Sunah

2 June 2009 § 1 Comment


Siang dan malam silih berganti secara teratur.
Tak pernah ribut, tak saling rebut. Akur.
Siang segera maju saat malam telah undur.
Siang patuh pada terangnya.
Malam tak pernah mengeluh dengan kelamnya.
Bulan sungguh menawan saat berparas purnama di tengah hijriah,
terus melayang sampai kemudian tersisa setengah,
lalu menjadi sabit indah.
Beredar selalu seperti itu. Tak lelah.
Bintang-bintang berkelip bertaburan saat langit cerah.
Memancarkan cahaya memecah
kelam malam saat bulan menyembunyikan wajah.
Benih-benih yang ditebar para petani di ladang-ladang telah
muncul ke permukaan tanah,
perlahan akan tumbuh menjadi pohon yang rindang dan berbuah.
Menebar berkah.
Pergelaran nan indah dari alam yang tak pernah kalah,
kecuali oleh masa di mana ia harus musnah.
Kecuali oleh tangan-tangan penjarah.
Di tangan-tangan mereka, ranting-ranting patah.
Tak ada embun yang menetes membuat tanah basah.
Alam tak kalah, pada saat itu, tak pula musnah.
Ia hanya tak lagi mau ramah. Terselubung Amarah.
Embun tak lagi menetes, melainkan tumpah ruah,
memecah arwah-arwah.
Alam tak pernah salah.
Karena ia hanya tunduk pada sunah.

Kemang, 2 Juni 2009

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with langit at Warung Nalar.

%d bloggers like this: