Kembali Lagi
Wednesday, June 20, 2012 § Leave a Comment
Jika Anda meng-google frasa “kembali lagi”, di antara hasil yang Anda dapat adalah judul-judul berita media online ini: “Tren Wedges Kembali Lagi”, “Xiah Junsu ‘JYJ’ janji akan kembali lagi”, “Zanetti Ingin Kembali Lagi ke Indonesia”.
Di Kamus Besar Bahasa Indonesia, “kembali” berarti
- balik ke tempat atau ke keadaan semula;
- lagi;
- sekali lagi.
Jelas, “kembali” semakna dengan “lagi”. Sebagai kata kerja, “kembali” mempunyai makna “datang untuk kali kesekian”. Hadir lebih dari sekali. Maka, jelas pula, “kembali lagi” adalah « Read the rest of this entry »
Membuncah
Tuesday, January 31, 2012 § 1 Comment
Jika Anda mencari “membuncah” di internet, di antara hasil yang Anda temukan adalah kata itu ada di contoh-contoh kalimat judul berita/artikel ini: “Pakai Maxi Dress, Payudara Vanessa ‘Membuncah’”, “Keharuan Membuncah saat ABK Costa Concordia Bertemu Keluarga”, “Fantasi Seks Bikin Gairah Membuncah”, “Hasrat Islam Membuncah, Mualaf Muda Hafal 2 Juz Al Qur’an”.
Dari contoh-contoh itu, saya menebak Anda akan memahami kata itu dengan semakna: menyembul; tumpah; tercurah; “meledak” … atau seperti apa Anda membuat padanannya. Intinya, sesuatu yang membuncah adalah sesuatu yang tak tertampung dan tertahan oleh wadah, sebab sesuatu itu telah penuh (atau « Read the rest of this entry »
Laik dan Layak
Tuesday, August 16, 2011 § Leave a Comment
Dua kata bahasa Indonesia yang mempunyai dua arti berbeda secara spesifik, yang merupakan serapan dari satu kata bahasa Arab adalah “laik” dan “layak”. Asal keduanya dalam bahasa Arab adalah “lâ’iq” yang artinya “pantas”, “sesuai/cocok dengan”.
Dalam KBBI, ”laik” (adjektiva) artinya “memenuhi persyaratan yg ditentukan atau yg harus ada; patut; pantas; layak” dengan penggunaan spesifik seperti dalam contoh: “laik jalan” (memenuhi persyaratan yg ditentukan serta aman untuk dikendarai di jalan [tt truk, bus, mobil, dsb]), “laik laut” (memenuhi persyaratan yg ditentukan serta aman untuk berlayar di laut [tt kapal penumpang dsb]), “laik pakai” (memenuhi persyaratan yg ditentukan serta aman untuk « Read the rest of this entry »
ilahi atau Ilahi (i kecil atau I BESAR)?
Friday, August 5, 2011 § Leave a Comment
Mengoreksi naskah dan menemukan kalimat: … keduanya berjalan seiring, sejalan, dan serasi dalam jalinan Ilahi.
Fokus ke “Ilahi” … KBBI sudah benar dengan memberi dua arti untuk kata itu (sesuai dengan arti dari bahasa aslinya, bahasa Arab): 1) ”Tuhanku” (sebagai nomina), 2) ”mempunyai sifat-sifat Tuhan” (sebagai adverbia).
Dengan terlebih dahulu tahu ingin bermaksud menyatakan “ilahi” sebagai nomina atau adverbia, kita tahu dengan i kecil (ilahi) atau I BESAR (Ilahi) kita menuliskannya. “I” Besar (Ilahi) untuk nomina, artinya Tuhanku, Allahku. seperti dalam doa: Ilahi, anta maqsudi, waridaka mathlubi … Ilahi, Kaulah « Read the rest of this entry »
Asal-usul Ingkar-Mungkir
Monday, October 4, 2010 § 2 Comments
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),
- “Ingkar” dan “mungkir” dikategorikan verba.
- “Ingkar” diartikan “tidak menepati”, “tidak mau”. Dan “mungkir” diartikan “tidak mengaku(i)”,”tidak setia”, “tidak menepati (janji)”.
Verba atau Nomina?
“Ingkar” dan “mungkir” berasal dari bahasa arab: “inkâr” dan “munkir“. keduanya disebut ism (nomina), dan bukan fi‘l (verba). (Dalam bahasaArab, verba dari keduaya “ankara” dan “yunkiru”).
“Inkâr” dan “Munkir“
Dalam ilmu sharaf (ilmu tentang turunan kata dalam tata bahasa Arab), “inkâr” adalah ism mashdar atau kata sumber atau kata dasar, dan“munkir” adalah ism fa’il atau “pelaku”, “orang yang … “. Dalam kamus Arab-Indonesia « Read the rest of this entry »
Zaid Pukul Amr
Tuesday, February 17, 2009 § 1 Comment
Anda yang pernah nyantren, khususnya di pesantren yang melesatrikan tradisi pengajaran kitab kuning, pasti tahu “Zaid” dan “Amr”. Ya, keduanya adalah sosok fiktif paling dikenal karena paling banyak disebut, utamanya dalam kitab-kitab gramatikal Arab atau nahwu, sebagai obyek permisalan.
Siapa Zaid?
Zaid adalah satu-satunya nama sahabat Rasul yang disebut secara langsung oleh Alquran sebagai orang yang mendapat anugerah, tepatnya dalam surat al-Ahzab ayat 37: …falamma qadha “zaid” minha wathara…“Maka, ketika ‘Zaid’ telah menceraikan istrinya…” (dst.). “Zaid” yang dimaksud adalah “Zaid bin Haritsah”, salah seorang sahabat Rasul, yang dalam kisahnya, adalah orang yang menceraikan istrinya, bernama Zainab binti Jahsy, untuk kemudian dinikahi oleh Rasul, atas titah Allah. Zaid ini begitu mencintai Rasul, hingga ia disebut « Read the rest of this entry »