi atas esensi yang asli dan sejati, yang tak terjangkau obyektifikasi inderawi, yang misteri – yang sebab itu selalu dirindui. Simbol bukan esensi yang asli dan sejati. Namun, terkadang memberi pemuasan diri. Simbol kemudian layak dihayati. Sebab rindu, simbol menjadi penting.

Masyarakat pagan jaman jahiliyah adalah adalah para perindu, orang-orang yang kangen akan “Yang Asli” dan “Yang Sejati”, satu esensi yang kehadirannya hanya mewujud dalam wajah yang bersembunyi, dalam bunyi yang sunyi. Patung-patung dibuat sebagai ekspresi kerinduan, sebagai penghubung untuk menjangkau “Yang Jauh”, yang tak terjangkau obyektifikasi inderawi. Ma na’buduhum illa liyuqarribuna ilallah zulfa, seperti dikisahkan Kitab Suci.Kami sembah patung-patung itu semata agar mendekatkan kami kepada Tuhan sedekat mungkin.”

Takdir Tuhan sejatinya adalah “wajah yang bersembunyi”, “bunyi yang sunyi”. Ia sama sekali tak berkehendak diri-Nya menjelma atau dijelmakan dengan sosok yang terang oleh mata dan telinga. Lau aradallah an yattakhidza walad, lashthafa mimma yakhluqu ma yasya. Subhanah. Sekiranya Tuhan hendak menjadikan anak, tentu Ia akan memilih apa yang dikehendaki-Nya di antara ciptaan-ciptaan yang telah ada. Maha Suci Tuhan.

Biarkan Ia tak terpandang oleh mata, tak terdengar oleh telinga, selalu dan selamanya. Pandangan mata dan pendengaran telinga adalah ilusi. Mata dan telinga manusia yang relatif tak pernah bisa adil dalam melihat dan mendengar Tuhan yang absolut, atau bahkan sekedar “anak”nya – jika saja Ia benar-benar mewujud diri terbuka oleh mata. Menjelmakan Tuhan pada patung-patung, atau mewujudkan patung-patung, atau simbol-simbol apa pun – di mana inderawi adalah pemeran utama – sebagai perantara mendapatkan kedekatan, sesungguhnya adalah ilusi yang reduktif tentang-Nya.

Tuhan menunjukkan kebijaksanaan-Nya yang luar biasa, ketika menolak Musa yang berhasrat agar Ia hadir dalam wajah yang terang, wajah yang terjangkau mata. Tuhan menolak kehadiran diri yang terjamah inderawi.

Sungguh tak terbayang, jika saat itu Tuhan benar-benar kalah oleh hasrat Musa. Kemudian Musa merekam dalam memorinya, wajah Tuhan yang pernah ia lihat. Lalu, dari tutur Musa tersebarlah informasi sketsa wajah Tuhan kepada umatnya, kemudian turun temurun kepada umat selanjutnya, selanjutnya, dan selajutnya hingga masa ini. Atau, katakanlah, pada setiap masa, kepada setiap rasul-Nya, Tuhan menampakkan diri. Tuhan mematok diri pada sebuah simbol yang pasti.

Tuhan Maha Suci dari semua itu. Tuhan mewujud dalam abstraksi di mana realita bersifat fisik tak lagi jadi acuan, hadir dalam bayang-bayang ketak-pastian, melintas-batasi inderawi, melampaui sekat-sekat nalar, tak terpatok kaku pada sebuah simbol yang pasti, memungkinkan siapa pun untuk menghayati-Nya sampai pada batas di mana ia merasakan kenyamanan jiwa.

“Siapa yang menduga ketersingkapan Tuhan terhampar dalam kalimat dan kata, terdampar dalam nalar dan dialektika, maka ia sedang membatasi rahmat Tuhan yang tak terbatas,” kata Imam al-Ghazali dalam al-Munqidz Min al-Dhalal (Pengentas Kesesatan).

Karena Tuhan hadir dalam rasa, di luar kekuasaan indera, di atas kelemahan kalimat dan kata. Dalam rasa, penghayatan tentang Tuhan adalah sesuatu yang sangat personal. Sedangkan kalimat dan kata hanya merupakan percobaan untuk mengulanginya dan menyusunnya. Rekonstruksi dari sebuah rasa.[jr]





Dalam Pencarian

9 02 2009

Sejarah kebijaksanaan adalah sejarah kehilangan. Dan sejarah kehilangan adalah sejarah pencarian. Apa yang hilang tak selalu apa yang pernah ada yang menjadi tiada. Tapi juga apa yang belum ada dan diketemukan, yang mesti dicari – mengisyaratkan betapa penting betul ia.

Dan, sejarah pencarian adalah sejarah ketak-pastian. Ada pun Imam al-Ghazali yang berhenti pada “Thuruq al-Shufiyah”, Jalan Sufisme, yang ia katakan sebagai “jalan terbaik dan terbenar untuk sampai pada kesadaran akan Tuhan” – seperti ia tuturkan dalam al-Munqidz min al-Dhalal (Pengentas Kesesatan), sebuah memoar pengembaraan spiritual dan intelektual – maka sebaiknya dipahami sebagai jalan alternatif di mana ia akhirnya menapak dengan nyaman dan nikmat dalam menghayati Tuhan dan ketuhanan. Di antara sekian alternatif “obat”, pada Thuruq al-Shufiyah ia menjumpai penyembuhannya. Dan yang alternatif selamanya tak pernah absolut.

Sang Imam melakukan pencarian menemukan “ilmu” yang mampu menyingkap hakikat sesuatu tanpa sisa-sisa keraguan, yang ia sebut dengan ilmu yaqini. Ia menerjunkan diri dalam proses. Ia memasuki banyak ruang kemungkinan. Ia menjamah kosmos ilmu kalam, menelaah karya para mutakalimun (teolog) dan merefleksikan pandangan-pandangan teologinya dalam beberapa karya. Namun, pada akhirnya, ilmu kalam, katanya, tetap tak mampu mengobati “penyakit” yang ia derita.

Beranjak dari ilmu kalam, Imam al-Ghazali melakukan pencarian dalam filsafat. Lebih dari dua setengah tahun ia sempatkan diri untuk dunia filsafat, bergulat di dalamnya. Sampai akhirnya ia berksesimpulan, karya-karya filsafat yang ia jumpai hanya berisi “keraguan-keraguan yang tak diragukan”. Ia pun beranjak meninggalkannya.

Ketika yang ada hanyalah kemungkinan-kemungkinan – keniscayaan dari sebuah pencarian –, pilihan pada salah satu kemungkinan sesungguhnya bukan lagi semata berdasar pada kebenaran nalar dan perhitungan rasional, tapi kenyamanan dan ketentraman hati. Yang rasional mungkin selalu bisa menjawab, tapi tak selalu bisa menentramkan. Dan Imam al-Ghazali merasakan kenyamanan dan ketentraman hati itu dalam alternatif yang ia pilih selanjutnya: “Thuruq al-Shufiyah”, Jalan Sufisme. Sekali lagi, yang alternatif selamanya tak pernah absolut, sebagaimana ia menilai ilmu kalam semata sebagai “obat” yang hanya dibutuhkan saat sakit. Penderita bisa saja berhenti mengkonsumsi obat, jika ia terbukti tidak manjur, dan beralih ke obat lain.

Pencarian mengisyaratkan adanya diri yang tak sempurna dan memadai, diri yang gelisah. Ada yang lebih penting dalam pencarian, sebetulnya, ketimbang hasil pencarian itu sendiri – yang sangat mungkin bersifat subyektif dan personal – yaitu proses persentuhan dan perjumpaan dengan orang lain, siapa pun ia, atau bakan dengan apa pun. Maka, berrendah hati – menjadi sosok gelas kosong dan bening yang memungkinkan air masuk dan cahaya merasuk – adalah keharusan dalam proses itu. Sebab, dari proses itulah kebijaksanaan muncul, menunjukkan dan menegaskan adanya kelemahan dan kekurangan: diri yang tak sempurna dan memadai itu. Sekaligus proses mengeliminasinya.

