Press Release: Menanggapi Dikeluarkannya SKB tentang Ahmadiyah

Tuesday, June 10, 2008 § Leave a Comment


(diculik dari wahidinstitute.org atas izin dari editornya)

Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri, dan Kejaksaan Agung mengenai keberadaan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) telah dikeluarkan, Senin (09/06/2008). Kita patut menghargai pemerintah karena SKB tersebut tidak melarang keberadaan JAI. Dengan demikian Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan menyatakan:

  1. Pemerintah harus konsisten dengan tetap menjamin kebebasan warga negara dalam beragama dan berkeyakinan sesuai dengan amanat Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945;
  2. Negara harus berdiri di atas semua golongan;
  3. Sesuai dengan SKB tersebut butir 4 yang memerintahkan semua warga negara menjaga dan memelihara kehidupan umat beragama dan tidak melakukan tindakan yang melanggar hukum terhadap penganut JAI, pemerintah harus tetap memberikan jaminan bagi penganut Ahmadiyah untuk hidup layak sebagai warga negara dan diperlakukan sama dengan warga negara lain;
  4. Pemerintah harus tetap menjamin keamanan dan keselamatan warga Ahmadiyah;
  5. Pemerintah harus tetap melakukan proses hukum kepada semua pelaku kekerasan yang terlibat pada tragedi Monas berdarah 1 Juni 2008.

Jakarta, 9 Juni 2008

Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan

(AKKBB)

Pemerintah Harus Jamin Keselamatan JAI

Tuesday, June 10, 2008 § 2 Comments


(diculik dari wahidinstitute.org atas izin dari editornya)

Jakarta, wahidinstitute.org

Keluarnya Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri tentang Ahmadiyah, Senin (9/06/2008), mendapat tanggapan beragam dari masyarakat. Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) menyatakan, pemerintah harus menjamin keselamatan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) sebagai akibat keluarnya SKB.

“Keluarnya SKB dapat menimbulkan kekerasan terhadap warga Ahmadiyah. Karena itu, pemerintah harus menjamin keamanan dan keselamatan mereka,” pinta Direktur Eksekutif the WAHID Institute Ahmad Suaedy dalam jumpa pers di Kantor the WAHID Institute, Jakarta, Senin (09/06) malam.

Hadir juga DR. M. Syafi’i Anwar, M. Guntur Romli, Nong Darol Mahmada, Tim Pembela Pancasila (TPP) Saur Siagian dan Khoirul Anam, juga para aktivis AKKBB.

Merespon SKB, AKKBB memberikan penghargaan pada pemerintah yang tidak membubarkan JAI. Meski demikian, AKKBB tetap menyayangkan campur tangan negara mengatur keyakinan warganya.

“Pemerintah harus konsisten dengan tetap menjamin kebebasan warga negara dalam beragama dan berkeyakinan sesuai amanat Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945,” tegas Guntur Romli.

Selain itu, lanjut Guntur, pemerintah harus tetap melakukan proses hukum pada semua pelaku kekerasan Tragedi Monas Berdarah 1 Juni 2008 lalu.

Suaedy mengingatkan, SKB yang ditandatangani Menteri Dalam Negeri, Menteri Agama dan Jaksa Agung ini sangat mungkin dijadikan alasan untuk melakukan penyesatan atau persekusi terhadap warga Ahmadiyah di berbagai daerah.

Karenanya, lanjut Suaedy, pemerintah tidak bisa lepas tangan dari masalah ini. “Pemerintah harus bertanggungjawab jika terjadi pelanggaran hukum terhadap warga JAI,” tegasnya.

Sementara Saur Siagian menegaskan, SKB merupakan bentuk pelanggaran negara terhadap konstitusi karena campur tangan negara terhadap keyakinan warganya.

“Kita akan mengambil langkah hukum dengan melakukan Judicial Review terhadap SKB ini,” jelasnya. [sa]

Gus Dur Akan Lebih Berterima Kasih Jika FPI Dibubarkan

Monday, June 9, 2008 § 2 Comments


(diculik dari gusdur.net atas izin dari editornya)

Jakarta, gusdur.net

Mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berterima kasih kepada pemerintah karena telah menangkap Ketua FPI Habib Rizieq dan kawan-kawannya yang terlibat dalam penyerangan massa AKK-BB di Monas 1 Juni 2008.

”Rasa terima kasih saya kepada pemerintah yang telah menangkap anggota FPI. Tapi akan lebih berterima kasih lagi jika FPI dibubarkan oleh pemerintah.”

Demikian Gus Dur saat menggelar jumpa pers di Gedung PBNU, Kamis (5/5/2008). Tampak mendampinginya tokoh pro demokrasi Asmara Nababan, Direktur Eksekutif the Wahid Institute, yang juga salah satu korban FPI, Ahmad Suaedy.

Dia mengungkapkan alasannya menuntut pembubaran, karena FPI telah berulangkali melakukan kekerasan. ”Mereka telah berulang kali melakukan pelanggaran hukum dan undang-undang.”

Diakuinya sudah lebih lima tahun dirinya meminta pemerintah membubarkan organisasi-organisasi penebar kekerasan, tapi tidak digubris pemerintah. ”Kalau pemerintah tidak membubarkan, ya kita bubarkan sendiri,” kata Gus Dur.

Menurut Gus Dur, tuntutan pembubaran FPI di sejumlah daerah adalah inisiatif masyarakat akibat kekesalan massa terhadap organisasi itu. ”Walaupun saya gak menyuruh mereka, tapi begitulah kenyataannya,” ungkapnya.

Dia juga menampik jika tuntutan pembubaran itu akan menimbulkan kekerasan baru. ”Tidak ada orang NU yang melakukan kekerasan. Menuntut pembubaran bukan berarti menggunakan kekerasan.”

Kenapa saat Gus Dur menjadi presiden tidak membubarkan FPI? ”Saya bekerja menurut prioritas. Saya berkeliling dunia untuk menjaga Indonesia agar tetap satu.”

Dia juga menyayangkan ada upaya pembelokan masalah, karena kekerasan oleh FPI dikaitkan dengan Penerbitan SKB 3 Menteri tentang pembubaran Ahmadiyah. ”Akan saya tentang di pengadilan. Tidak boleh ada organisasi dibubarkan kalau tidak melakukan pelanggaran hukum seperti FPI, Ahmadiyah mana pernah melakukan kekerasan?.”

Dalam kesempatan itu Gus Dur juga menyayangkan sikap Munarman, pemimpin penyerangan di Monas yang tidak bertanggungjawab. ”Ironis sekali seorang pengacara hukum kok, sembunyi.”

Seorang wartawan menanyakan, ada kemungkinan Munarman disembunyikan oleh seorang jenderal? ”Jenderal ini diperintah oleh seorang pejabat tinggi negara. Saya tahu itu,” jawab Gus Dur.

Atas segala sikapnya ini, Gus Dur mengatakan tidak takut dengan ancaman pembunuhan yang diedarkan di internet. ”Baru diancam mereka aja kok takut. Saya jaman Soeharto diancam bunuh tiga kali.”

Dibikin
Asmara Nababan yang mendampingi Gus Dur juga menyambut baik kerja polisi menangkap Habib Rizieq Cs. ”Kita menyambut baik. Tapi polisi juga harus membuktikan kabar yang beredar bahwa penyerangan oleh massa FPI terhadap massa AKKBB sengaja diarahkan oleh pihak kepolisian. Buktinya polisi sudah tahu akan ada penyerangan.”

Gus Dur menimpali pernyataan Asmara tersebut, ”saya sedikit berbeda dengan Pak Asmara, bukan hanya diketahui oleh polisi tapi dibikin polisi.”

Lupakan FPI, Rizieq Shihab, Munarman, AKKBB. Lupakan Semua!!!

Friday, June 6, 2008 § 5 Comments


Lupakan FPI, Rizieq Shihab, Munarman, AKKBB, Monas… Lupakan Semua!!!

Dan sambutlah EURO 2008!

Habib Rizieq dan sekeluarga, Munarman dan sekeluarga, FPI, Laskar Komando Islam, AKKBB, MUI, Ahmadiyah dan jamaahnya, Gus Dur dan keluarga, pendukung Gus Dur, Garda Bangsa, Anshor, NU, PKB, SBY dan keluarga, pak dan bu menteri, polisi, mahasiswa dan semuanyaaaaaaaaaaaaaa… ojo ribut teruuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuusssss…!!!

Kemon nonton EURO…!!!

(gambar diculik dari http://shop.subsidesports.com)

Blog ini mendukung Itali sebagai juara EURO 2008.

Bravo Itali!

Bravo Mas Del Piero!

Mana tim jagoanmu?

“Kami Akan Melakukan Perlawan Sampai Titik Darah Penghabisan!”

Wednesday, June 4, 2008 § 2 Comments


“Jika ada anggota kami yang ditangkap, sebelum Ahmadiyah dibubarkan, kami akan melakukan P E R L A W A N A N sampai titik darah penghabisan!”

Gertak Rizieq Shihab dalam keterangannya kepada orang-orang pers, pada 23 Juni, yang disahut dengan teriakan semangat “Allahu Akbar!” dari anak buahnya.

Kata saya, “Busyeeettt! sangar banget ente, Bib!”

Satu hari kemudian…

“Kita minta kepada seluruh aktivis FPI dan rekan-rekan yang ada di sini, pada saat polisi melakukan pencarian, tolong jangan ada yang menghalangi tugas kepolisian. Dan tunjukkan bahwa kita berani berbuat, berani bertanggug jawab.”

Seruan Rizieq Shihab kepada anak buahnya ketika polisi hendak menangkap para anggota FPI, pada 24 Juni, yang disahut teriakan layu “Allahu Akbar!” dari anak buahnya.

Kata saya, “Hari kemarin katanya mau melakukan perlawanan, eh, hari ini malah mempersilakan, bahkan ente nunjukkin sikap bijaksana dan dan kooperatif, Bib. Seharusnya dari dulu kaya gitu, dong. Insyaallah, kalo ente bijak, anak buah ente bakal pada manut, bakal pada bijak juga.”

Kata saya lagi, “Sory, nih, Bib… Sory juga buat semua aktivis FPI… Untuk sementara saya baru bisa bikin logo FPI di atas dengan tambahan silang merah, dan menyoret “pembela” jadi “perusak”. Sory juga, kalo logonya kurang keren. Mungkin suatu saat, saya bisa aja bikin logo FPI tanpa silang merah, dan dengan gambar yang lebih keren. Itu tergantung dari citra yang ditunjukkin FPI. Sekali lagi, sory…”

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with AKKBB at WARUNG NALAR.

%d bloggers like this: