Yoga

2 December 2008 § 2 Comments


Sepenggal firman tersurat: fas aluu ahl al-dzikr in kuntum la ta’lamuun. “Jika tidak tahu, sampaikanlah pertanyaan kalian kepada ahli zikir”. Dua kali Tuhan menyuratkannya pada dua surat yang berbeda.

Secara spesifik, sepenggal firman itu merupakan bagian dari rangkaian kisah dialektikal Nabi dengan sebagian kalangan Arab waktu itu yang didera keraguan, mempertanyakan kerasulan Muhammad, sebab menimbang dirinya hanyalah manusia. Mungkin mereka juga bakal meragukan siapapun, seandainya ada manusia lain yang memproklamirkan diri menjadi rasul. Keyakinan mereka terhadap transendental Tuhan, memunculkan sikap penyucian terhadap-Nya (al-tanzih). Tuhan mesti dijauhkan dari dunia empiris, tidak layak bersentuhan dengan hal-hal profan, dari hal-hal yang berbau tanah bumi, beraroma keringat manusia. Maka, yang pantas menjadi rasul, menurut mereka, adalah para malaikat, mahluk langit.

Allah a’dzam min an yakuna rasuluhu basyar,” kata orang-orang itu. “Mosok iya, Tuhan dengan segenap keagungannya mau menjadikan rasul-Nya dari kelas manusia?! Itu akan menggerogoti transendental Tuhan!”

Ini persoalan kelas berat, yang nalar Nabi sendiri barangkali tak dapat memberikan jawaban meyakinkan kepada mereka. Maka, Tuhan sendiri yang menjawabnya.

Akana li al-nas ‘ajaban an auhaina ilaa rajulin minhum,” kata Tuhan.”Memangnya kenapa, jika yang menjadi rasul adalah manusia?! Herankah Kalian dan merasa aneh, jika Aku berikan titah kepada seorang laki-laki di antara Kalian?!”

Wama arsalna min qablika illa rijalan nuhi ilaihim,” Kata Tuhan lagi.”Pada masa lalu, yang Aku jadikan rasul pengantar wahyu juga manusia, lebih spesifiknya para lelaki.”

“Jadi, why not?!”

Agaknya mereka yang didera keraguan itu hanyalah orang-orang yang pandangan hidupnya membentur dinding tebal masa di mana mereka hidup, eksklusif dengan pemikiran, pengetahuan, dan informasi yang beredar pada masanya atau kalangannya saja, tanpa menyadari atau mungkin juga tak mau tahu jika di balik dinding tebal masanya ada masa lalu yang menghamparkan pemandangan luas. Mereka tidak memiliki jargon mulia seperti dalam tradisi NU: al-muhafadzah ‘ala al-qadim al-shalih, wal-akhdzu bi al-jadid al-ashlah. Menggali, menemukan, dan merawat warisan masa lalu, menengok preseden masa silam yang dapat memberikan pengayaan wacana, sekaligus mengikuti, mengamati, bahkan melibatkan diri pada perkembangan wacana masa kini yang juga dapat memberikan pengayaan, agar pengetahuan menjadi komperhensif dan lebih kaya.

Mungkin juga, karena tidak atau belum memiliki keimanan, mereka tidak atau belum memahami adagium bijak nan bajik, “al-hikmah dhallah al-mu’minin” atau “kebijaksanaan adalah barang hilang orang-orang beriman”. Karena lokasi hilangnya tidak jelas betul, maka di mana pun dan pada apa pun kebijaksanaan itu dijumpai, pungut saja.

Maka, jadilah mereka katak dalam tempurung. Eksklusif. Mereka melihat dirinya digdaya, tapi sebenarnya adalah kedunguan.

Mereka tidak tahu, perihal rasul dan risalah telah merayap sejak zaman purba, telah ada presedennya, dan yang terjadi dengan Muhammad hanyalah mata rantai. Dengan muatan kombinasi kemulian tradisi NU dan kebajikan adagium di atas, Allah menyarankan lawan dialektikal Rasul agar banyak belajar kepada siapa saja, termasuk kepada orang paling alimnya kelompok Nasrani, paling ahlinya kalangan Yahudi, para pakar Taurat, para pakar Injil, jika memang informasi dari Islam dianggap kurang kuat dan komprehensif. “Fas aluu ahl al-dzikr in kuntum la ta’lamuun”.