Al-hikmah dhallah al-mu’minin, haitsu wajadaha akhadzaha, dalam ungkapan Arab yang terkenal. Kebijaksanaan adalah barang hilang orang-orang beriman. Di mana pun ia dijumpai, pungutlah.[jr]





Fatwa MUI

2 02 2009

Hampir semua orang tahu kejujuran ini: MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN. Di televisi atau radio, peringatan itu selalu menjadi penutup dari semua iklan produk rokok. Semua itu ditulis kapital sehingga mencolok, dan disampaikan penuh penekanan. Barangkali, rokok adalah satu-satunya produk paling jujur. Ketika iklan produk-produk lain selalu berusaha tampil meyakinkan dengan menonjolkan kualitas, azas fungsi dan manfaat yang terkadang secara berlebihan, dan peringatan-peringatan efek samping selalu disamarkan, rokok sebaliknya. Ia sama sekali tak melakukan semua itu, dan justru menonjolkan efek samping secara gamblang. Begitu jelas.

Peringatan – bahkan cenderung seperti ancaman – itu tentu tak kurang hebat. Sebab, jiwa yang menjadi sasaran ancaman. Peringatan itu telah begitu benderang bagi siapa pun, kalangan perokok atau bukan. Jika benar, setiap fatwa MUI yang dikeluarkan selalu atas pertanyaan dari (sebagian) masyarakat, kemungkinan masyarakat yang bertanya (tentang rokok) itu tak sedang hendak mencari terang perihal seluk beluk rokok. Salah alamat, bertanya kepada MUI soal seluk beluk rokok. Jika ada pihak yang paling otoritatif untuk dilempari pertanyaan perihal rokok kemudian mengeluarkan fatwa tentangnya, maka itu adalah para “ulama” medis. Tapi, bahkan, sepertinya bertanya kepada “ulama” medis pun sebenarnya tak perlu. Sebab, sekali lagi, rokok adalah satu-satunya produk paling jujur. Peringatan bahwa rokok dapat menyebabkan sekian penyakit telah begitu gamblang tertera di antara bayang-bayang kenikmatannya. Dan hampir semua orang tahu itu.

Lalu, kenapa itu terjadi, kenapa ada sebagian masyarakat yang bersandar kepada (lembaga) agama, dan melemparkan pertanyaan kepada mereka yang dianggap otoritatif di dalamnya, ketika semuanya telah begitu terang, gamblang dan rasional? Mungkin sekedar untuk mendapatkan kenyamanan dan ketenteraman jiwa, ketimbang benar-benar ekspresi ketak-mengertian kemudian benar-benar hendak mencari jawaban yang rasional. Barangkali, masyarakat penanya tersebut adalah orang-orang yang akan lebih merasa mantap jika agama telah ikut memutus, meski secara rasional sebenarnya mereka sendiri dapat memutus. Yang rasional mungkin selalu bisa menjawab, tapi tak selalu bisa menentramkan. Pada saat seperti itulah agama menjadi penting.

Inilah masa – seperti kata-kata Goenawan Mohamad dalam prakata Tuhan & Hal-Hal Yang Tak Selesai – ketika Tuhan tak bisa ditolak dan agama bertambah penting dalam hidup orang banyak, memberi kekuatan, menerangi jalan, tapi juga membingungkan dan menakutkan.

Karena MUI tak mengeluarkan fatwa kecuali ada pertanyaan dari masyarakat, maka fatwa rokok MUI menjadi penting – “memberi kekuatan, menerangi jalan” – tentu saja semestinya terbatas semata bagi masyarakat yang bertanya dan merasa berkepentingan, atau orang-orang yang sependapat dengan alur logikanya. Tak adil, jika yang tak bertanya dan tak pula merasa berkepentingan dengan fatwa itu, kemudian dibebankan menanggung dan menjalankan fatwa itu.

Jadi, katakanlah, fatwa MUI hanyalah sebuah “pendapat” sekelompok orang, yang terdengar gagah – mungkin “menakutkan” – dengan nama “fatwa”.

Dan, posisi MUI yang tak jelas – tidak memiliki posisi struktural dalam pemerintahan, kenyataannya seperti membayang-bayangi (atau di bawah bayang-bayang) pemerintah – dianggap “membingungkan”, kerap menimbulkan asumsi yang semestinya tak dibenarkan: fatwa MUI adalah sikap pemerintah.[jr]





Musik

28 01 2009

Pada suatu waktu di hari lebaran, Aisyah merayakan keriangan hari itu bersama dua orang perempuan, dengan mendendangkan lagu-lagu dan mungkin tetabuhan seadanya. Tapi sepertinya Abu Bakar tak berkenan. Tak pasti kenapa. Mungkin karena ia termasuk orang yang tak memiliki selera dengan tembang-tembang dan tetabuhan. “Tetabuhan setan di sini?!” katanya, unjuk rasa tidak sukanya. Atau mungkin karena untuk menghormati keberadaan Rasul, di sampingnya, saat itu. Tapi, justru…

“Biarkan saja, Abu Bakar. Hari ini adalah lebaran kita,” kata Rasul.

Pun tak terang pasti, kenapa Rasul melarang Abu Bakar untuk melarang Aisyah dan kawan-kawannya mendendangkan tembang-tembang dan memainkan tetabuhan. Mungkin hanya soal momentum, karena hari itu adalah saat lebaran di mana kegembiraan layak diekspresikan dan dirayakan. Atau, sejatinya lagu-lagu dan tetabuhan adalah sesuatu yang tak bisa dihukum. Namun, yang jelas, Aisyah menyuakinya.

Dan di antara orang yang menyukai dan dapat menikmati tembang-tembang dan musik adalah Imam al-Ghazali. Ia memiliki kesan tersendiri tentangnya. “Siapa yang tidak tergetar hatinya mendengar kemerduan musik dan keindahan pemandangan,” katanya, “maka dia telah mengidap penyakit yang sulit diobati.”

Tentu Imam al-Ghazali tak sepenuhnya adil soal pernyataannya itu, apalagi jika dihadapkan pada era ini, ketika penyanyi dan grup musik baru cepat bermunculan dengan berragam aliran, secepat mereka tenggelam untuk digantikan oleh pendatang yang lebih baru. Ketika keadaan demikian, apa yang disebutnya “tidak tergetar hatinya mendengar kemerduan musik” adalah bukan soal musik, tapi soal momentum hati untuk berinteraksi dengan musik.

Di malam yang hening, ketika jari-jemari telaten pada keyboard dan sepasang bola mata bolak-balik antara monitor dan keyboard, yang keduanya mencoba bersatu dengan pikiran untuk berfokus pada satu tema, hati mungkin akan lebih merasakan suasana keheningan itu, ketika Ebiet G. Ade menemani dengan lantunan “Camelia”, atau Da Java dengan tembang “Cinta Jangan Kau Tangisi”, atau di temani “Lewat Semesta”-nya Randi Pangalila, “Dealova”-nya Once, “Kau Tigakan Cinta” milik Elkasih, atau “Dona-Dona” yang dinyanyikan dengan mendayu-dayu oleh Sita.

Pada suatu siang menjelang sore, Pass Band dengan “Jengah”, My Chemical Romance dengan “Mama”, Kotak dengan “Beraksi, atau teriakan ala musik underground dari Purgatory dengan “Hoprocrisit”-nya, dan sebagainya, mungkin akan lebih menghentak jiwa. Dan di pagi hari, “Lagu Seksi” versi dangdut koplo oleh Trio Macan atau “Mbledes” dari duet Aksay dan Aida, adalah lagu-lagu yang akan menemukan momentumnya.

Pada akhirnya, menikmati musik (tertentu) yang membuat hati bergetar atau bahkan membencinya sehingga pantas disebut “tetabuhan setan”, adalah soal rasa dan selera jiwa, tentang suasana hati, masalah mood. Musik, pada dirinya, ia tak memiliki hukum.[jr]





Ambiguitas Tuhan

26 01 2009

Tuhan adalah sosok yang tak terjangkau, berada di tempat yang teramat jauh. “Ia ada di langit,” kata seorang perempuan, suatu ketika, kepada Rasul. “Perempuan itu telah beriman,” ujar Rasul menilai-benarkan apa yang perempuan tersebut tahu dan hayati tentang Tuhannya.

Langit, jika mungkin ia suatu tempat, maka pastilah tak terhingga jauhnya, tak ada alat ukur untuk menjangkaunya, kecuali hanya sebatas kata. Mungkin, begitu juga dengan al-’arsy: tempat asing nun jauh di alam antah berantah yang tak terpindai pikiran manusia, di mana Tuhan singgah setelah mencipta semesta. Langit dan al-arsy, sejatinya mungkin sesuatu yang ada, namun yang pasti tak terkira.

Agaknya Tuhan pun tahu akan hal itu, sadar diri-Nya adalah sosok yang jauh, di mana manusia tak bisa hadir untuk menjangkau-Nya. Maka, Ia selalu hadir pada dini hari, pada suatu waktu yang hening, menyambangi setiap manusia yang rindu, mempersilakan diri-Nya dipeluk dan dijamah dengan segenap penghayatan. Bagi sebagian orang, Tuhan yang gaib mungkin bisa “nyata” di gelap malam yang hening, di sebuah “rumah Tuhan” di mana manusia bisa menjumpai-Nya.

Tuhan yang tak terjangkau, yang jauh di langit, yang singgah gagah di al-’arsy, mungkin lebih disadari dan dimengerti. Sebab, barangkali, dengan semua itu, sosok Tuhan dapat dibanggakan, seolah ke-maha-an-Nya lebih tampak.

Dan ketika Tuhan hadir dalam sosok yang tersisihkan dan terpinggirkan di pojok-pojok bumi, yang hanya terlintas sekilas oleh pandangan mata, yang cuma menempati pojok kecil di ruang pikiran, atau bahkan tak pernah terpikirkan, maka hal itu mengherankan dan tak bisa dimengerti.

Serangkai cerita kecil datang dari Rasul. Dikisahkan, Tuhan berdialog dengan manusia, di akhirat.

“Aku pernah sakit, kenapa kau tak menjenguk? Aku pernah kelaparan dan kehausan, kenapa kau tak peduli?” tanya Tuhan kepada manusia.

Dengan ketak-mengertian mendalam, manusia tersebut berkata, “Tuhan, bagaimana aku bisa menjenguk-Mu, mengantarkan makanan dan minuman untuk-Mu, sedangkan Kau adalah Tuhan semesta alam?!”

Tuhan menjawab, “Tidakkah kau tahu, hambaku si Fulan pernah sakit?! Tidakkah kau tahu, hambaku si Fulan pernah kelaparan dan kehausan?! Aku tahu, kau tahu semua itu, hanya saja kau tak mau peduli. Padahal jika kau mau mendekati mereka, niscaya kau akan menjumpaiku di sisi mereka.”

Tuhan hadir dalam ambiguitas yang mengesankan. Ia mengawang di langit jauh, singgah gagah di singgasana al-’arsy, dan sekaligus senantiasa bersama manusia di bumi, bahkan lebih banyak bersama manusia-manusia tersisih yang tak menyita perhatian mata.

Ambiguitas ini menyiratkan pemaknaan dan penghayatan yang luas tak terbatas tentang Tuhan. Karenanya, setiap hati memiliki kemandirian dan kebebasan mencari pemaknaan dan penghayatan itu sampai pada pilihan di mana ia merasakan kenyamanan.[jr]

 





Puisi Dan Catur

24 01 2009

Puisi, kata Goenawan Mohamad, dalam dirinyalah keterbatasan dirundung janji. Dan janji itu adalah tentang sebuah makna. Dalam janji, sebuah makna tak pernah diketahui pasti.

Permainan catur adalah rangkaian puisi. Dalam puisi ada keniscayaan keterikatan “rima” dan “irama”. “Irama” menuntut gerakan yang teratur. Begitu juga dengan permainan catur. Pergerakan pion di atas papan catur adalah garakan teratur, langkah pasti, namun menjanjikan strategi mematikan yang hanya diketahui pasti oleh sang pemain, untuk menundukkan lawan main. Kenapa harus strategi yang tersembunyi? Sebab, jika terus terang, lawan dengan mudah akan mengelak, dan mungkin akan menundukkan balik sang pemain. Strategi permainan catur adalah strategi puisi: yang tampak tak bisa dibaca sebagaimana adanya. Pemain hanya bisa mengira-ngira dan “menafsiri” – dengan kemungkinan terkecoh – maksud langkah-langkah pion yang digerakkan lawan mainnya, sebagimana puisi – juga Kitab Suci – di mana pembaca selamanya hanya bisa “menafsiri” rangkaian kata yang dimaksud oleh penulis puisi, dengan kemungkinan tak pernah sampai pada maksud yang sejati.

Satu kekuatan puisi: ia mampu menyampaikan apa yang tak bisa diutarakan secara terus terang. Dalam permainan catur, kepada lawan, kita bisa katakan: “aku akan mengalahkanmu”, tapi strategi bagaimana “aku akan mengalahkanmu” selamanya adalah sebuah janji yang rumit diketahui pasti oleh lawan.

Puisi dan catur sama-sama menyembunyikan janji: janji puisi tentang sebuah makna, janji catur tentang strategi. Di sinilah puisi dan permainan catur terikat dalam benang merah.[jr]





Wajah Tuhan

23 01 2009

Musa begitu berhasrat memandang wajah Tuhan – setelah terhanyut nikmat oleh merdu suara-Nya. Laisa al-khabar ka al-mu’ayanah. Mendengar merdu suara Tuhan adalah kenikmatan, Musa membayangkan; maka apalagi sambil memandang wajah pemilik suara itu. Rindu rasa membuat Musa rindu rupa. Raga memang selalu butuh pemuasannya.

Namun, Tuhan tak berkenan. Ia menolak permohonan Musa untuk mewujud diri dalam rupa yang terang, dan memilih hadir dalam kebijaksanaan. Ia menjadikan diri-Nya tetap sebagai kerinduan, senantiasa menjadi bayang-bayang ketak-pastian, menjadi Yang Tak Terang, untuk Musa dan semua manusia, selamanya.

Justru dengan itu orang beriman dan tak pernah jera untuk itu. Subhanaka tubtu ilaika wa ana awwal al-mu’minin. “Maha Suci Engkau. Aku bertaubat kepada-Mu. Dan aku orang yang pertama-tama beriman,” kata Musa. Sebab, dalam terang, tak lagi disebut iman. Dalam terang, kenikmatan iman tak dapat dirasa, dan yang diimani kehilangan kesakralannya. Iman tak butuh pencarian bukti fisik, wajah yang terang. Al-iman kafin la yahtaj ma’ahu ila tanqir wa bahts, dalam kata-kata Alqurtubi. Dalam iman, wajah yang terang adalah ketak-sempurnaan dan keterbatasan. Dan Tuhan Maha Sempurna, Yang Tak Terbatas.

Tuhan Yang Maha Sempurna, Yang Tak Terbatas, Yang Tak Terpermanai, yang selalu menggetarkan hati dalam kerinduan, Yang Tak Terang di mana iman tak pernah jera, yang menjadi bayang-bayang ketak-pastian yang justru karena itu hati memiliki kebebasan melakukan penghayatan yang paling pribadi, hanya dapat dinikmati di dunia ini.

Pada dunia yang lain, bagai bulat purnama yang benderangnya bersih dari balutan awan paling tipis sekali pun, wajah Tuhan teramat terang oleh setiap mata telanjang. Pada saat itu, setiap wajah akan berseri-seri terpesona memandang wajah elok Tuhan. Wujuhun yaumaidzin nadhirah, ila rabbiha nadzirah, persis dalam kata-kata Kitab Suci. Mungkin juga ada wajah yang tertawa sebab memandang wajah Tuhan yang lucu. Atau wajah ketakutan karena memandang wajah Tuhan yang seram. Mungkin juga akan banyak ekspresi-ekspresi wajah yang lain. Masing-masing wajah akan menjadi penilai wajah Tuhan. Di dunia lain itu, Tuhan telah takluk. Di sana, Tuhan tidak hadir sebagai yang tak terbatas, tak lagi jadi yang tak terpermanai, tak ada hati yang bergetar dalam kerinduan sebab mata telah menemui pemuasannya. Mungkin, di sana, kelak, tidak ada iman…

Mungkin juga tidak seperti semua itu.[jr]





Ketika Kelamin Jadi Ukuran

16 01 2009

Persepsi lahir dari konteks yang terindera, dari sebuah keadaan di mana empunya persepsi berinteraksi, menjadi respon atas realita di mana ia berada.

Imam Syafi’i yang pakar fikih – di mana karakter fikih adalah rigid – menyimpan keromantisan yang tersibak ketika mengatakan ini: “Sebagian orang mengatakan, mencintai wanita adalah bencana. Padahal, bencana sesungguhnya adalah berdekat dengan lelaki yang jauh dari cinta seorang wanita.”

Atau Ibnu Hazm yang dengan penuh gusto memberikan penghargaan kepada perempuan seraya mencemooh geram lelaki yang memandang ke-lelaki-annya sebagai ukuran.

Katanya: “Jika Anda merasa lebih utama dari Maryam, Aisyah, atau Fatimah, hanya karena engkau lelaki dan mereka perempuan, maka orang yang mengatakan hal itu pantas disebut orang bodoh.”

Meloncat dari suatu masa di negeri nun jauh, kita berdekat-dekat pada masa kini di negeri ini, dengan mengutip M. Quraish Shihab. Ujarnya: “…melecehkannya (perempuan) berarti melecehkan seluruh manusia, karena tidak seorang manusia pun – kecuali Adam dan Hawa – yang tak lahir melalui seorang perempuan.”

Persepsi apresiatif semacam itu tentu menjadi istimewa mengingat pengujarnya adalah para lelaki, sehingga melemahlah unsur subjektifitasnya, meski mungkin tidak sepenuhnya. Tapi di sinilah ironinya. “Apresisasi istimewa” menyuratkan gambaran aspek luar biasa yang mesti ditonjolkan dari satu entitas bernama perempuan, tapi menyiratkan adanya dominasi yang tak adil pandangannya: dominasi ke-lelaki-an yang selalu mengukur kelamin. Maka, apresisasi istimewa lahir dari konteks sebuah dominasi yang menghegemoni dari sebuah kelamin tertentu, dari keadaan yang diskriminatif, yang mungkin tersamar di bawah alam sadar.

Kata-kata para pengujar lelaki di atas adalah sarkasme, sindiran tajam, gugatan bagi keadaan di mana seorang lelaki memandang perempuan sebatas pada “karena aku lelaki dan mereka perempuan”, sebuah pandangan yang membentur raga, tidak menembus hakikat manusia yang tersemat di dalam seonggok raganya emosi dan nalar, hati dan pikiran, unsur spiritual dan intelektual. Dan raga adalah fisik. Sesuatu yang fisik mesti pula dihargai dengan yang bersifat fisik. Maka, transaksi dan interaksi yang terjadi adalah kebendaan, tak melibatkan aspek emosional dan rasional. Memandang perempuan seperti melihat barang dagangan di pasar. Memilah dan memilih sama mudah dengan meninggalkannya. Jika keadaan tak mendukung untuk mampu memilikinya, enteng saja berujar: “tinggal saja, cari lagi”. Mungkin orang dengan watak semacam ini tak memiliki cukup emosi dan nalar, hati dan pikiran, untuk menjangkau perempuan sampai pada hakikat kemanusiaannya.

Ini adalah keadaan anomali – di mana penistaan hakikat kemanusiaan dianggap lumrah sambil berusaha memaklumi – bukan hanya karena melanggar logika “tidak seorang manusia pun – kecuali Adam dan Hawa – yang tak lahir melalui seorang perempuan”, seperti dalam kata-kata M. Quraish Shihab, tapi juga sebab ada unsur-unsur hakikat kemanusiaan yang sengaja diabaikan. Sialnya, dalih-dalih “ini umum terjadi”, “ini pandangan umum”, dan segenap kambing hitam lain atas nama “kebanyakan orang”, dijadikan legitimasi bagi keadaan anomali itu.

Keadaan umum yang sejatinya anomali mestinya tidak dijadikan dalih dan dengan dungu ikut membesarkannya. Keadaan umum yang sejatinya anomali seharusnya menjadi objek keprihatinan seraya berharap segera lenyap.

Maka, konteks tulisan ini pun jelas: ketika kelamin – tepatnya ke-lelaki-an – jadi ukuran, saat mulut berbalut pongah mengangah sesumbar: “kamu itu lelaki, bukan perempuan!”, seolah takdir lelaki adalah kesempurnaan dan nasib perempuan adalah kecengengan.[jr]