Zaid Pukul Amr

17 02 2009

Sampean kenal Zaid dan Amr?

Sampean yang pernah nyantren, khususnya di pesantren yang melesatrikan tradisi pengajaran kitab kuning, pasti tahu. Ya, keduanya adalah sosok fiktif paling dikenal karena paling banyak disebut, utamanya dalam kitab-kitab gramatikal Arab atau nahwu, sebagai obyek permisalan.

Siapa Zaid?

Zaid adalah satu-satunya nama sahabat Rasul yang disebut secara langsung oleh Alquran sebagai orang yang mendapat anugerah, tepatnya dalam surat al-Ahzab ayat 37: …falamma qadha “zaid” minha wathara…“Maka, ketika ‘Zaid’ telah menceraikan istrinya…” (dst.). “Zaid” yang dimaksud adalah “Zaid bin Haritsah”, salah seorang sahabat Rasul, yang dalam kisahnya, adalah orang yang menceraikan istrinya, bernama Zainab binti Jahsy, untuk kemudian dinikahi oleh Rasul, atas titah Allah. Zaid ini begitu mencintai Rasul, hingga ia disebut “al-hubb” (cinta).

Nah, konon, nama “Zaid” yang kerap dijadikan permisalan dalam ilmu nahwu itu, terinspirasi dari sosok Zaid yang diceritakan Alquran itu. Tabarrukan dengan Alquran. Meski nama “Zaid” dalam ilmu nahwu terinspirasi dari Zaid sahabat Rasul yang baik sehingga namanya diukir Alquran, namun, dalam kitab Matn al-Jurmiyah – sebuah kitab gramatikal Arab dasar – “Zaid” mesti dipukul, entah karena alasan apa, ketika pengarang kitab itu membuat permisalan: “dharabtu zaid”, “Aku Pukul Zaid”, sebagai permisalan bab “maf’ul bih” (obyek penderita). Penulis al-Jurmiyah menjadikan si Zaid menderita oleh pukulan.

Amr Curi “Wawu”

Selain si Zaid, si Amr juga sering disebut sebagai obyek permisalan dalam ilmu nahwu. Saya ceritakan sedikit desas-desus tentang si Amr.

Kata “amr”, dalam bahasa aslinya, bahasa Arab, mesti ditulis dengan empat huruf hijaiyah: “ain”, “mim”, “ra”, “wawu”. Khusus “wawu”, ia hanya huruf tambahan yang tak memiliki fungsi fundamental, selain penting sebagai penanda agar rangkaian huruf-huruf itu terbaca “amr”, bukan “umar”. Sebab, pembacaan “umar” telah menjadi “hak paten” nama Umar bin Khatab, salah seorang “Khalifah Empat”.

Dari manakah huruf “wawu” tambahan itu berasal?

Qila wa qala, konon katanya, “wawu” yang disandang si Amr adalah hasil curian! Si Amr mencurinya dari “Daud”!

Kata “daud”, dalam bahasa aslinya ditulis dengan huruf Arab atau hijaiyah, yaitu “dal”, “alif”, “wawu”, “dal”. Dalam bacaan Alquran, sesuai dengan ilmu tajwid, “wawu” berharakat “dhammah” dalam kata “daud” itu mesti dibaca panjang satu “alif” atau tiga “harakat” atau yang disebut dengan hukum “mad thabi’i”. Dalam teorinya, hukum “mad thabi’i” berlaku jika dalam satu kata, ada harakat “fathah” bertemu sesudahnya dengan huruf “alif”, atau harakat “kasrah” dengan huruf “ya”, atau harakat dhammah dengan huruf “wawu”.

Nah, pada kata “daud” (dal, alif, wawu, dal), huruf “wawu” yang berharakat “dhammah” di situ mesti dibaca panjang satu “alif” atau satu “harakat” sebagai “mad thabi’i”, meski sesudahnya tak terlihat ada huruf “wawu” – sebagaimana disyaratkan hukum mad itu. “Wawu” di sana telah hilang dicuri si Amr.

(Maka, pada setiap kata “daud” di dalam Alquran, setidaknya yang dengan “rasm utsmani”, selalu ditambahkan “wawu” kecil sesudah huruf “wawu” pokok, sebagai penanda agar “wawu” pokok itu dibaca panjang. Siapakah “wawu” kecil itu? Mungkin anak “wawu” pokok itu, yang selamat dari aksi pencurian atau penculikan si Amr.)

Saya termasuk orang yang tak suka perandaian. Tapi, tulisan ini akan saya akhiri dengan perandaian… Seandainya saya mengarang kitab nahwu, pada bab “maf’ul bih” (obyek penderita), saya akan membuat permisalan ini: “dharaba zaid ‘amr”, “Zaid pukul Amr”. Biarkan si Amr menjadi maf’ul bih, menjadi obyek penderita oleh pukulan si Zaid, sebagai hukuman atas kelakuan tak sportifnya: mencuri “wawu” dari Daud.[jr]





Pendekar Madura

27 11 2008

Banjir

Guru: “Kemarin kamu terlambat, alasanmu hujan. Pagi ini terlambat lagi. Apa alasanmu?”

Murid: “Hujan, Bu. Betul, saya ga bohong, Bu!”

Guru: “Yang benar Kamu, ya. Hujan lagi, hujan lagi! Lha, kalau tiap hari hujan, bagaimana?!”

Murid: “Kalau tiap hari hujan, ya, banjir, Bu!

Pendekar Madura

Pendekar 1: “Lihat, lalat sedang terbang saya sabet pakai rencong, dua sayapnya putus!”

Tepuk tangan para penonton membahana.

Pendekar 2: “Lihat, lalat saya sabet pakai badik, badanya terbelah!”

Tepuk tangan para penonton kembali membahana.

Pendekar Madura: “Lihat nyamuk yang sedang terbang saya sabet pakai clurit.”

Sayap Nyamuk masih utuh, badannya juga tidak terbelah. Nyamuk masih terbang berputar-putar.Penonton sepi-sepi saja.

Pendekar 1 & 2: “Ha…ha…ha… Para penonton lihatlah, ternyata Pendekar Madura bukan tandingan kita. Sabetan cluritnya meleset.”

Hu… hu… hu… Terdengar cemoohan dari para penonton.

Pendekar Madura: “Eit, jangan salah. Saya memang tidak berniat membunuh nyamuk itu. Saya cuma mau menyunatnya saja. Coba, deh tangkap nyamuk itu, terus lihat “titit”nya. Pasti sudah tidak ada lagi.”





Semua Pelanggan XL Monyet

5 11 2008

Iklan XL itu…

Monyet: “Kasihan manusia, mau nelpon aja mikir.”

Sontak, cletukkan monyet itu direspon oleh para manusia.

Manusia: “Kasihan XL, bahkan cuma monyet yang sudi jadi pelanggannya.”

(Saya mah, bukan pelanngan XL!)





Tanya Jawab Dengan Gus Dur

28 10 2008

Question : Gus, Mengapa Demam Berdarah marak di Jakarta ?

Gus Dur : Karena Sutiyoso melarang bemo, becak dan sebentar lagi bajaj. Padahal nyamuk sini cuma takut sama tiga roda.

Q: Mengapa dalam kampanye mereka, parpol-parpol senang membodohi rakyat?
G: Sebab kalau pintar rakyat tak akan pilih parpol-parpol itu. Orang pintar pilih Tolak Angin.

Q: Mengapa kampanye PPP selalu rame?
G: Sebab tiap suami membawa empat istri.

Q: Mengapa sampai kapan pun bulan bintang tak akan menang?
G: Sebab masih ada Matahari.

Q: Gus, Mengapa Anda selalu menutup doanya dengan “inggih, inggih”
G: Saya ndak mau bilang Amin…Amin. .., saya sebel dengan orang itu.

Q: Menurut Anda partai-partai mana saja yang sealiran ?
G: Partai Keadilan Sejahtera, Partai Damai Sejahtera dan Partai Buruh Sejahtera.

Q: Mengapa perilaku PDIP sering disamakan dengan perilaku Golkar?
G: Karena MEGA kan artinya sama dengan AKBAR.

Q: Jabatan apa menurut Anda yang cocok diduduki oleh Amin Rais ?
G: Kepala Bulog. Biar dia seneng ngurusin Rice

Q: Siapakah sebenarnya musuh terbesar PDIP ?
G: Taufik:censored: Kiemas, karena sudah sering dia menggoyang mbak Mega.

Q: Kemaren Anda sudah berkunjung ke SBY, Dimana sekarang SBY berada ?.
G: Yo’ kamu ini piye toh’… SBY dari dulu ada di Jowo Timur.

Q: Gus, Gimana kalau Anda dicalonkan dengan pendamping Anda Akbar Tanjung ?
G: Ogah !!! Takut Bocor !
Q: Bocor kenapa Gus ?
G: ‘ntar mahasiswa naek naek genteng MPR lagi





Ketawa Ketiwi

16 10 2008

Prakarya

Pada waktu pelajaran prakarya tiba, Tini menyerahkan hasil prakaryanya kepada Pak Guru.

“Pak, ini hasil prakarya saya. Saya membuat rumah-rumahan, Pak.”

“Kok hanya triplek selembar begini? Mana rumahnya?”

“Sudah digusur, Pak. Jadi yang saya serahkan pada Pak Guru ya sebidang
sisa rumahnya saja.”

Menjaga Rumah

Lenny pergi berlibur dan meminta Bobby menjaga rumahnya. Sekitar seminggu kemudian, Lenny menelepon rumah dan bertanya, “Bagaimana
kucingku?”

Bobby ragu dan dengan sedih memberitahu Lenny bahwa kucingnya mati.

“Apa?! Kamu seharusnya jangan memberitahuku dengan cara seperti itu!
Kamu harus memberitahuku dengan lebih halus dan pelan-pelan. Saat aku telepon, harusnya kamu bilang bahwa kucingku ada di atap. Lalu saat aku menelepon lagi, harusnya kamu bilang bahwa tidak ada yang bisa dilakukan untuk menurunkannya. Ketiga kalinya aku telepon, harusnya kamu bilang bahwa kamu sudah mencoba menurunkannya, tapi ia jatuh dan
mati,” jelas Lenny.

Bobby meminta maaf dan melanjutkan hari-harinya.

Sekitar seminggu kemudian, Lenny menelepon lagi dan bertanya,
“Bagaimana keadaan nenekku?”

Setelah terdiam agak lama, Bobby kemudian menjawab, “Hmm …, dia ada
di atap ….”





Lagu “Gaby” Spesial Lebaran

26 09 2008

Reff…

jauh kau mudik meninggalkan diriku…

di sini aku merindukan dirimu…

ingin kucoba mencari penggantimu…

namun tak ada yang serajin dirimu oh BABU ku…





Fatwa Soal Tendangan Penalti

21 08 2008

Dalam sebuah pertandingan sepak bola, sang komentator mengoceh…

“….Thuram mengoper bola kepada Ribery. Dari lapangan tengah, Ribery menggiring bola dengan melewati satu pemain, dua pemain, dan tiga pemain, sampai akhirnya ia oper kepada Henry yang telah berdiri tepat digaris kotak penalty. Ia tidak langsung melesakkan bola ke gawang lawan, mengingat di depannya masih ada satu pemain belakang lawan. Dengan satu, dua gerakan dia mencoba mengecoh pemain itu. sampai pada gerakan ke tiga, dia terjatuh… Oh…. Apa yang terjadi di sana…. Prittttt….!!! wasit menunjuk titik putih, tanda akan ada eksekusi penalty. Pemain perancis pun bersorak sorai mendapat hadiah penalty… Tapi kita lihat gerakan slow motion pada siaran ulang… Oh.. ternyata henry melakukan diffing. Tampak sekali, kaki bek lawan sama sekali tidak menyentuh kaki henry. Tapi apa dikata… Wasit telah meniup peluit, menunjuk titik putih. Ribery melakukan tugasnya sebagai eksekutor, dan…. gooolll…!!! Stadion bergermuruh oleh luapan kegembiraan suporter perancis….”

“Bagaimana Bung Roni, Anda melihat gol Perancis ini?” kata pembawa acara.

Bung Roni (komentator bola): “Sangat cantik. Kita tidak melihat penaltinya, kita melihat proses golnya yang begitu menawan. Luar biasa!”

“Anda, Bung Jhony?”

Bung Jhony (politikus): “Saya pikir, Henry terlalu mempolitisir keadaan. Dia menggunakan segala macam cara untuk mencapai tujuannya. Tapi, ya, itulah politik sepak bola.”

“Anda, Bung Alim?”

Bung Alim (dari agamawan): “Gol yang mengandung unsur ghoror alias menipu dan merugikan pihak-pihak tertentu, maka hukumnya haram!





Nama Gue “Burhan”

12 08 2008

Ada tiga anak(dua cowok dan satu cewek) lagi ngobrol, membanggakan namanya dan saudaranya masing-masing. Si cowok pertama bilang, “Nama anak-anak di keluarga gue semuanya pake nama super hero. Kakak pertama gue namanya Batman. Yang kedua namanya Superman. Dan gue sendiri namanya Spiderman.”

Cowok kedua menyela, “Gitu aja bangga. Nih, nama anak-anak di keluarga gue semuanya pake merek hape. Kakak pertama gue namanya Nokia. Yang kedua namanya Motorola, dan nama gue sendiri Siemens.”

Giliran si cewek yang panas dengerin cowok-cowok itu, “Nama anak-anak di keluarga gue juga ga kalah keren. Semuanya pake nama burung. Kakak pertama gue namanya Nuri. Yang Kedua namanya Pipit.” Untuk sejenak, si cewek diem.

“Trus, nama loe sendiri sapa?” Kata dua cowok itu.

“Burhan…,” Kata si cewek”

“Katanya nama burung. Ga konsisten loe. Pake nama “burhan” lagi. Itu kan nama cowok?!,” dua cowok itu menimpal.

Jawab si cewek, “Eit, jangan salah. Burhan juga nama burung lho! Burhan kan “Burung Hantu”!

Cowok-cowok; “???…!!!..”





Imam Syafi’i NU, Imam Malik Muhammadiyah

4 08 2008

Dalam suatu ruang kelas, seorang ustad sedang memberikan mata pelajaran fikih kepada murid-muridnya. Sang ustad menjelaskan…

“Imam Syafi’i adalah pendiri Mazhab Syafi’i yang salah satu tradisi mazhabnya adalah berqunut pada salat subuh. Dan Imam Malik adalah guru Imam Syafi’i yang juga memiliki mazhab fikih sendiri. Salah satu tradisi mazhabnya adalah tidak berqunut pada salat subuh.”

Sang Ustad melanjutkan, “Konon, keduanya pernah saling berkunjung ke rumah masing-masing. Saat Imam Syafi’i menginap di rumah Imam Malik, ia diminta menjadi imam salat subuh, dan Imam Malik makmumnya. Untuk menghormati gurunya yang tidak bermazhab qunut, maka Imam Syafii menjadi imam salat subuh dengan tidak berqunut.”

“Sebaliknya, saat Imam Malik yang bertandang ke rumah Imam Syafii, Imam Malik diminta menjadi imam salat subuh, dan Imam Syafii makmumnya. Dan untuk menghormati muridnya yang bermazhab qunut, maka Imam Malik menjadi imam salat subuh dengan berqunut.”

“Nah, anak-anak, dari cerita bapak tadi, siapa yang bisa mengambil kesimpulan atau pelajaran yang bisa dipetik? Yang bisa tunjuk tangan,” kata sang ustad mengakhiri ceritanya.

Salah seorang anak yang duduk di paling belakang tunjuk tangan,

“Saya bisa, ustad!” Dari cerita Bapak, saya bisa menyimpulkan, berarti Imam Syafi’i adalah orang NU, sebab kalau salat subuh pake qunut. Dan Imam Malik adalah orang Muhammadiyah, sebab kalau salat subuh ga pake qunut. Tapi, meski berbeda organisasi, keduanya tetap saling menghormati dan toleran.”

Ustad, “…???…???…???…???”