Ahl al-dzikr, ahli zikir bukanlah orang-orang yang zikirnya khusyuk dengan deraian air mata diiringi isak tangis sebagai latar sendu. Ahli zikir adalah para pakar intelektual. Kepada merekalah, lawan dialektikal Rasul disuruh menghadap membawa kebodohannya.

“Jika kalian tidak yakin, coba tanyakan, diskusikan dengan para intelektulal dari kalangan mana pun, Islam, Nasrani, Yahudi, atau para pakar mana pun yang menguasai kitab-kitab samawi, kalian akan menemukan satu jawaban, bahwa para rasul yang telah diterjunkan ke bumi, semuanya adalah manusia, tidak ada satu pun dari jenis malaikat. Dan itu tidak ada kaitanya dengan transendental atau profan. Sebab, bagaimana pun, Aku akan tetap menjadi diriku sendiri. Jangankan sekedar mengutus rasul dari kelas manusia, keagunganku tak akan dekaden secuil pun, meski umat seluruh dunia mengutukku. Atau, seandainya umat seluruh dunia memujiku, itu sama sekali tak akan menambah derajat kemualianku,” begitu kira-kira jawaban Tuhan untuk lawan dialektikal Rasul.

Saya kira, ada saat di mana Rasul selalu bersandar pada wahyu untuk memberikan jawaban atau menyelesaikan persoalan masyarakatnya, dalam hal yang relatif berat, seperti hal dan informasi gaib. Biasanya, kemudian, jawabanya saklek dari Tuhan, sebut saja, misal, “wa idza saalaka ‘ibadi ‘anni fa inni qarib”, “Muhammad, jika ada yang bertanya soal Aku kepadamu,” (jawab saja), “Aku cukup dekat kok.” Atau, “Yasaluka al-nas ‘an al-sa’ah, qul innama ‘ilmuha ‘inda Allah”, “Orang-orang bertanya kepadamu soal kiyamat. Jawab saja, cuma Allah yang tahu.” Termasuk persoalan di atas.

Ada saatnya juga Rasul menerima persoalan remeh temeh. Remeh temeh itu bisa diartikan dengan hal-hal sepele atau yang muncul dari kemanjaan dan kemalasan berpikir untuk berusaha mencari jawabannya sendiri. Untuk hal-hal semacam ini, barangkali Rasul tidak perlu menunggu wahyu untuk menanggapinya, apalagi melakukan investigasi. Atau mungkin juga, tidak perlu dijawab secara eksplisit.

Suatu ketika, ada salah seorang sahabat bernama Wabishah, bertanya kepada Rasul tentang definisi “kebaikan” dan “dosa”, syukur-syukur sekalian dengan contoh-contoh kongkritnya. Jawab Rasul,

“Istafti qalbak, ya wabishah!” Rasul sampai perlu mengulanginya tiga kali, menandakan penekanan, “al-birru ma ithmaannat ilaihi al-nafsu, wa al-itsmu ma haka fi al-nafsi.”

“Tanyakan pada hatimu! Mintalah fatwa pada kalbumu! Mintalah pertimbangan sukmamu! Jika hatimu merasa nyaman, adem, ayem, maka yang kamu lakukan itu berarti baik. Tapi kalau malah bikin resah, gelisah, berarti itu tidak baik, sehingga kamu merasa berdosa melakukanya.”

Saya, kok, jadi berkhayal, Kanjeng Rasul rawuh ke Indonesia, kemudian seseorang menghadapnya, bertanya soal yoga. Kira-kira, akan seperti apa respon Rasul?

Kalla…

19 November 2008 § Leave a comment


“Kalla” menjadi nama belakang wapres kita, Jusuf Kalla. Dan tulisan ini bukan soal dia, namanya, isterinya, anaknya, mantunya, perusahaannya, bukan pula soal Golkar atau Makasar…

Saat masih nyantren di Tebuireng dulu, saya pernah menangkap penggalan ceramah dari kyai (namanya KH Ishaq Lathif yang sampai pada usia senjanya saat ini lebih memilih hidup perjaka tanpa jamahan seorang wanita) di sela-sela pengajian bandongan sebuah kitab, bahwa Allah akan selalu merespon, mengacuhkan doa setiap orang dengan beberapa kemungkinan: dikabulkan sesuai permintaan baik segera atau tertunda, dikabulkan tapi tidak sesuai permintaan alias diganti (barangkali Allah menimbang, sesuatu yang dimintanya tidak proporsional bagi dirinya), atau dikabulkan tapi tidak untuk dinikmati di dunia, di akhirat. Meski yang disebutkan terakhir agak kurang mengena (bukankah kosmos akhirat adalah serba tak butuh?!), tapi yang jelas filosofi pengabulan doa itu mak clep sejak pertama kali masuk telinga kemudian bersemayam di otak, sampai saat ini. Rupanya, filosofi itu adalah sebuah pembacaan dari sebuah teks Alquran ujibu da’wah ad-da’i idza da’ani/Aku (Allah) akan mengabulkan doa orang yang berdoa kepadaku.

“Sementara tak sulit untuk mengerti “maksud si pembaca”, tak mudah untuk tahu bagaimana sebenarnya maksud “teks yang dibaca,” bagitu yang tertulis dalam Eksotopi-nya Goenawan Mohamad. Meski Kyai Ishak, “si pembaca”, memberikan pembacaan terhadap “teks yang dibaca” itu secara sederhana, namun sejujurnya memberikan kemudahan (sementara) bagi saya dalam memahami teks Alquran yang “tak mudah” itu, menjadi pembimbing dan penenang bagi grundengan-grundengan jiwa terhadap Allah terkait litani doa-doa yang terucap tapi seperti masih mengawang-awang.

Mungkin saja, dalam bentuk yang kongkrit, kita telah tak mendapatkan apa yang menjadi harapan dalam doa, namun dengan ketiadaan itu, kita tetap tenang dan nyaman, bahkan dengan kadar yang lebih meningkat, tanpa perubahan emosi yang radikal, bagi saya itu sudah menjadi doa yang terrespon. Sebab, bagi saya, doa adalah kenyamanan, ketenangan. Pelaku utamanya adalah jiwa. Yang menjadi kenikmatan, akhirnya, bukan semata terkabulnya sebuah doa, tapi penghayatan dari doa tersebut. Ukurannya bukan lagi semata bersifat inderawi yang konkrit.

Maka, jika pada rentang waktu tertentu, seperti terindikasikan harapan-harapan yang terrangkum dalam doa tak juga terwujud, segera asumsi itu saya alihkan dengan menikmat-hayati kemungkinan-kemungkinan: mungkin masih butuh waktu, mungkin saya meminta sesuatu yang tidak proporsional, mungkin yang saya minta belum saatnya diminta, mungkin bakal terwujud dengan hal lain, mungkin telah terwujud tanpa disadari… mungkin… mungkin… sambil tetap berdoa jika masih tetap berharap atau sudahi saja doa itu jika jiwamu tak lagi menikmati lantunan doa-doa itu, meski tak juga menolak jika suatu saat harapan itu mak jleg tiba-tiba hadir dalam wujud yang kongkrit. Sebab, bisa saja Allah memberikan apa yang kita harapkan, kita inginkan, justeru pada saat kita melonggarkan harapan dan keinginan itu atau bahkan saat tak lagi memiliki harapan sama sekali. Intinya, tidak ada celah untuk mengatakan Allah tak mengacuhkan doa saya. Acuh Allah tak harus dipahami sebagai terkabulnya doa sesuai dengan keinginan. (“Acuh” artinya “peduli”. “Tak mengacuhkan” berarti “tak mempedulikan”. “Acuh tak acuh” artinya “peduli tak peduli” alias cuek. Kata yang sering dijungkir-balikkan artinya. Dengar saja lagu berjudul “Aku Mau” dari Once atau “Cinta Ini Membunuhku” dari D’Masif, dan simak kata “acuh” dalam liriknya).

Senafas dengan hal itu, ada doa yang paling menggemparkan jagat, paling meresap, paling mendalam, paling bisa merontokkan sendi-sendi jiwa (tapi mungkin juga bikin sesak nafas), adalah “allahumma, la mani’a lima a’thaita, wala mu’thiya lima mana’ta”. Jika dilihat dari isinya, doa itu barangkali lebih pas tidak disebut doa jika definisinya adalah permohonan. “Gusti Pangeran, semua pasti akan terjadi jika panjenengan mengizinkan. Dan pasti akan nihil jika penjenengan menolaknya”. Tidak ada permohonan di sana, dan mungkin lebih cenderung berisi pujian atas superitotas Allah. Pun jika disebut doa, maka itu adalah permintaan agar kita selalu eling, ingat, sadar, awas, waspada, terjaga, melek, lebih dari sekedar tahu superioritas Allah itu.

Bahwa “la mani’a lima a’thaita” adalah pujian superioritas Allah. Bahwa Allah mampu melaksanakan, mewujudkan, menghadirkan apa pun yang kita inginkan. Bahwa kemudian itu menyenangkan kita sebagai manusia. Jika hidup ini penuh dengan keinginan dan obsesi yang berjubel di benak, maka apa lagi yang lebih membahagiakan selain keinginan dan obsesi itu mencuat dalam alam nyata. Bukankah puncak dari keinginan adalah terlaksananya keinginan itu?! Bukankah hal yang paling membahagiakan adalah terwujudnya sesuatu keinginan, kemudian menikmatinya?! Bahwa keyakinan kita akan superioritas Allah itu kerap bertambah kadarnya, saat keinginan-keinginan kita terwujud, ketika hasrat-hasrat mencuat. Dan mungkin dengan agak berlebihan sambil mengatakan, “Allah memang baik, memang kuasa, memang sayang”. Seolah-olah memang seperti itulah tugas Allah. Seolah-olah superioritas Allah terbatas jika Ia melakukan apa yang menjadi keinginan dan menyenangkan kita. Lalu Ia dingambeki jika tak berbuat seperti itu.

Kalla…” kata Allah, “Mbok ya jangan nyangka seperti itu… Masak definisi kasih sayangku kepadamu hanya diterjemahkan dengan hal-hal yang Kau rasa enak saja. Terus, Kau menggetingiku, karena aku Kau anggap menelantarkanmu pada kondisi serba tak enak, dan sebab itu Kau anggap aku sedang menghinakanmu…”

“Aku memang mampu berbuat apa saja. Kamu pasti sudah tahu itu. Tapi bukan berarti aku mesti meladeni hasratmu. Aku juga mampu untuk tak berbuat apa-apa untukmu. Seharusnya kamu juga tahu itu, biar jalan pikiranmu tidak pincang, supaya jalan spiritualmu lempang. Cobalah pahami aku dengan kemungkinan, bukan dengan kepastian atau ketak-mungkinan…”

Wala mu’thiya lima mana’ta…

Fragmen Hamba Tak Berkualitas

7 September 2008 § Leave a comment


Keluar dari pesantren, semakin lama sepertinya saya semakin jauh saja dari masjid/mushalla (dalam arti yang sebenarnya), dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Saat di pesantren, kehidupan seperti dekat dan melekat dengan masjid. Keluar dari pesantren dan menghuni rumah kost, lebih dari setahun pertama, otomomatis kedekatan itu merenggang, meski masih beruntung, hanya dibutuhkan beberapa langkah saja untuk ke mushalla. Jamaah untuk salat-salat tertentu masih menjadi hal mudah. Kini, setahun selanjutnya, di kost yang berbeda, mushalla benar-benar jauh. Butuh beberapa ratus langkah untuk menuju ke sana. Sudah beberapa bulan ini, ibarat kate, dari lima waktu salat, enam di antaranya tidak jamaah. Salat jamaah menjadi hal sangat istimewa bagi saya saat ini, apalagi di “masjid”. Gusti, Gusti! Semaputlah aku, jika arti “pemuda yang hatinya selalu terpaut dengan masjid” adalah orang-orang yang rajin salat di masjid. Sebab, saat ini saya hampir tak pernah melakukannya, kecuali untuk salat jumat.

Maka, pada Ramadan pertama, ketika orang-orang ramai berduyun ke masjid dan mushalla untuk melaksanakan tarawih, jasad ini hanya terpaku di kost. Di antara sayup-sayup lantunan Alquran imam salat di mushalla nun jauh di sana, saya hanya bisa mengasihani diri sendiri, sambil nonton race GP dan pertandingan Serie A Liga Italia antara Milan dan Bologna, di Trans7.

Ya, sudah. Tak apa. Nanti bisa tarawih sendiri. Dilihat dari kalkulasi pahala, jelas saya telah kehilangan beberapa di antaranya. Pahala melangkah ke “rumah Allah”. Pahala salat jamaah. Pahala menahan kegondokan nafsu. Inilah salah satu “kegondokan” salat tarawih di masjid; tidak bisa mengatur sendiri bilangan rakaat sesuai kehendak hati. Jika mushalla tersebut penganut tarawih duapuluh rakaat plus witir tiga rakaat, ya sudah ikuti saja jumlah itu. Jika delapan rakaat plus tiga, ya sudah ikuti saja jumlah yang ada. Nah, bukankah dihitung “uang lelah”, jika kegondokan nafsu yang menginginkan salat seringkas dan secepatnya terpatahkan oleh aturan mushalla yang menerapkan bilangan rakaat yang baku. Al-ajru bi qadr al-ta’ab. Besar kecilnya pahala dihitung dari tingkat “kelelahan” yang terjadi atau yang dirasakan, lahir dan batin.

Anda boleh mengkalkulasikan pahala untuk kasus ini; Anda berangkat ke masjid untuk salat tarawih dengan kelelahan dan konflik lahir batin yang hebat. Ngantuk dan kemalasan luar biasa menyerang akibat terlalu banyak makanan yang disantap saat berbuka. Adalah anugerah besar jika pada kondisi seperti itu Anda tetap masih bisa melangkahkan kaki menuju masjid cukup jauh yang menganut tarawih duapuluh rakaat plus witir tiga rakaat, mengalahkan kengantukan dan kemalasan diri.

Tapi, ritual individual semacam salat atau puasa Ramadan, jika dilaksanakan secara massal, memang membangkitkan spirit dan memberikan kondisi tersendiri. Hampir selalu bisa mengikuti jumlah rakaat yang ditentukan. Jika “jiwa malas” ini ingin berhenti pada rakaat keenam salat tarawih, seluruh jamaah seperti mengatakan kepada saya, “Ayo teruskan salatnya. Jangan berhenti.”

Jika salat tarawih di mushalla yang menganut sebelas rakaat termasuk witir, di akhir salat, di dalam hati saya bilang; “Cukup” atau “alhamdulillah!” menunjukkan syukur, maka untuk yang duapuluh tiga rakaat, saya akan bilang, “cukup! Cukup!” atau “akhirnya!” menandakan kelegaan. Lalu kita pun mengira-ngira, pada salat tarawih yang dilaksanakan dua kali (seperti di Masjid Istiqlal atau Masjid UIN Jakarta), kenapa para jamaah pada berbubaran pada rakaat ke sebelas (delapan rakaat tarawih plus tiga rakaat witir), dan hanya menyisakan satu shaf saja yang bersedia tuntas sampai rakaat keduapuluh tiga? Beberapa kemungkinan bisa dikemukakan. Mungkin mereka yang bubar pada rakaat kesebelas adalah orang-orang Muhammadiyah, karena rumusan argumentasinya memang demikian, dan sisanya adalah orang NU. Atau orang-orang NU yang kebetulan ada keperluan mendesak pada rakaat itu, atau mungkin kentut, atau mungkin merasa terlalu banyak untuk meyelesaikan duapuluh tiga rakaat. Atau probabilitas masuk akal lainya.

Tapi, apa pun, dilihat dari kuantitas, salat tarawih berjamaah sebelas atau duapuluh tiga rakaat, adalah kondisi paling baik yang dipancarkan oleh salat jamaah, ketimbang salat tarawih sendirian, bagi saya. Sebab, tiap kali salat tarawih sendirian, seperti yang sudah-sudah, rakaat terbanyak adalah sembilan (delapan rakaat tarawih ditambah cukup satu witir). Rakaat favorit ya tujuh (enam rakaat tarawih plus satu witir). Meski pernah juga tarawih cuma empat rakaat. Batas jumlah rakaat salat tarawih sendirian adalah “kecenderungan”. Jika pada rakaat keenam saya merasa harus berhenti, saya sudahi salat itu. Bahkan jika pada rakaat keempat saya mesti sudahi, ya saya berhenti. Jika seperti ada kemudahan untuk menyentuh rakaat delapan, ya saya lakukan. Betapa sulitnya tarawih dua puluh rakaat jika salat sendirian. Saya mengikuti “fatwa hati”. Iftati qalbak. Mintalah fatwa pada hatimu. Jika hati bilang sudah, ya sudah. Jika bilang teruskan, ya dilanjut salatnya. Seperti tidak ada yang mengingatkan, tidak ada dorongan luar agar meneruskan salat pada rakaat selanjutnya.

Tapi untung saja, tidak ada aturan normatif yang valid soal jumlah rakaat tertentu untuk salat tarawih. Kanjeng Nabi tidak menekankan orientasi kuantitas angka dalam salat tarawih (pada masa Nabi tidak ada istilah “tarawih”, tapi yang ada adalah “qiyam ramadan”). Tapi yang menjadi perhatian adalah kualitas salat itu. Meski saya tak hendak mengatakan bahwa salat saya telah berkualitas. Tapi, paling tidak, berapapun rakaat salat tarawih yang saya kerjakan, tidak salah menurut aturan normatifnya, sebab ia memang tidak mengatur atau memberikan batasan tertentu. Dan jika saya melaksanakan salat tarawih dalam bilangan rakaat yang minimalis, tidak lantas menjadikan aturan normatif itu sebagai pembenar. Atau ketiadaan aturan normtif yang valid soal jumlah rakaat salat tarawih menjadi argumentasi pembenar salat tarawih saya yang minimalis. Tidak demikian. Itu hanya soal pilihan berdasarkan kecenderungan hati.

Duh, Gusti! Maafkan hamba-Mu yang tak berkualitas ini. Yang beragama masih pada ranah kognitif, masih sebatas “pengetahuan”, masih berorientasi kalkulasi pahala (jika pun berhak atas pahala, maka yang proporsional ya pahala minimalis) belum menyentuh aspek afektif, penghayatan sebagai hamba dan kesadaran akan kebijaksanaan-Mu.

Allahumma a’inni ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatika.

Oleh karena itu, mohon kerja samanya, agar aku selalu eling kepada-Mu, bisa mengapresiasi kebijaksanaan-Mu, dan menjalin harmoni yang berkualitas dengan-Mu. Amin.

Baca tulisan terkait di link ini:

Ramadan Tanpa Rindu

28 August 2008 § Leave a comment


Jika buku dan tulisan tentang Ramadan itu penting, maka Ramadan jadi kurang penting, sebab dua hal. Pertama, jika Ramadan yang datang dari Yang Maha Sempurna masih perlu perwakilan penjelasan dari yang tak sempurna, maka bisa terjadi reduksi makna Ramadan (paling tidak “terkesan tereduksi”). Kedua, jika Ramadan adalah sebuah “karya” dari Yang Maha Sempurna masih perlu diwakili oleh pandangan dari yang tak sempurna lagi tak ikut dalam proses berkarya, maka kualitas karya itu jeblok (paling tidak “terkesan jeblok). Maka tulisan ini mesti berada di luar itu semua. Jelasnya, tulisan ini kurang penting sebagai substansi. Ia hanya punya makna sebagai refleksi diri.

~Adaptasi dari sebuah paragraf salah satu tulisan Cak Nun. Oke punya, sih… ~

Ramadan kembali datang. Puasa kembali menantang. Bulan di mana, menurut informasi agama, Tuhan membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu-pintu neraka, membelengu setan pengganggu manusia, sebagaimana titah Rasul, “Jika Ramadan datang, Tuhan membuka pintu-pintu surga, menutup pintu-pintu neraka, dan membelenggu setan-setan”. (HR. Bukhari dan Muslim, Turmudzi, Nasa’i, Abu Daud, dan Ibnu Majah).

Hadis metafisik; surga, neraka, setan, malaikat. Namun ditujukan kepada manusia yang sama sekali fisik. Dalam kitab Fathul Bari, yang menjadi syarh (kitab komentar) dari Shahih Bukhari, hadis tersebut coba dirasionalkan. Yang dimaksud dengan “setan di belenggu” adalah, pada bulan itu setan tidak akan mudah menggoda umat manusia, ketimbang pada bulan selain Ramadan, sehingga mereka sulit terjerumus dalam kemaksiatan. Umat sedang disibukkan dengan aktifitas puasa, menahan lapar dan haus, yang biasanya dibarengi dengan peningkatan amal-amal saleh, seperti membaca Alquran, memperbanyak i’tikaf, dzikir, dan segala macam amalan-amalan saleh lainya (tentu saja bagi mereka yang melakukannya). Dengan kesibukan itu, kemungkinan untuk tersibukkan oleh perbuatan maksiat sangat kecil. Menurut Anda?

Jadi, pada bulan Ramadan, apa atau siapa yang menjadi jaminan paten para setan, mahluk Tuhan yang dikutuk itu, tidak mengajak kita berasyik masyuk dengan kemaksiatan? “Rumah” Ramadan yang semua pintu dan jendelanya tertutup rapat, dirajah pula, sehingga para setan yang coba memasukinya bakal terbakar, atau “rumah jiwa” kita sendiri?

Sungguh, aku tidak tahu, harus mengeler-eler pertanyaan sendiri itu dengan alur logika yang bagaimana, kecuali aku sungguh terpengaruh celoteh Cak Nun (Emha Ainun Najib) untuk konteks itu; manusia tidak berhenti hanya menjadi manusia, kecuali ia tak bisa dinamakan manusia. Itu yang disebut dengan mahluk dinamis, berbeda dengan malaikat dan setan yang statis, mahluk kepastian. Malaikat itu mahluk statis. Meski dia diletakkan atau hadir di tempat pelacuran, tempat perjudian, tempat minum-minum, di malam hari, siang, sore, hari Jumat, Minggu, bulan Ramadan, Muharram, tetap baik yang dilakukan. Setan juga mahluk statis, meski dia hadir di masjid, di kuil, di gereja, di malam hari, di siang hari, hari Jumat, Minggu, bulan Ramadan, Muharram, tetap saja jelek yang dia lakukan.

Sementara, manusia, kita, ada di tengah-tengah mereka. Kita adalah “mahluk kemungkinan”. Kita memiliki pilihan. Kita memiliki dua kemungkinan untuk dipilih; menuju kebaikan atau menuju kejelekan dan kebrengsengkan. Jiwa kita mesti bekonflik antara mendapatkan bisikan maut setan atau ilham malaikat.

Apakah pada bulan Ramadan, di “rumah” Ramadan, kita tak lagi menjadi mahluk kemungkinan, aman bersinggah di dalamnya, terbebas dari bisikan maut para setan karena mereka sedang dibelenggu?

Sekali lagi, aku sungguh terpengaruh celoteh Cak Nun di atas. Ah, masih mending terpengaruh celotehnya ketimbang terpengaruh kebingungan. Memang, Cak Nun bukan syari’ yang celotehnya bisa digenggam sebagai pegangan hidup, namun siapa pun tak berhak intervensi (bahkan diriku sendiri) ketika kedalaman “rasa”ku terhujam oleh celotehnya itu. Sebab, “rasa” adalah sesuatu yang sangat pribadi.

Maka, Ramadan tetap hanyalah Ramadan dengan ke-khas-an yang tak dimiliki bulan lain; puasa di sepanjang siang, “siapa berpuasa berlandaskan keimanan dan mengharap baik, dosa yang telah lalu diampuni”, “setan di belenggu”, salat tarawih, Alquran dulu turun sekaligus dari al-lauh al-mahfudz ke bait al-‘izzah di bulan ini, ada “lailatul qadar” di bulan ini, dan seterusnya dan sebagainya (silakan tambahkan dengan kekayaan keilmuan Anda soal Ramadan). Ada juga citra khas Ramadan yang diduga tersirat dari isyarat-isyarat itu; “bulan suci”. Maka, orang-orang pun ramai latah sepakat dengan citra itu. Karena sumber citra itu berupa isyarat tersirat, maka penjelasannya pun beragam. Bagi sebagian kalangan, “kesucian” Ramadan dijelaskan dan diejawantahkan dengan razia gelandangan, pengemis, penertiban dan sapu bersih tempat “kotor”, para aktris kita coba tampil “lebih sopan” untuk menghormati kesuciannya, dan seterusnya dan sebagainya. Citra suci ini mesti diperjuangkan, dengan tangan pemerintah atau “keberanian” kelompok-kelompok partikelir, terkadang dengan marah-marah, sewenang-wenang dan ada pihak-pihak yang terzalimi.

Ramadan, dengan ke-khas-annya, tetap cuma Ramadan. Dan kita, manusia, juga tetap manusia. Ramadan dan kita tak memiliki hubungan otomatis saling mengikat. Ramadan, juga bulan-bulan lain, tak bisa menjadikan kita baik, sebagaimana tak bisa menjadikan kita brengsek. Tak ada jaminan paten. Kecuali jiwa kita sendiri yang merespon atau meyampakkannya. Dan jika ada yang dapat merasakan “ikatan spesial” dengannya, maka itu hanya soal kedalaman rasa yang sangat pribadi yang tak salah untuk dirasakan dan diekspresikan. Konon, Rasul menjadi lebih dermawan pada bulan ini.

Dan Ramadan itu kembali menyapa kita untuk kesekian ulang kali. Ada yang suka cita, ada yang “marah”, ada yang “ngeri” (biasanya sehari makan tiga kali), ada pula yang menggebu-gebu penuh kerinduan (tanpa menafikan “ada-ada yang” lain). Dan orang yang rindu biasanya adalah orang yang kehilangan atau terpisah jarak, dan ingin segera bertemu. Setelah bertemu, kangen-kangenan sedemikian rupa. Setelah sering-sering bertemu dan bersatu, kangen dan rindu menjadi biasa dan akhirnya tak lagi istimewa, atau malah sengak! Awwaluhu gairah menggebu, wa ausathuhu jadi biasa, wa akhiruhu mlempem! Persis jamaah salat tarawih di masjid-masjid kita; penuh sesak di awal Ramadan, longgar di pertengahan, dan tinggal satu, dua, tiga shaf saja di akhir-akhir Ramadan, shaf pertamanya adalah si imam. “Quasi-rindu”; kerinduan semu karena yang menjadi obyek rindu adalah lahiriah, “body”, ritual.

Jika Kau merindukan Ramadan, berarti selama ini Kau telah kehilangannya. Terlalu sibuk dan lelahkah Kau dengan ritual puasa yang selama ini berkali-kali berulang-ulang Kau kerjakan sampai melalaikan spiritnya, sehingga di usia seperempat abad ini Kau masih saja merasa kehilanganya, dan berkali-kali berulang-ulang pula Kau merindukannya?!

Kosong mlompongkah “rumah jiwa”mu dari spirit Ramadan, sehingga Kau masih saja merindukan kehadiranya, berharap Tuhan akan “mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu”, “membuka pintu-pintu surga, menutup pintu-pintu neraka, dan membelenggu setan-setanmu”, serta “iming-iming” ukhrawi lainnya, seperti anak kecil yang minta hadiah atas perbuatannya?! Kenapa pula harapan itu kau gantungkan cuma pada Ramadan, tidak di sepanjang zamanmu?! Lagi pula, lupakah Kau, nasihat Imam Ghazali yang bilang, puasamu saja masih shaum al-‘umum, puasa kelas rendahan, hanya menahan lapar dan haus belaka, cuma menggugurkan kewajiban, tanpa jiwa, tanpa rasa.

Jika Kau sungguh-sungguh berharap itu semua di sepanjang hidupmu, semayamkan dirimu dalam “rumah jiwa”mu yang telah terisi spirit Ramadan. Puasakan lahir dan batinmu dalam sepanjang hidupmu. Jangan Kau semayamkan dirimu dalam Ramadan. Sebab, ia datang dan pergi. Kebaikan dirimu dan “iming-iming” yang Kau harapakan pun akan datang dan pergi. Ya, meski itu sebenarnya masih mending ketimbang pergi dan berlalu.

Plak! Plak!!! Seperti ada yang menampar pipiku, kiri dan kanan. Yang kiri keras, yang kanan lebih keras.

Selamat datang Ramadan.

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with esei at Warung Nalar.

%d bloggers like this: